Selasa, 21 Juli 2009

Cerita Remaja Islam




Refleksi Cinta Remaja
Oleh : Wildan Rasyid
Siswa SMAN 3 Batusangkar




Keadilan Illahi

Sinar matahari yang cerah menerangi sekolahku yang tua. Dindingnya terbuat dari tembok cor. Bila hujan mudah jadi lembab dan sebahagian dindingnya sudah berlobang. Beberapa rumah disekitarnya terlihat bagus, tapi bangunan sekolahku tak seindah itu, tampak begitu menyedihkan.
Sekolah itu adalah sekolahku SD Negeri 04 Kubu Rajo, Lima Kaum. Namun semangat yang tinggi membuat aku dan beberapa teman melupakan hal yang demikian. Di sanalah kami memperoleh pengalaman belajar dari guru – guru yang berhati lembut, pintar dan penuh kasih saying. Mereka berharap agar kami berhasil kelak. “Kalian adalah tubuhku yang selalu tegar dalam kesulitan, Kalian adalah sayapku yang dapat terbang mencari ilmu pengetahuan, dan kalian adalah jantungku yang selalu berdetak kencang menuju kesuksesan.” Itulah kata-kata terakhir dari kepala sekolah saat menyampaikan pidato perpisahan kepada kami. Semua jadi tersentuh mendengar, beberapa teman yang yang berperasaan halus matanya berkaca-kaca dan meneteskan air mata. Kata-kata tersebut tidak akan terlupakan bagiku sampai dewasa kelak.
Selesai acara perpisahan saya pulang dengan ayah, namun di atas motor selalu terbayang suasana perpisahan diwarnai tangis perpisahan, canda, dan tawa, bersama guru dan teman-teman. Aku terdiam selama dibonceng ayah dan melihat aku terdiam ayah mengajakku pergi jalan- jalan. Mungkin agar aku bisa kembali tersenyum dan bersemangat. Secara berangsur-angsur aku mencoba melupakan suasana perpisahan, karena aku juga tidak mau berlarut dalam kesedihan.
Sampai di rumah, azan maghrib terdengar berkumandang. Aku bergegas untuk pergi ke mesjid. ”Ayah, Ibu, aku pergi ngaji dulu ya..!”,seruku sambil berlari keluar. Mengaji Alquran dilaksanakan selesai shalat. Kami berkumpul untuk memulai mengaji. ”Assalamu’alaikum…!”sahut pak ustadz memulai pembicaraan,”Hari ini kita tidak membaca Al –Quran, tapi ustadz akan memberikan kalian kata-kata nasehat,bagaimana ? ,setuju ?” tanya pak ustadz. Dengan serempak kami menjawab,”setuju pak!!!”. Pak ustadz pun memulai pembicaraan, kata demi kata disampaikan.


Namun terakhir pak ustadz berkata,”Kita harus yakin dengan ke Maha Adilan Allah kepada makhlukNya,karena Allah tidak akan memandang makhlukNya dari segi fisik, materi dan keturunan, tapi Allah hanya menilai hambaNya dari iman dan ketaqwaannya, dan hanya ridhaNyalah yang harus kita cari”, “mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan malam ini, berhubung hari sudah semakin gelap, saya akhiri pembelajaran kita pada hari ini dengan bersyukur, mengucapkankan AlhamduliIllahirabbil’alamiin” kata pak ustadz mengakiri pengajian.
Akupun pulang bersama dengan teman. Namun di tengah perjalanan aku teringat dengan kata terakhir pak ustadz tadi,”kalau Tuhan adil kenapa Ia menciptakan manusia itu berbeda – beda yaa? Tanyaku sendiri dalam hati. Tak lama kemudian aku melihat seorang gadis malang, yang sebaya denganku, kedua orang tuanya telah tiada. Ia tinggal dengan bibinya, kehidupan mereka sangat memprihatinkan ,yang paling mengharukan lagi ia buta,kedua matanya titak dapat melihat ,”Sungguh malang nasibmu sobat”kataku sambil memperhatikannya. Gadis itu berjalan dengan tongkat kecilnya, menuju mesjid untuk melaksanakan shalat,”Sungguh mulia dan tabahnya ia dalam menghadapi cobaan hidup ini.”pikirku sendiri. Perasaan bimbang tentang keadilan Tuhan mulai terasa lagi,” Kalau Tuhan adil kenapa Ia mengambil nikmatNya atas orang – orang yang beriman padaNya?” hatiku kacau, syetan mulai merasuki hatiku, ia selalu menggodaku, sampai aku tidur terlelap.
Hari baru datang, cuaca pagi sangat cerah, suasana sejuk dan menyegarkan pikiran. Setelah senam pagi aku duduk di beranda. Aku melihat sebuah pohon beringin besar di depan rumah, tiba-tiba pandanganku teralihkan pada buah semangka, dengan buah yang besar-besar bergelantungan. ”UUuups”sorak ayah mengagetkanku, “Sedang ngapain kamu? tanya ayah “nggak ada kok aku lagi duduk – duduk melihat pemandangan”jawabku sambil bergurau.” Ya udah ,oh iya nanti kamu mau nggak pergi ke sawah?” tanya ayah. “OK bos “jawabku sambil mengacungkan jempol. Kadang-kadang ayah dan aku seolah-olah berteman,ini strategi ayah dalam mendidik anaknya. Setelah jam dinding menunjukkan angka delapan aku dan ayah mempersiapkan bekal untuk ke sawah, sebab sawah kami berjarak 1 km dari rumah, setelah semuanya selesai kami memulai langkah dengan mengucapkan, ”bismiIllahirrahmanirrahim”.
Dalam perjalanan ke sawah, kami berhenti pada sebuah rumah bagus. Rumah itu milik Pak Syawal. Namun ia terkenal sebagai orang yang angkuh di kampung. Kabar dari mulut ke mulut mengatakan bahwa ia juga orang yang agak durhaka pada orang tuanya. Namun mengapa ia bisa menjadi orang terkaya di kampung, hartanya berlimpah, sahamnya ada dimana-mana. Melihat itu aku jadi penasaran dan kembali menanyakan tentang keadilan Tuhan, lalu aku menanyakannya pada ayah,”Ayah kenapa Pak Syawal orang yang durhaka pada orang tuanya, sehingga menyebabkan orang tuanya meninggal karena dia, dan dia jahat ,tetapi ia masih diberikan Allah harta yang berlimpah dan segala kecukupan lainnya?”,”Allah itu nggak adil ya yah..?”tanyaku lagi. Namun ayah tidak menjawab sedikitpun,ia malah senyum kepadaku,hal itu membuatku semakin ragu dan penuh penasaran, namun aku berusaha menyembunyikan perasaan penasaran dan melanjutkan perjalanan.
Setelah sampai di sawah kami melakukan pekerjaan, dengan gigih aku dan ayah mencangkul, aku sendiri dapat menyelesaikan 1 petak kecil, namun dalam hal mencangkul memang ayah paling jago, ayah sudah mencangkul dua petak sawah. Setelah agak lama mencangkul kami istirahat di bawah pohon beringin dengan batang yang besar dan rindang. Aku memandangi pohon itu, dan aku teringat dengan pohon semangka yang tumbuh di depan rumahku. Ada perbedaan kembali, ini membuatku kembali meragukan keadilan Tuhan, Penasaran…Penasaran itulah yang selalu terngiang dalam benakku,aku bertanya lagi pada ayah.
”Ayah kenapa Tuhan menciptakan pohon beringin yang besar ini, tetapi hanya memiliki buah yang kecil, sedangkan pohon semangka kita di rumah, pohonnya tidak sebesar ini tapi buahnya lebih besar dari ini, tuhan itu tidak adil ya yah!” tanyaku ingin mencari jawaban atas semuanya,tiba – tiba,”Ooops…,hati – hati kalau ngomong”,kata ayah membuatku terkejut,namun pada saat bersamaan jatuh buah beringin tepat mengenai kepalaku dan ayah berkata lagi,”Lihat itu”,sambil mengambil buah itu,” Seandainya pohon beringin yang besar ini juga memiliki buah yang besar pula, apa jadinya kamu? Mungkin kepalamu sudah hancur dibuatnya. Tadi ayah sengaja diam, agar kamu mengerti sendiri, namun agar kamu tidak salah pikiran biar ayah jelaskan” kata ayah, “Allah itu adil kepada makhlukNya, seandainya pohon besar itu buahnya juga besar, tentu kita akan sulit menggapainya, karena itu allah menciptakan pohon kecil dengan buah yang besar, agar kita mudah mendapatkannya. Begitu Allah Maha Adil terhadap ciptaanNya, Yakinlah nak…”Allah pasti selalu memberikan apa yang terbaik bagi kita, tapi kitalah yang tidak mau mensyukurinya,untuk itu kita wajib melihat keadilan Allah ,agar kita selalu berhusnuzan, berbaik sangka padaNya.” Mendengar penjelasan ayah, aku kaget dan merasa bersalah, karena aku telah berburuk sangka pada Allah, setelah sampai di rumah aku langsung shalat dan bertaubat pada allah,”Yaa Allah, maafkanlah hambaMu ini yang telah suuzan, berburuk sangka padaMu.
Kemudian,sore itu hatiku terasa reda, segala rasa penasaran sudah terjawab,.Tapi saat aku jalan – jalan sore, aku teringat dengan gadis buta yang malang. Orang memanggilnya Rina. Aku sudah yakin Allah Maha Adil, tapi aku masih ingin mendapatkan penjelasan darinya dan aku ingin tahu dengan keadaan yang sebenarnya.
Aku langsung menuju ke rumah Rina, setelah sampai di rumahnya, ”assalamu’alaikum”aku berseru memberi salam, ”wa’alaikumussalam” jawabnya sambil tersenyum lebar, Aku tak tahu ia senyum pada siapa, ”oh,maaf aku mengganggu mu Rin !”,”nggak apa-apa kok memangnya ada apa?” tanya Rina dengan ramah,”Begini aku seorang pemuda kecil yang sedang mencari tahu tentang keMaha Adilan Allah pada makhluknya, maaf ya…! Kalau aku mengganggu perasaanmu, apakah kamu merasa Allah itu berlaku Adil padamu?, dengan kondisi seperti ini?” tanya ku sambil merasa takut salah.
Namun Rina terdiam, seperti memikirkan sesuatu,namun tiba – tiba air matanya keluar membasahi wajahnya yang putih bersih itu,aku jadi merasa bersalah ,aku bingung dan mulai panik. Namun Rina tetap terdiam, kira-kira lima menit lamanya ia terdiam, tak bersuara dan bergerak. Tiba-tiba saat aku menundukkan kepala Rina mulai bersuara dengan suara yang mantap dan jarinya menunjuk tepat di dadaku ,”Kau salah sobat,kau tidak tahu keadilan Allah padaku…!”Aku terkejut setengah mati. Dari suasana hening, tiba-tiba ia menunjukku dengan jarinya dan bersuara memekik ke telingaku. Dan ia berkata lagi “jika aku tidak buta aku pasti tidak akan sanggup hidup di dunia ini. Kedua orang tuaku sudah tiada, ditambah kehidupanku yang miskin, sehingga dengan keadaan begini aku tidak akan merasakan kesusahan yang melanda . Aku tidak akan merasa iri dengan orang lain karena aku tidak melihat dia bahagia. Bagiku semuanya sama, sama gelapnya. Dan sekarang hanya ada satu penunjuk dalam hidupku, penerang setiap langkahku, yang memberikan pandangan syurga padaku. Sehingga orang – orang menganggap hidupku bagai di penjara. Tapi bagiku hidup seperti ini adalah Syurga yang indah, ia adalah cahaya Allah SWT. ”Mendengar kata - katanya, merinding semua bulu romaku, dan tanpa aku sadari air mataku pun menetes, membasahi pipiku.
Azan zuhur berkumandang, Rina menghapus air matanya, ”Maaf ya, aku harus ke mesjid, waktu shalat telah masuk”,”terima kasih banyak ya Rin !” kataku sambil menolong mengambilkan tongkatnya yang jatuh. “Terima kasih kembali” jawabnya kembali senyum dengan manis, “sungguh mulia dan tabah hatimu. Walau pun buta kau tetap bersemangat dan menyempatkan shalat berjamaah di mesjid ,hanya dengan modal tongkat kecil yang selalu kau bawa.”
Malampun datang tanpa diundang, tiba saatnya bagiku untuk belajar mengaji di mesjid,”ayah ..ibu.., aku pergi ke mesjid ya.., assalamu’alaikum!” seruku sambil berlarian ke mesjid,” setelah sampai di mesjid, ternyata tinggal aku yang belum datang, teman-teman menunggu kedatanganku.”Ohh…, maaf ya.., aku terlambat!” seruku dengan nada bersalah. Pengajian kemudian dimulai oleh pak ustadz.
Beberapa saat setelah itu, semuanya boleh pulang. Tapi aku sengaja menunggu pak ustadz. Ada yang ingin aku ceritakan pada pak ustadz,”begini pak ustadz” lalu aku ceritakanlah semua kejadian yang aku alami,lalu pak ustadz berkata,”Bagus, jadi kamu sekarang sudah yakin dan melihat keadilan Allah pada makhlukNya ya....! “ya pak ustadz jawabku.Dan pak ustadz malah memujiku,”kamu benar anak yang shaleh!”,”tidak pula begitu pak”jawabku berbasa basi. “Pak Ustadz hanya ingin berpesan satu hal sama kamu,”Mario teguh berkata, Apapun yang kamu pikirkan, apapun yang kamu rasakan,dan apapun yang kamu kerjakan, sempurnakanlah dengan do’a.” Hatiku sekarang benar – benar puas dengan jawaban atas semua pertanyaanku selama ini. sebelum tidur aku berdo’a , agar Allah selalu menjagaku dan melindungiku.”Aamiin”

******
Hari demi hari silih berganti, minggu demi minggu, dan seterusnya, tahun demi tahun bergulir maju, kehidupan berjalan begitu cepat. Sekarang aku telah tumbuh remaja,siap mencari jati diri dantujuan hidup yang sebenarnya. Banyak orang salah langkah , hingga ia tersesat dalam pergaulan bebas, apalagi pengaruh teman .Banyak orang yang meniru kehidupan orang-orang yang telah populer. Sebagian tidak sesuai dengan kehidupannya. kehidupan remaja ini adalah ibarat antara syurga dan neraka. Siapa yang tidak dapat melewatinya dengan baik ,maka ia akan jatuh kelembah kehinaan yaitu neraka.
“Yah, walaupun aku sudah tumbuh remaja, aku ingin ayah dan ibu selalu membimbing dan menasehatiku, agar aku tidak terbawa oleh arus kenistaan, ya yah…!“ ”Tentu anakku” kata ayah sambil merangkulku. “Assalaamu’alaikum” terdengar ucapan dari luar. Aku bergegas keluar dan melihat paman, adik ayah, menggiring seekor kerbau yang baru berumur satu tahun. Ternyata paman berniat menyerahkan kerbaunya pada ayah, aku senang memiliki kerbau, yang bisa membantuku membajak sawah. Keesokan harinya, ayah ingin membajak sawah dengan kerbau baru, pemberian paman padanya. Tapi ia harus pergi, ada pekerjaan kantoran yang harus ia selesaikan. Untuk itu, ayah mempercayai pengolahan sawah kepada Pak Salim, selama ia tidak ada di rumah, karena ia harus pergi ke luar kota. Pak Salim adalah tetanggaku yang agak konyol, lucu, culun, yaa… rada-rada idiot begitu ! Tapi ia orangnya jujur dan amanah, sehingga orang banyak yang mempercayai sawah dan ternaknya pada pak Salim.
Kemudian aku dan pak Salim pun pergi ke sawah, dengan mengiring kerbau pemberian paman itu. Namun di tengah perjalanan, kami bertemu dengan anak-anak baru gede (ABG) yang lagi berkumpul, lalu terdengar bisikan kecil dari salah seorang mereka,”Ayah dan anak itu sama bodohnya ya..!, kerbaunya ada, tapi tidak ditunggangi, mereka rela berjalan, ha..haa, bodohnya mereka..!” kata anak itu sambil menunjuk kearah kami, tapi aku dan pak Salim tak memikirkan itu. Setelah sampai di sawah kami mulai membajak. Menjelang pekerjaan selesai, pak Salim berkata, ”Nak, pulang nanti kamu yang tunggangi kerbau itu ya, agar anak-anak itu tidak mengolok-olokan kita lagi”. Akhirnya kami pulang. Aku menunggangi kerbau, sedangkan pak Salim berjalan disampingku. Saat tiba ditempat yang sama, ada seorang ibu bersama temannya, melihat kearah kami dan ia berkata ,”hai teman-teman, lihat anaknya itu, orang tuanya dibiarkan berjalan sedangkan ia enak–enakan duduk di pundak kerbaunya, dasar anak durhaka..!”, aku mau marah tapi pak Salim menyabarkanku. Setelah sampai di rumah aku berkata pada pak Salim,”Sebaiknya bapak yang tunggangi kerbau, biarlah aku yang berjalan, aku nggak mau lagi dibilang anak durhaka, sama ibu kemaren”, ”baiklah” jawab pak Salim.
Keesokan harinya kami bermaksud lagi ke sawah untuk menaburkan benih yang telah disiapkan pak Salim, dan rencana kemaren tetap kami laksanakan, agar olok-olokan orang itu hilang pada kami. Pak Salim yang menunggangi kerbau, sedangkan aku berjalan di sampingnya. Setelah sampai di depan rumah pak Syawal, dan ia berkata,”Salim .!, anak itu telah lelah berjalan, sedangkan kamu malah enak-enakan duduk di atas punggung kerbau itu, Salim..,Salim...!” ejeknya sambil menggelengkan kepala dengan rambut yang sedikit botak. Namun kami tidak menghiraukan perkataan pak Syawal, kami tetap melanjutkan perjalanan. Setelah tiba di sawah, pak Salim kelihatan lesu, dan tampak memikirkan sesuatu, ”kenapa pak, kok termenung, apa yang bapak pikirkan?”,tanyaku sambil keheranan. Tapi pak Salim tidak mendengarkanku, lalu…”oh iya, bapak masih punya cara satu lagi untuk mengatasi mereka, agar kita tidak dicaci dan diolok-olokan terus sama mereka” kata pak Salim yang membuatku kaget,”apa itu pak?” tanyaku ,”begini, yang pertama, tidak seorang dari kita yang menunggangi kerbau, tapi kita dibilang bodoh, yang kedua kamu yang menunggangi, lalu dikatakan anak durhaka, yang ketiga bapak yang tunggangi, namun pak Syawal mengejek bapak. Tinggal satu jalan lagi, kita tunggangi kerbau kita berdua, pasti ini berhasil” kata pak Salim dengan percaya dirinya. Aku tidak yakin, tapi untuk menghargainya, aku mau saja. Setelah sore datang, kami pulang dengan taktik pak Salim yang baru “katanya sih !”. Setelah sampai di depan warung kopi, terlihat orang lagi ramai dalam rumahnya, aku mengira ada acara arisan pemuda, tapi ketika kami lewat semua mata mereka terpana melihat kami, pak Salim yakin orang – orang itu bingung, mau menyalahinya apalagi, pak Salim merasa menang..! setelah kami lewat, mereka semua tertawa,”ha…haa…., kerbau kecil itu ditunggangi berdua, dasar…! anak itu dan Salim sama kejamnya, tak tahu belas kasihan. Wajah pak Salim yang percaya diri tadi, berubah jadi merah malu tidak kepayang.
Setelah sampai di rumah, ternyata kami melihat ayah telah pulang. “Kapan ayah pulang?” tanyaku, ”Tadi siang” jawab ayah. Lalu pak Salim menceritakan kepada ayah semua kejadian yang ia alami denganku, selama ayah pergi. Mendengar cerita itu, ayah tertawa terbahak-bahak,”ha..haa…!”. Aku dan pak Salim hanya diam dan merasa malu, aku merasa ini konyol, tapi kalau aku mengingat-ingatnya aku juga tertawa sendiri dibuatnya. Ini menjadi pengalaman yang menarik bagiku dengan pak Salim, yang culun dan lugu, sekaligus pengalaman yang paling konyol. ”ha..ha... pak Salim , pak Salim!!!“. Setelah suasana kembali hening, lalu ayah berkata,
” Pak Salim, Ada hikmah dan pelajaran yang dapat saya ambil, mendengar cerita bapak tadi, bahwa Kita tidak akan mudah mendapatkan ridha atau kata sepakat dari manusia, karena manusia itu memiliki sifat yang berbeda dan jumlah yang banyak .Beda manusianya, pasti beda pula perangainya, sehingga manusia itu memiliki pandangan yang berbeda pula. Tapi Allah Maha Esa, Maha Mulia, Maha segalanya, pandangannya hanya pada iman dan ketaqwaan hambanya.”
Jadi dapat kita simpulkan “Lebih mudah mencari ridha Allah dari pada mencari ridha dari manusia, Untuk itu marilah kita selalu berbuat dan bertingkah hanya untuk mencari keridhaan Allah semata.” Ulas ayah pada kami. Lalu aku termenung sendiri, “ Betul juga kata ayah tadi, aku dan pak Salim hanya berusaha agar orang-orang tidak lagi mengolok-olokkan kami, berbagai cara kami lakukan, agar dipandang baik oleh mereka, walaupun itu konyol.. Tapi kami lupa melakukan apa yang terbaik bagi Allah. Sekarang saya telah mengerti, bahwa kesalahan orang sekarang itu adalah “Hanya ingin dipandang baik dimata manusia, dimana ridhanya manusia itu tidak akan pernah ia dapatkan, ketimbang dipandang baik dihadapan Allah, Yang ridhaNya lebih mudah untuk didapatkan.”



******


. Sahabat, Jangan Kecewa Denganku

Bersekolah di SMP paling favorit adalah keinginan setiap anak sekolah. Begitu pula dengan aku. Walau aku berasal dari keluarga sederhana, namu semangatku dalam belajar tidak pernah kendor. Bagiku dorongan dan dukungan orang tua sungguh sangat berpengaruh dalam menggapai cita-cita. Orang tualah motivator paling hebat dalam hidupku.
Setiap kali aku mengambil keputusan untuk masa depan selalu aku mengikutsertakannya. Banyak pesan-pesan dan kata nasehatnya yang terukir indah dalam kepalaku, ”Kamu akan jadi orang yang Besar, jika kehadiranmu dapat memberi manfaat bagi orang lain disekitarmu”,”keberhasilanmu adalah buah dari anak perjuanganmu. Begitu pesannya kepadaku. Hal itu membuat aku bertambah semangat dalam menghadapi hidup ini, agar meraih kesuksesan yang didambakan oleh setiap anak. Untuk itu aku memilih sekolah yang terfavorit dan yang terbagus kualitas dan mutu pendidikannya. Pilihanku jatuh pada SMP Negeri 5 Batusangkar, yang merupakan sekolah unggulan di kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Banyak anak yang telah meraih prestasi di sekolah ini, baik tingkat kabupaten, Provinsi, maupun Nasional. Sehingga sekolah ini sangat populer di mata anak didik dan tenaga pengajar, dalam bidang ilmu pengatahuan. Aku mendaftar di sana, semua persyaratannya telahku lengkapi, berbagai ujian pengetahuan dasar dan kemampuan telahku ikuti.
Akhirnya keluar tentang pengumuman penerimaan siswa baru. Jantungku terasa berdetak kencang membuat wajahku merah penuh dengan kecemasan. Lalu aku memberanikan diri untuk melihat pengumuman yang terpampang di papan pengumuman, ”Alhamdulillah, aku diterima” sorakku kegirangan. Orang-orang melihat aneh kepadaku, Aku menjadi malu. Tapi aku sangat senang. Kemudian aku bergegas pulang untuk memberi tahu pada ayah dan ibu. “Assalamu’alaikum,” seruku keriangan, aku langsung masuk. “Ayah, aku diterima di SMP 5 !”
“Alhamdulillah” selamat ya , Nak !, kerja kerasmu membuat Tuhan mengabulkan do’amu. Kemudian nenek datang,”Assalamu’alaikum! Ada apa nih ribut-ribut? “Tanya nenek. “Nek, aku diterima di SMP 5”jawabku.”
“Apa itu SMP 5 …?” Tanya nenek. “Itu SMP program unggulan” jawabku. “ O…, begitu. Selamat ya, Nak!” kata nenek sambil memelukku.
Beberapa hari setelah pengumuman, para siswa yang telah diterima, harus melaksanakan MOS (Masa Orientasi Sekolah). Pengumuman masalah kegiatan itu disampaikan oleh kakak-kakak panitia MOS,”Baiklah, langsung saja! Dalam kegiatan MOS nanti,adik-adik harus membawa atribut MOSnya, yaitu :helem dari pot bunga, tas dari karung goni, nama gelar yang dibuat dari karton, kemudian kalung dari petai, serta kompeng bayi yang digantung diikat dengan tali rafia. Semua itu harus dipakai selama kegiatan MOS dilaksanakan. “ kata Kak Usmant menjelaskan. Ia menjabat sebagai ketua pelaksana MOS.
Besok harinya kegiatan MOS dimulai, pagi itu kami diwajibkan datang tepat waktu pukul 7.00 WIB. Barisan disiapkan oleh kak Jeri yang gemuk,dengan wajah yang garang, “Siiaaaap Grattt….!”Teriaknya dengan keras. Tiba-tiba datang seorang temanku dengan helemnya yang penuh gaya, masuk barisan. “Hei... , Kesini kamu!” kata kak Yayat memanggilnya. “Kenapa kamu telat?”, “Macet jalan di rumahmu?” ejek kak Yayat.”Nggak kak, aku bangun kesiangan kak!” jawabnya dengan rasa bersalah. “Ngapain kamu semalaman, begadang ya..!” . “Ia ngepet tu kak…!” sambung salah seorang temanku yang nakal, “ha..ha..” sorak anak yang lain menertawakannya.” Dengan sedikit tertawa,kak jeri memanggilnya,”hei kamu maju ke depan “,”apa yang kamu bilang? Kenapa kamu tahu dia ngepet, jangan-jangan kamu juga ikutan ngepet sama dia ” kata kak jeri. Anak-anak yang lain tambah bersorakan. “sekarang kamu push up 10, cepat..” kata kak jeri menghukumnya.”ya kak”, jawabnya langsung melaksanakan hukuman. Kemudian ketua OSIS berkata : “Kalian tahu nggak sekolah disini unutk apa? Kalian dididik agar menjadi orang yang pintar dan berakhlak mulia, karena itulah Motto sekolah kita itu JURDISBERNAL, Jujur, disiplin, bertanggung jawab dan professional. Apakah kalian mengerti, Mengerti…. Sorak kak Fajri, ketua OSIS lebih keras.
Setelah aku mengikuti kegiatan rutinitas sekolah, aku merasa bersyukur dapat bersekolah di sini. Banyak yang menjadi kebisaaan di sekolah ini, yang tak aku temui di sekolah lain. Seperti shalat dhuha, tahfiz, lantunan ayat suci Al-qur’an dan Asmaul husna sebelum PBM di mulai dan shalat zuhur berjama’ah. Segala kebisaaan itu harus diikuti oleh semua siswa, oleh karena itu kedisplinan sangat dituntut, walaupun harus dengan cara agak keras, tapi bagiku itu semua mendidik. Aku ingat nasehat nenek,” Setiap pembangunan rumah yang indah didasari oleh pondasi yang kuat, untuk membuatnya kuat, maka di butuhkanlah semangat dan kerja yang keras dari pembuatnya, walaupun harus menggunakan besi yang tajam untuk memadatkannya” maksudnya, Setiap keberhasilan pasti memiliki ilmu dasar yang kokoh, walaupun itu didapatkan dari kekerasan yang memerlukan semangat dan perjuangan yang melelahkan, karena keberhasilan itu tidak akan datang dengan sendirinya.
Hari ini adalah hari terakhir kegiatan MOS. Kakak panitia mengajak kami untuk berjalan mengililingi kota Batusangkar. Tapi sebelumnya seperti bisaa, kak Jeri menyiapkan barisan. Kemudian setelah barisan rapi, kamipun berjalan dengan tertib. Aku berjalan di barisan terakhir dengan Riko temanku. Dan di belakang kami, ada kak Fajri dan kak Jeri. Di perjalanan kami melihat pemandangan yang indah, ditambah lagi cuaca yang cerah menyejukkan hati. Banyak warga yang melihat kami, kamipun menyapanya dengan ramah. Namun setelah lama berjalan, banyak diantara kami yang kelelahan. Kak Fajri dan kak Jeri yang awalnya ada di belakangku, sekarang tidak ada lagi. Mereka sudah duluan di depan.
Ada seorang anak perempuan yang berjalan di depanku, aku tidak mengenalinya. Ketika terus berjalan, tiba-tiba ia berhenti dan membuat aku berhenti juga, lalu ia rebah. Dengan gerak reflek aku memegangnya dan memapahnya untuk ketepi, aku dibantu oleh Riko dan seorang teman perempuan itu.”Kepalaku pusing” kata anak perempuan itu dengan pelan. Tapi anak yang lain terus berjalan meninggalkan kami.
Aku bergegas mencari air minum,”Ini silahkan minum” kataku sambil memberikannya, “Terima kasih ya…!” katanya dengan senyum yang dipaksakan padaku. “Kalian teruskan saja berjalan, nanti kalian terlambat dan kena marah oleh kakak panitia!” Katanya lagi menyuruh kami meninggalkannya. “Iya..ya…betul juga apa yang dikatakannya” kata Riko sambil mengajakku untuk pergi. “Ko, nggak boleh seperti itu, kita tidak boleh meninggalkannya sendirian disini apalagi dengan kondisinya yang sakit seperti ini” kataku membantah Riko. “Ahh..terserah kamu saja, aku pergi dulu ya..!” lalu Riko meninggalkan kami. Lalu anak perempuan itu menyuruh kami lagi untuk meninggalkannya,” Kalian pergi saja, aku nggak apa-apa kok! “ tambahnya ” Benar kamu nggak apa-apa ? “Tanyaku lagi meyakinkannya. “ Benar kok, aku nggak apa- apa, paling lelah sedikit, nanti aku pasti menyusul.” Katanya mencoba meyakinkanku. Kemudian kami meninggalkannya sendirian, walau aku agak ragu dengan keputusannya itu, melihat wajahnya yang putih, semakin pucat. Namun karena desakannya terpaksa kami mengikuti perkataannya.
Aku dan teman perempuannya itu berlari mengejar teman-teman yang telah duluan di depan. Tapi aku mendengar dia dari kejauhan merintih kesakitan. Tanpa pikir panjang aku kembali berlari sendirian ke arahnya. Ternyata dugaanku benar, ia tidak lelah saja, tapi ia sedang sakit. Lalu aku membawanya ke puskesmas, yang kebetulan dekat dari sana. Setelah sampai, aku pun menemaninya selama diperiksa dokter, kemudian ia diberi obat. Setelah keluar tampaknya ia sudah agak ringan.
Ketika kami mau pergi, aku melihat salah seorang guru lewat di depan puskesmas itu, lalu aku memanggilnya dan meminta ia untuk mengantarkan anak perempuan itu ke sekolah. Setelah itu berlari sendirian menuju sekolah. “Aku harus cepat, nanti aku dimarahi oelh kakak-kakak panitia MOS”,pikirku dalam hati. Kemudian aku berlarian dengan kencang, namun di perjalanan aku baru ingat,” Oh iya…siapa ya nama anak perempuan tadi! “kataku dalam hati. Setelah sampai di sekolah ternyata aku betul-betul terlambat, teman-teman yang lain telah mengikuti materi ajar yang disampaikan oleh Pak guru. Karena aku telat sangat lama, aku dihukum berat oleh kakak-kakak panitia, mendapat hukuman mengelilingi lapangan upacara dengan jongkok.
Aku tidak mengerti mengapa hatiku terasa senang saja, sehingga aku melakukannya dengan semangat dan gembira,”Sudah kak”, kataku memanggil. Ternyata kakak itu tampak menguji fisikku, melihat aku bersemangat menjalani hukumannya. “Masih ada satu hukuman lagi buat kamu, push up minimal 30 kali!” katanya dengan tidak yakin menyuruhku. Lalu aku melakukannya, ketika aku push up, aku melihat anak perempuan tadi menoleh kepadaku, dan ia tersenyum padaku, seolah-olah memberiku semangat.
Aku jadi bertambah semangat. Dan alhamdulillah, aku dapat melakukannya sampai 50 kali. Kakak itu terkejut melihatku, akupun yakin, dia sendiri tidak sanggup melakukannya apalagi badannya gendut seperti itu.” Kalau kak jeri push up mungkin sulit menaikannya lagi, ha..ha…” pikirku dalam hati. Setelah selesai, aku pun tertawa sendiri dibuatnya,” Hai katarak” kata kak Jeri mengagetkanku dengan memanggil nama gelarku. “Kamu gilanya , senyum-senyum sendiri, kesambet dimana?” tambahnya mengejekku. Aku hanya diam, sambil menahan tawaku.
“Alhamdulillah, hari ini acara MOS telah berakhir, penderitaanku telah selesai” kata seorang temanku yang sering dimarahi kakak panitia atas kenakalannya. Pembagian lokal ditentukan oleh guru. Dan ternyata aku masuk di lokal VII.2 . Awal pertemuan kami sedikit canggung dengan kondisi dan suasana belajar yang baru. Tapi lama kelamaan kami merasa betah belajar disana, apalagi muridnya yang pintar-pintar dan guru-guru yang professional. Membuat aku bertambah semangat untuk belajar.
Pada suatu hari setelah pulang sekolah aku dipanggila oleh seorang anak perempuan,”Oh, ternyata anak perempuan itu!”kataku sambil berjalan ke arahnya. “Terima kasih ya…,kamu telah menolongku kemaren nih, maaf ya aku telat mengucapinnya! Oh..ya Maaf juga gara-gara aku, kamu telat dan dihukum oleh kakak panitia, sekali lagi maaf ya…!” ucapnya padaku. ”nggak apa-apa kok! Tapi sekarang kamu sudah sehatkan? “ . “Alhamdulillah, sudah…!” . “Syukurlah kalau gitu…”. Kemudian ia mengulurkan tangannya, sambil menyebutkan namanya,” Namaku Resa”katanya, kemudian aku pun membalasnya. “Boleh nggak aku tahu, kenapa kamu mau menolongku? padahal waktu itu temanmu sendiri meninggalkanmu, karena ia takut telat dan kena hukuman, tapi kamu malah menolongku dan membawaku ke rumah sakit, sebelumnya kitakan belum kenal?” Tanya dia padaku. ”Bagiku, keselamatanmu lebih penting, dari pada mengilakkan hukuman itu, walaupun aku tidak mengenalmu. Dan aku tidak tega saja meninggalkan seorang anak perempuan yang sedang sakit sendirian.” Sekali lagi, terima kasih ya…!, kau memang anak yang baik” katanya padaku. “Ya sama-sama” jawabku. “Jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah terkapar sendirian disana!” tambahnya . “Berterima kasihlah pada Allah, karena Dialah yang menggerakkan hatiku untuk menolongmu”. “Kau sungguh anak yang mulia, aku harap kamu mau jadi temanku”. katanya sambil tersenyum padaku. “tentu saja” jawabku lagi.
Sejak pertemuan itu aku semakin akrab dengannya dan akupun bersahabat dengannya. Walaupun kami tidak satu lokal, kami sering belajar bersama, sehingga banyak pelajaran yang aku belum pelajari di kelas, telah aku pelajari dari Resa, begitu juga sebaliknya dengan dia. Kami saling membantu, jika aku tak dapat mengerjakan soal yang diberikan guru, aku selalu menanyakan padanya, begitu juga dengannya. Resa lebih pintar di mata pelajaran matematika, sedangkan aku di biologi. Jika ada ujian kami selalu belajar bersama, agar mendapatkan hasil yang baik. Sehingga tak jarang kami bergantian menjadi juara umum di sekolah.
Resa sering memberikan pelajaran agama padaku. Kata-kata nasehat yang ia sampaikan dengan rangkaian kata yang indah, membuat aku semangat mengerjakannya. Tapi akupun tidak jarang membagi ilmu yang aku dapatkan kepadanya. Kami selalu mengerjakannya bersama, nasehat-menasehati itulah intinya. Sehingga banyak teman-teman yang iri pada kami, dan tak jarang mereka mengejek kami,” Persahabatan bagai kepompong” katanya dengan bercanda. Resa anak yang pintar, baik, ramah dan peduli terhadap orang lain. Pernah suatu ketika ia tidak berbelanja di kantin, kemudian aku bertanya padanya,”Kenapa kamu tidak berbelanja?”, “aku lagi puasa!” jawabnya singkat. Dan ternyata ia tidak berbelanja, karena uang jajannya di berikan kepada temannya yang sejak malam tadi belum makan, karena tak ada uang. Dia telah mendustaiku, tapi aku tahu, dia melakukannya dengan maksud yang baik. Resa memang anak yang baik. Aku merasa beruntung sekali memiliki sahabat seperti dia.
Hari demi hari kami lalui bersama, beiringan dengan bertambahnya usia, menuju masa remaja. Masa pubertas membuat aku lebih berhati-hati bergaul, apalagi dengan lawan jenis. Pencarian jati diri telah di mulai. Dimasa ini banyak orang yang berobah sangat draktis, menjadi lebih baik, maupun berobah kearah yang buruk. Karena di masa ini anak remaja berada di kondisi pikiran yang labil, rapuh dan mudah terombang ambing oleh godaan pergaulan yang membingungkan.
Aku harus bisa mengantisipasinya dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Setiap shalat aku selalu berdo’a,” Ya.. Allah, lindungi aku dari segala marabahaya dan dari godaan dunia yang menyesatkan !” Aamiin. Pada masa ini yang namanya “Cinta” sangat mempengaruhi psikologi setiap anak. Hal itu tidak dapat dihindari, setiap anak normal pasti merasakannya, dan itu akan mempengaruhi pola pikir anak. Tergantung kita menanggapinya. Jika kita menghiasnya dengan baik, maka baiklah kehidupan yang dilaluinya. Tapi jika jelek hiasannya, maka kehidupannya akan jadi berantakan, tak tahu arah dan tujuan.
Di sekolah Resa termasuk perempuan yang disukai oleh para lelaki, banyak teman-temanku yang menyukainya. Wajah yang cantik, sikap yang baik, lembut, dan ramah serta kepeduliannya terhadap sesama, membuat ia dikenal baik oleh teman-teman. Tapi semuanya ia tolak dengan baik. Aku tak tahu kenapa, padahal anak-anak yang menyukainya itu, anak-anak orang kaya dan menjadi idam-idaman anak-anak perempuan di sekolah. Setelah pulang sekolah , dari kejauhan terdengar suara Resa memanggilku, “Ada apa Sa? “ tanyaku, “aku ingin ngomongin sesuatu padamu, bisa nggak kita ngomong sebentar?” Tanya dia padaku. Tak bisaanya ia bersikap demikian. Bisaanya kalau ada perlu, ia langsung menepuk pundakku, dan tersenyum sambil bercanda kemudian langsung ngomong. Tapi saat ini ia tampak berbeda, ia agak kaku dan kayaknya mau membicarakan hal yang serius.
Dalam kebingungan aku dibawanya ke kantin. Setelah sampai aku pun kembali bertanya,”ada apa Sa!” tanyaku sambil bercanda. Tapi ia tidak merespon candaku,” Aku ingin mengatakan yang sebenarnya!, tapi aku takut kamu marah dan meninggalkanku” katanya menambah keraguan dalam hatiku. “Baik aku janji, kalau kamu jujur, aku tidak akan marah” jawabku agar ia mengatakan yang sebenarnya. “Sebenarnya…,sebenarnya…!” katanya dengan terbata-bata. Aku yang tadinya heran, malah tambah penasaran.
Dengan sabar aku kembali bertanya,” Resa…sebenarnya ada apa?” tanyaku dengan lembut. Karena dia hanya diam, aku mengambilkannya segelas air. Kemudian ia baru berbicara lagi,”Sebenarnya, Aku mencintaimu ! karena itu aku menolak semuanya, hanya demi kami” katanya dengan menatap tajam mataku. Aku jadi kaget, selama ini aku tidak menyadari hal itu. Kemudian ia memberiku pilihan, “Jika kamu juga mencintaiku, maka peganglah tanganku ini, tapi kalau kamu tidak mencintaiku, maka ambillah boneka beruang ini” katanya sambil mengeluarkan sebuah boneka dari tasnya. “Sungguh, aku jadi bingung” kataku padanya. “Maaf ya Sa, selama ini aku sungguh menganggapmu hanya sebagai sahabat, yang baik dan perhatian. Tapi saat ini aku telah jatuh cinta pada teman sekelasku yang bernama Mawar.
Dengan terpaksa aku mengambil boneka yang di hadapkannya padaku. “Maaf ya…Sa, aku lebih senang bersahabat denganmu!” kataku sambil mengulurkan tanganku. Tapi ia malah meninggalkanku, ia berlari sambil menangis. Aku sangat merasa bersalah, tapi bagaimana lagi,. Aku tak mau menyakiti hatinya nanti. Itu akan lebih menyakitkannya. “Ya…Allah ampunilah dosaku, yang telah membuat ia patah hati”
Keesokan harinya, aku dan Resa agak berjauhan. Tapi lama-kelamaan ia pun melupakan kejadin itu, kami kembali seperti semula. Ia kembali menerimaku sebagai sahabatnya. Malah ia memberiku semangat untuk mendekati Mawar. Ia memberiku arahan dan pandangan untuk mendapatkan hatinya mawar. Beberapa hari kemudian, aku bermaksud mengutarakan perasaanku pada Mawar. sebenarnya aku agak malu, karena ia adalah anak orang kaya, sedangkan aku hanya dari keluarga yang sederhana. Tapi Resa selalu mensuportku,” Jika ia mencintaimu dengan ikhlas, pasti ia takkan memandang harta dan materimu!” katanya memberi arahan padaku. Kata-kata Resa memberiku semangat untuk mengungkapkan perasaanku pada Mawar. Dan Alhamdulilah Mawar menerimaku. Sejak itu, aku jalan dengan Mawar. Kami sering pulang bersama, dan bercanda bersama.
Sejak aku jalan dengannya, aku merasa ada yang kurang dalam hidupku, aku tidak tahu kenapa. Memang apa yang ku inginkan telah kudapatkan. Tapi aku merasa kehilangan suatu mutiara yang sangat berharga dalam hidupku. Setelah berapa lama, aku baru menyadari bahwa aku kehilangan Resa sejak aku bersama Mawar. Aku bertanya-tanya sendiri,”Apakah mutiara itu sebenarnya adalah Resa?”,”Ya Allah, Ampunilah aku yang telah melupakan orang yang sangat berharga dalam hidupku”. Tak lama setelah itu Mawar menelponku, agar menjemputnya di rumah temannya. Lalu aku pergi dengan sepeda tuaku. Setelah sampai di rumahnya, Apa yang aku dapatkan. Aku dihina oleh teman-teman Mawar. Dan yang membuat aku marah lagi, Mawar juga ikut menghinaku. Sungguh aku jadi malu dan tak menyangka Mawar seperti itu. Akhirnya kami pun putus.
Esok paginya aku mencari Resa, aku bermaksud memberitahunya tentang hubunganku dengan Mawar. Tapi aku tidak melihatnya di sekolah , aku bertanya-tanya pada teman-temannya, tapi mereka hanya mengatakan bahwa Resa tidak masuk sekolah sejak kemaren. Aku menjadi panik. tidak tahu kenapa, aku sangat merasa kehilangan jika tidak bertemu dengan Resa, dibandingkan kehilangan Mawar, orang yang aku cintai sendiri.
Setelah pulang sekolah aku langsung menuju rumah Resa,”assalamu’alaikum” seruku. “wa’alaikum salam” jawab Resa sambil membukakan pintu.”Ohh.. kamu, silakan masuk !”Kata Resa lagi. Ketika di dalam rumah, ternyata disana telah ada teman Resa yang menemaninya. Lalu aku menceritakan semua kelakuan Mawar pada Resa,”Sa, Mawar tu memang anak yang sombong, yang hanya menilai orang dari harta dan materi” kataku dengan nada marah. Tapi Resa kurang merespon, ia hanya bilang,”Iya..ya..!”. Setelah berapa lama berbicara, aku merasa kurang ditanggapi oleh Resa. Tapi aku hanya berfikir baik,”mungkin ia sedang sakit, dan harus banyak istirahat, karena itu ia tidak masuk sekolah “ pikirku dalam hati. Kemudian aku berpamitan untuk pulang, “Aku pulang dulu ya, Sa! Semoga kamu cepat sembuh ya…,Assalamu’alaikum “ kataku sambil berjalan keluar. “Wa’alaikum salam” jawabnya dengan nada lemah.
Setelah tiba di rumah, aku selalu mengingat Resa, disetiap langkahku, aku mengingat kenangan yang kami ukir berdua. Sebelum tidur pun wajah Resa terus terbayang bagiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan diriku sendiri. Disaat Resa ada hatiku terasa senang, membuat hidupku jadi bersemangat. Sepertinya ada kekuatan baru dalam diriku, ketika aku melihat senyumnya. Tapi perlahan-lahan aku mencoba melupakannya, walau itu terasa sulit. Aku pun tertidur lelap. Namun aku bermimpi, bahwa Resa akan pergi dan meninggalkanku. Dalam mimpi itu aku berusaha memanggil dan mengejarnya,”Resa….” Teriakku membuat aku terbangun.
Mendengar teriakanku, ibu jadi bangun dan melihat aku di kamar,” Kamu kenapa?” Tanya ibu padaku. Lalu aku menceritakan semua yang terjadi dan yang aku rasakan. Kemudian ibu berkata,” Sekarang kamu sedang jatuh cinta! “ kata ibu setelah mendengarkan semua ceritaku. “Apakah benar aku mencintai Resa bu? “tanyaku pada ibu. “Oh… Namanya Resa yaa!” sahut ibu. “Dialah anak yang sebetulnya kamu cintai, tapi kamu tidak menyadarinya. Sikap keduniawianmu telah membutakan mata hatimu sendiri. Sehingga kamu merasa cinta kepada orang yang kamu tidak tahu bagaimana dirinya yang sebenarnya.
Kamu telah menyia-nyiakan cinta orang yang tulus kepadamu, Nak!” , “Temuilah ia besok dan katakanlah yang kamu rasakan sebenarnya pada dia, jangan kau dustai hati nuranimu sendiri.” tambah ibu, “Yaa Bu!”. Jawabku mengerti. “ Yaa Allah, Maafkanlah aku, yang telah mengkhianati diriku sendiri, mengecewakan orang yang dengan tulus mencintaiku” Aku merasa bersalah sekali, menyia-nyiakan cinta seorang wanita shalehah, yang telah membuat hidupku jadi bersinar dan membukakan jalan hidupku mencapai keridhaanMu. Di dalam kegelapan malam itu aku baru menyadari bahwa, ternyata ia rela menolak semua teman-temanku yang menyukainya, hanya untuk mendapatkan cinta dariku. Tapi apa balasku padanya! Aku menolak cintanya…! hanya karena wanita sombong yang hanya memandang harta dan materiku.” Sungguh bodoh diriku”kataku sendiri.
Keesokan harinya, aku tidak juga melihat Resa masuk sekolah. Aku kembali menanyakan pada teman-temannya, namun seperti bisaa tidak ada yang tahu kenapa ia tidak sekolah. Dengan rasa penasaran aku menemui kepala sekolah, meminta berita tentang Resa. “assalamu’alaikum, pak!” kataku memberi salam. “wa’alaikumussalam” jawab bapak kepala sekolah. Kemudian aku menanyakannya,” Pak, kenapa Resa tidak masuk sekolah lagi?”, “Oh…Resakan sudah tidak sekolah disini lagi, ia sudah mengurus surat pindahnya. Ia merasa tak enak berada sekolah ini katanya, dan hari ini ia akan pergi ke luar kota dan akan tinggal disana”jawab pak kepala sekolah.
Aku jadi kaget dan merasa bersalah sekali. Kemudian aku pergi ke rumahnya dengan membawa boneka yang pernah ia berikan padaku, untuk aku kembalikan dan berharap agar ia menerimaku kembali. Tapi rumahnya sudah kosong. Namun aku bertemu dengan teman yang kemaren ini ada di rumah Resa,”Maaf, aku ingin bertanya, Kamu tau nggak Resa ada di mana sekarang?” tanyaku padanya. “Oh…kamu yang membuat Resa pergi itu ya…! Kamu sungguh jahat, setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, kamu malah meninggalkan Resa, bahkan kamu tak tahu dengan keadaan Resa sekarang. Ia sangat mencintaimu, waktu di rumah sakit ia selalu menyebut-nyebut namamu, tapi kamu malah enak-enakkan bersama Mawar. Dan ketika kamu datang ia berharap kamu mencegah kepergiannya. Tapi apa, kamu malah menceritakan pacarmu yang tak tahu diri itu, yang membuat Resa jadi sakit hati. Tapi karena hatinya yang suci, ia masih mendengarkan cerita darimu, walaupun ia merasa semakin sakit hati, demi menghormati orang yang sangat ia cintai. Tapi apa balasmu?” kata temannya itu dengan sikap kecewa padaku. Mendengarkan semua cerita itu, aku merasa bersalah sekali, hingga air mataku bercucuran membasahi pipiku.
Melihat air mataku yang berlinang, ia pun berkata lagi,” Jika kamu benar-benar mencintainya, maka kejarlah ia ke bandara sekarang, semoga kamu tepat waktu, cepatlah pergi…!”teriaknya padaku. Aku pun berlari dengan sekuat tenaga. Setelah sampai di bandara, aku melihatnya akan naik pesawat,” Resa…Resa… Aku mencintaimu! “ teriakku dengan menggunakan mikropon bandara. Semua orang pada heran, dan melihat padaku. Lalu aku turun menemuinya, “Resa, jangan pergi, jangan tinggalkan aku…!, Aku mencintaimu” kataku sambil memegang tangannya. “Coba ulangi apa katamu? Aku tidak mendengarnya” kata Resa. “Aku mencintaimu!” sorakku agak keras. “ Aku tak mendengarnya” kata Resa lagi. Lalu aku diberi mikropon oleh petugas bandara, dengan lantangnya aku berkata,” Resa, Aku mencintaimu! Kataku dengan sangat kuat. Membuat orang-orang disana menjadi terkejut.
Aku mendapatkan respon yang aneh dari Resa, ia malah senyum padaku, aku pun membalas senyum manisnya itu.” Kamu tidak akan pergi kan?” tanyaku dengan cemas kehilangannya. Namun tiba-tiba,” Ha…ha…ha…” terdengar suara orang-orang menertawakanku. Aku jadi heran, ditambah pak kepala sekolah dan temannya Resa tadi datang mendekati kami. Kemudian pak kepala sekolah berkata,” Sebenarnya Resa tidak pindah dan pergi, tapi ia mengantarkan orang tuanya yang pindah keluar kota, tapi mereka belum menemukan orang yang cocok untuk menjaga Resa, untuk itu kami menguji tulusnya cintamu pada Resa” . “Betul nak, apakah kata-kata kamu yang mencintai Resa tadi, memang benar?” Tanya papa Resa padaku. “Insya Allah pa…” jawabku. “Aku titip Resa padamu, tolong jangan kamu khianati kepercayaan saya ini” tambahnya lagi. “Yaa pa….! “jawabku.
Akhirnya orang tua Resa berangkat ke luar kota, meninggalkan kami. Lalu aku berkata pada Resa, “Sa, kamu belum menjawab pertanyaanku, ”Apakah kamu masih mencintaiku? “. Kemudian aku memberikannya pilihan,” Jika kamu masih mencintaiku, maka peganglah tanganku, namun kalau kamu tidak mencintaiku lagi, maka ambillah kembali boneka pandamu ini” kataku sambil berharap ia memegang tanganku. Tapi ia malah mengambil boneka pandanya, dan melihat-lihatnya wajah panda itu. Hatiku mulai kecewa. Namun tiba-tiba ia melemparkan boneka itu jauh-jauh dan berkata, ” Kamu lebih berharga bagiku dari segalanya” hatiku bergetar. “Aku juga mencintaimu!” katanya dengan kembali senyum padaku. Sejak itu aku tidak pernah lagi mengecewakannya, karena aku telah yakin, dialah yang sebenarnya tulus mencintaiku.








. Cinta dengan Kontrol Iman

Pendidikan sejak dini sangat mempengaruhi psikologi setiap anak. “Anak yang dibesarkan dari lingkungan dan pengajaran yang keras, maka akan membentuk anak yang memilki watak yang keras dan kasar. Namun sebaliknya anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan belaian dari orang tua akan menciptakan anak yang berhati lembut dan penyayang.” kata ibu guru mengawali belajar hari ini, “Bu, jika anak yang jahat itu berarti kesalahan orang tuanya dalam mendidiknya….atau emang sudah dasarnya jahat, buk?” tanya Ferry mengejek, sambil menoleh pada Doni yang duduk di depannya. “ Ha…ha…!” Sorak teman-teman semuanya. “Sialan, kamu jangan lihat-lihat padaku donk Fer” kata Doni merasa diledekin. “Sudah – sudah” kata ibu guru menenangkan suasana. “
Sebenarnya, anak yang nakal itu bukan dari keinginan orang tuanya, lagian siapa juga yang ingin punya anak yang nakal. Tapi karena sesuatu dan lain hal, mungkin orang tuanya terlalu sibuk bekerja, dan mencari popularitas. Sehingga perhatian orang tua terhadap anaknya berkurang, yang menyebabkan anaknya bertindak sesuai dengan kehendak dirinya sendiri. Tanpa memikirkan orang-orang disekitarnya” jelas bu guru.
“Tapi apakah hal itu dapat dirobah buk? “ tanya Doni. “ Akhirnya kamu ngaku juga ya Don…!. Di SMP ini, kamukan termasuk orang yang paling jahat dan jahil! Apalagi sama adik-adik kelas. Kamu pantas menanyakannya, agar cepat berubah”, ejek Rani marah, karena ia sering disakiti dan dijahili oleh Doni. Kemudian ibu guru menjelaskannya lagi, “Setiap manusia pasti memiliki hati atau perasaan, sehingga hati dan perasaan itulah yang akan mendorong manusia untuk berbuat baik. Ketika kita berbuat jahat, berarti suara hati kita telah kalah bertarung dengan bisikan Syetan. Untuk itu ingatlah selalu kepada Allah, agar kita selalu mendapatkan perlindunganNya. Lagi pula, kita dilahirkan dalam keadaan suci tanpa dosa, tapi pergaulan dan lingkunganlah yang telah merubah kita, kearah yang lebih baik, maupun kearah yang buruk. Jadi tak mustahil untuk kita kembali ke fitrahnya, kembali kepada kesucian kita”.
“Alhamdulillah, kamu masih bisa berubah kok, Don !” tambah Rani. “Don, menjadi orang penting itu baik, tapi menjadi orang yang terbaik itu lebih penting” kataku ditengah keheningan mereka.
“Kamu kok malah ikut-ikutan menyalahiku” kata Doni padaku. “Leebaiii…!” katanya lagi marah.
“Neeet….neeeeet!” bel pulangpun berbunyi. Kami bersiap-siap untuk pulang. “Siap graat…bersyukur mulai” kata Ridho sang ketua kelas mengakhiri pembelajaran pada hari ini. Setelah pulang sekolah aku langsung beristirahat. Karena aku sangat kelelahan. Aku tidur hingga sore. Ketika jam petak di kamarku telah menunjukkan pukul 17.00, aku terbangun, dan mendengar suara motor berhenti di depan rumahku. “Pak Usman…!,oh iya aku harus mengaji sekarang” kataku sambil berlarian ke kamar mandi. Aku bergegas membasuh muka, karena aku tak mau pak Usman menungguku terlalu lama.
Waktu aku kecil aku paling sering di marahi ibu dan guru-guruku, baik di TPA, maupun di sekolah. Sehingga aku mendapatkan hukuman terus. Tapi saat ini aku tidak mau lagi dimarahi karena ketelatanku. Aku belajar mengaji sejak kecil dengan Pak Usman. Waktu kecil sebelum belajar mengaji dengan Pak Usman, aku merasa tersiksa, karena setiap aku belajar, aku selalu menguraikan air mata dibuatnya.
Cacian dan ejekkannya membuat hatiku sakit. Memang adik dan kakakku sangat pintar membaca Al-Qur’an dengan irama yang merdu, dari padaku. Aku selalu dibanding-bandingkan. Aku paling tidak suka kalau dibanding-bandingkan, apalagi dengan adikku sendiri. Itu membuat aku tak mau lagi belajar al-Qur’an. Tapi tak tahu kenapa Pak Usman, guru TPA yang baru, ia malah datang ke rumah dan menawarkan, untuk mengajariku membaca seni baca Al-Qur’an. Aku jadi kaget dan keheranan, Kenapa ia mau mengajariku. Sedangkan guruku yang lain, menolak mengajariku. “ Aku ingin mengajarinya seni baca Qur’an, karena aku yakin, anak ini memiliki potensi yang tinggi” kata pak Usman pada ayah sambil melihat padaku.
Ayah juga kaget, tentu ayah mengizinkannya, apalagi ia tidak meminta bayaran. “Aku ikhlas kok, mengajarinya pak” kata pak Usman pada ayah. Sejak itu aku selalu belajar dengan pak Usman, kedekatan kami membuat aku mudah untuk mempelajari seni baca Qur’an dengan bacaan yang bagus. Semakin hari ilmu bacaan Al-Qur’anku semakin meningkat. Hubungan kamipun semakin akrab, walau aku memanggilnya engan panggilan pak, tapi aku menganggapnya seperti kakakku sendiri, Karena usiaku tidak terlalu jauh dengannya, Ia pun menganggapku seperti adik sendiri, ia kuliah di STAIN dengan jurusan Syari’ah. Aku memanggilnya dengan sebutan Pak Us.
Di kelas V SD, itulah awal kiprahku di bidang seni tarik suara. Waktu itu datang surat undangan lomba azan dari Mesjid ke rumahku, dan aku sangat bersemangat untuk ikut. Untuk itu aku meminta Pak Usman untuk mengajarinya. Dan akupun mulai belajar bersama adikku dengan pak Usman. Satu per satu iramanya dapatku kuasai. Hingga aku benar-benar siap untuk tambil maksimal. Perlombaan itu sangat bergenggi tingkat kabupaten, pembukaan acaranya di buka langsung oleh bupati. Saat pendaftaran peserta, aku dan juga adikku beradu pandangan dengan Pak Med, guru TPA ku yang dulu sangat suka mengejekku, dan membandingkan-bandingkan aku dengan adikku.
Adikku merupakan murid kesayangannya di TPA. Tak tahu kenapa ia sangat tidak senang denganku. Tapi aku tak mau ambil pusing, aku tidak menghiraukannya. Namun tiba-tiba ia berkata,”Apakah bisa menang? Dengan adik sendiri belum tentu menang!” ejeknya bermaksud menyindirku. Aku tahu ia tak mempercayaiku, ia meremehkanku. Tapi aku memalingkan pandanganku darinya, aku anggap itu sebagai motivasi bagi diriku. Tapi sepertinya ia ada dendam denganku. “Ahh…biar saja” pikirku. Kemudian ia Imemanggil pak Usman, dengan nada meremehkan ia berkata,” Pak Us, ini anak yang bapak bawa?” Tanya ia pada pak Us, sambil menyendengkan matanya padaku. Pak Us tahu, ia bermaksud menyinggungku. Untuk itu ia hanya diam tidak menghiraukan Pak Med.
Setelah mendapatkan nomor urut , kamipun mencari tempat duduk, untuk menunggu pembukaan. Ternyata Pak Med anggota pelaksana lomba ini. Itu membuatnya merasa sombong. Itu terlihat dari gaya berjalan dan memandangnya. Sakin angkuhnya ia berjalan, saat melewati tamu undangan ia menyenggol air minum para tamu undangan, hingga tumbuh berserakan “ Upp…..! .” aku tertawa dibuatnya. Acarapun dimulai, satu demi satu peserta tambil dengan porsi irama yang berbeda. Sekarang tiba giliranku untuk tampil.
Aku sangat nervous, itu terlihat dari mukaku yang pucat. Saat MC memanggil nomor urutku, aku minta restu terlebih dahulu pada Pak Usman, sebagai guruku. Saat bersalaman dengannya, ia berkata padaku, “Nggak usah takut, yang penting luruskan niat dan tautkan hatimu dengan lafaz yang kamu baca.” Kata pak Usman yang melihat kepucatan dari mukaku dan tanganku yang telah mendingin. “Alhamdulillah, aku dapat tampil dengan maximal”. Setelah aku kembali ke tempat duduk, pak Usman langsung menyalamiku beserta dengan teman-temannya yang mendengar lantunan azan dariku. “ Kamu tampil sangat bagus, Selamat ya…!” kata salah seorang teman Pak Us. Dan akhir pengumuman, Alhamdulillah aku mendapatkan juara 1, dan mendapatkan hadiah tropi dan tabanas.
Aku sangat senang sekali, piala itu menjadi piala pertama yang aku dapatkan selama hidupku. Kemudian kami bergerak pulang. “ Uup…!” aku berpapasan dengan Pak Med, “ Maafkan bapak ya…!, Selama ini bapak selalu meremehkanmu, apalagi bapak suka membanding – bandingkanmu dengan adikmu. Bapak tidak menyangka kamu sehebat itu. Sekali lagi maafkan bapak ya…!” pinta pak Med sambil mengulurkan tangannya padaku. “nggak apa-apa kok, pak! Malah itu menjadi motivasi buatku” kataku sambil menjabat tangannya. Setelah sampai di rumah aku langsung sujud syukur pada Allah SWT. Karena itu pertama kalinya aku mendapatkan prestasi dibidang tarik suara. “Alhamdulillahhirobbil’alamiin” Sejak itu aku mulai berkiprah di bidang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Alhamdulillah, aku tak pernah absen MTQ atau MSQ (Musabaqah Syahrir Qur’an) pada bulan puasa. Kiprahku tidak terlalu jauh sih…! Aku hanya sampai juara di tingkat Provinsi. Tapi aku sangat bersyukur. Dan sekarang aku masih aktif mengikuti MTQ tingkat Provinsi Sumatera Barat.
Di saat matahari menampakkan wajahnya yang terang benderang, menyilaukan rumah tua yang kokoh dengan lampu yang indah di depannya. Walau tak memakai baju yang berwarna-warna, hanya batu merah yang disusun dengan rapi. Tapi disanalah tempat yang indah bagiku, ‘Rumahku Syurgaku’. “Assalamu’alaikum” seru pak Usman, yang baru datang dengan motor barunya.” Wa’alaikumussalam”, jawabku sambil membukakan pintu. Pak Usman mengajakku pergi berlibur ke kampungnya, di Solok, Sumbar. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahku, sekitar 60 km. Berhubung aku tidak ada acara, aku ikut dengan Pak Usman ke kampung. Kemudian aku menyiapkan pakaian yang akan dibawa. Pak Usmanpun pulang ke mushalla untuk menyiapkan pakaiannya. Karena ia tinggal di mushalla, menjadi garin disana. “Sudah siap” kata pak Usman yang baru datang mengejutkanku. “ Sudah pak! “. “Wah bagus ranselnya pak!” kataku memuji ransel pak Usman yang sangat keren. “ Iya donk, harganyakan juga bagus !, he..he…”
“Ayo pak, kita berangkat sekarang”. “Ma, pa…! Aku pergi ya, assalamu’alaikum” . “Wa’alaikumussalam, Hati-hati ya, Nak!”, “Ya ma…!”jawabku sambil melangkah keluar. Kamipun berangkat, “BismiIllahirrahmanirrahim...!”
Setelah sampai di Solok pak Usman mengajakku ke Sari manggis, tempat pemandian. “Wow… dingin!” aku terkejut merasakan airnya yang terlalu dingin. “Ah… walau dingin tetapi asyik…!” Disaat aku lagi berenang, aku melihat Robby dengan teman-temannya, yang telah selesai mandi dan akan pulang. “Oh… ia bukan sama teman cowok saja, ternyata ia juga bersama dengan ceweknya.” Mereka baru jadian satu minggu yang lalu. Robby anak yang terkenal dengan kenakalannya di sekolah, sedangkan ceweknya anak matre yang sering mangkal di pasar. “ Ahh…kenapa aku jadi memikirkan mereka begini!” kataku sambil memalingkan tatapanku dari mereka.
Tak lama kemudian, saat aku lagi asyik-asyiknya berenang, aku melihat segerombolan anak perempuan separuh baya, mungkin seusia denganku. Mereka hendak berenang juga. Tapi setelah mereka keluar dari kamar ganti, “Astagfirullahal aziim” aku terkejut ketika melihat salah seorang dari mereka memakai pakaian renang yang amat kecil dan ketat, layaknya pakaian orang-orang barat. Aku cepat-cepat memalingkan pandanganku darinya. “Ada apa” tanya Pak Us padaku. “pa…pakaiannya…!” kataku sambil menunjuk ke arahnya. “Pakaiannya tak etis banget, tak pantas seorang perempuan berpakaian seperti itu. “Ha…ha…!” pak Usman menertawai aku. Aku jadi keheranan “kenapa bapak malah menertawai aku pak?” tanyaku. “ Coba kamu lihat baik-baik”. Aku tambah heran kenapa bapak yang terkenal ustadz, tidak melarangku melihat perempuan itu, tetapi ia malah menyuruhku untuk memperhatikan dengan baik-baik,” nggak bebar ustadz nih…!” pikirku. “ lihatlah” kata Pak Us lagi.
Dengan rasa berdosa aku mengangkat kepalaku dan menoleh kearahnya. Kemudian pak Usman ketawa lagi,”Ha…ha…! Ia kan laki-laki sama seperti kita!” “ aaaa…..apa ?”aku kaget mendengarnya. Sungguh aku tidak menyangka hal itu sedikitpun. Ternyata ia Balak alias Banci Laknat !!! Sungguh meleset orang sekarang. Tak jelas lagi mana yang cowok dan mana yang cewek. Sejak itu aku berhati-hati melihat orang, aku tidak mau salah orang lagi.
Setelah selesai mandi, aku pulang ke rumah, kampungnya pak Usman di Talang, Solok. “Assalamualaikum”kata pak Usman sambil masuk dalam rumah. “Oo, waang nak! Baa kaba ang yuang, lai sehat-sehat jo?” kata ibu tua yang tersenyum melihat kami. “alhamdulillah, lai sehat-sehat jonyo mak!” jawab pak Us. Kemudian pak Us memperkenalkan aku pada keluarganya. Kemudian kami beristirahat di kamar pak Us.
Aku sangat lelah, sehingga aku tertidur di kasur sejuk yang dialas dengan rapi di dalam kamar pak Us. Di tengah tidurku aku terbangun oleh suara motor yang keras yang berhenti di halaman rumah. Tapi karena aku sangat lelah, aku kembali tidur. Setelah matahari mulai tidur, dan cahaya yang memerahkan langit biru datang, membuat gelap kamar pak Us. “aaah…!”aku bangun dari tidurku. Tapi aku tidak melihat pak Us. “ Allahuakbar, Allahuakbar….!” Terdengar suara azan maghrib dari mesjid yang dekat dari rumah pak Us. Aku langsung bergegas bangun dan pergi ke mesjid sendirian. Sehabis shalat, aku mendengar pengajian yang disampaikan pak ustadz. ia berkata :
“ Kita dilahirkan dengan Cinta, dibesarkan juga dengan Cinta dan bahkan kita hidup juga untuk mencari Cinta dari Sang IIllahi Robbi”. “ Kata Cinta sangat mempengaruhi kehidupan manusia, dengan Cinta membuat manusia dekat denganNya, tapi Cinta juga dapat melupakan manusia dengan Sang Pencipta. Hati-hatilah dengan namanya” Cinta” Apalagi untuk para remaja, jangan biarkan ia merasuki otak dan pikiranmu. Jangan sampai Cinta membuatmu jauh dari Allah. Untuk itu, sederhanalah dengan namanya Cinta. Jangan berikan semua Cintamu padanya, karena itu hanyalah sementara. Carilah Cinta yang Hakiki, Cinta yang sejati yaitu Cinta pada Allah, Pencipta alam semesta.” Hatiku tersentuh dengan kata-kata pak Ustadz. “ Ya Allah, lindungilah aku dari godaan dan rayuan Syetan dengan Cinta yang dapat membutakan mata hatiku.” do’aku pada Allah.
Ketika aku sampai di rumah, aku menemukan pak Usman dalam kemenungan, ia sangat lesu dan tampak memikirkan sesuatu. Aku menjadi ragu untuk menyapanya. “Pak, kenapa bingung, apa yang terjadi?” tanyaku padanya. Ia hanya diam tidak menjawab. “kenapa, pak?” tanyaku lagi. “ Nggak ada apa-apa kok.”jawabnya lemah. Aku yakin, pasti ada yang telah terjadi dengan pak Us. Tak lama kemudian pak Us pergi, ia menyuruhku untuk tetap di rumah. Dia tak bicara apa-apa lagi, diam tak berkutik. Aku terus mengamatinya, rasa penasaranku seolah-olah membuat aku menjadi detektif kecil yang ingin mencari tahu tentang kediaman pak Us. Pak Us sangat aneh, tak biasanya ia seperti itu.
Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya. Akupun mulai bergerak. Aku menulusuri kamar pak Us.”Wah ini foto siapa ya..!”aku melihat foto-foto pak Us bersama seorang jilbaber, gadis cantik berkulit putih. Mereka tampak serasi. Semakin aku membuka lembaran foto itu. Aku menjadi yakin, ia pasti cewek pak Us. Ia tampak sangat berpengaruh dengan pak Us. mungkin ada hubungan khusus pak Us dengannya, melihat kemesraan foto mereka. “Oh…ternyata namanya Nur Azizah” kataku ketika melihat nama pada lembaran foto yang terakhir. Aku beranjak ke ruang tamu. Aku menemukan sebuah surat di atas meja tamu. Ketika aku buka, ternyata surat dari Gadis Jilbaber, yang bernama Nur Azizah itu.
“ Untuk Abang Usman tercinta….! Dari Nur Azizah!.”
“Bang maaf… , maafkan aku, aku tak bisa lagi menjalani cinta bersamamu. Aku tak kuasa menentang perjodohan ini. Bukan maksudku mengkhianati Cintamu. Aku sangat mencintaimu, bersamamu membuat hati menjadi tenang , damai dan bahagia. Aku telah berusaha menolaknya. Berbagai cara telahku lakukan untuk meyakinkan orang tuaku dengan Cinta kita. Tapi apa dayaku bang, aku hanya wanita lemah, yang tak kuasa melihat orang tuaku menangis memohon kepadaku untuk menikah dengan orang yang ia tentukan sendiri. Sekarang aku sudah pergi bersama keluarga untuk menemui di batam, untuk segera melangsungkan perkawinan”
Maafkan aku…..!
Maafkan aku Bang…! Yang telah mengungkiri janji kita, untuk hidup bersama…!
Semoga Abang mendapatkan penggantiku. Yang lebih baik daripada diriku. Aku harap abang tidak mencariku lagi.
Salam sayang, Nur Azizah!”
Mendengar surat itu, akupun jadi ikut sedih., walau aku tidak kenal dengan gadis jilbaber itu. “Ehemm…sedang manga ang yuang?” Tanya ibu pak Usman mengejutkanku. “O..Oo…dak ado manga-manga do, mak!” jawabku dengan gerogian. Ibu pak Us akhirnya tahu maksudku, kemudian ia menceritakannya padaku.
“Wak tu ang lalok tadi, datang pak pos, maantaan surek tu untuk si Usman. Si Usman suko bana ka anak gadih tu, cuman orang tua anak gadih tu indak satuju anaknyo nikah jo si Usman do,keceknyo si Usman, indak sa level jo inyo do. Inyo urang kayo rayo, sadang si Usman urang bisao senyo. Tapi anak gadih tu, alah bajanji ka si Usman, inyo ka maumbuak amaknyo, tu manikah jo si Usman. Tapi surek tu datang mandadak taka itu jonyo. Dasar anak gadih jaek” kata ibu pak Usman dengan nada marah.
Sekarang aku jadi mengerti, ternyata inilah yang menyebabkan keanehan secara tiba-tiba dengan prilaku pak Usman. Ia ditinggalkan seorang gadis yang sangat ia cintai, bahkan ia akan segera menikah. Tapi dengan sangat mengejutkan, datang surat dari gadis itu, bahwa ia akan menikah dengan pilihan orang tuanya. Katanya ia dijodohkan dan sekarang ia telah pergi begitu saja. Pak Usman sangat terpukul, kekasih hatinya telah pergi bersama orang, dan mereka akan segera menikah. “Teganya dia…! Tapi ia juga baik pada orang tuanya, ia rela menderita agar orang tuanya tidak bersedih. Siapa yang salah ya…?” pikirku dalam hati.
Keesokan harinya, akupun pulang diantar oleh pak Usman lagi. Tapi ia tidak mau masuk dulu. “ Pak, pergi lagi ya…!” kata pak Usman sambil memutar motornya. Ia langsung pergi. Pak Usman tampak terpukul sekali, aku takut terjadi apa-apa nantinya di jalan, dengan kondisinya yang masih labil itu. Hari-hari berikutnya aku masih tetap belajar ngaji dengan pak Usman. Aku masih mengamatinya, masih terlihat kesedihan dan kepiluan di hatinya. Waktu terus berlanjut, membawa perubahan yang sangat berarti dalam hidup pak Usman, aku tak menyangka hal itu bisa terjadi pak Usman. “seberapa besar sih…Cintanya pada gadis jilbaber itu?” tanyaku.
Kepergian gadis itu membuat hidup pak Usman jadi hancur berantakan seperti ini. Ia yang dulunya mendapatkan beasiswa dari kampus berkat kepintarannya, sekarang malah berubah 180 derajat. Sudah 7 tahun ia kuliah, sampai sekarang tak juga tamat-tamat. “nauzubillah” Sekarang gelar sarjana hanya tinggal kenangan. Pulang ke kampung dengan hampa, kertas putih yang berlabel ijazah sarjanapun telah raip ditelan masa. Pak Usman di DO (Drop Out) dari kampusnya, karena telah terlalu lama kuliah. Sangat disayangkan, Pak Us adalah mahasiswa yang banyak disayangi oleh para dosennya karena ia anak yang pintar dalam belajar, maupun di dalam pergaulan.
Aku sebagai anaknya dan dekat dengannya, hanya bisa menasehati…menasehati…. dan terus menasehatinya. Namun apa daya, kekerasan dan kesedihan dalam dirinya membuat hatinya membeku, yang tak mau tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya. ”Ya…Allah lindungilah aku dari Cinta sia-sia yang berlebihan kepada makhlukMu…! Jangan sampai hal ini terjadi pada diriku, Ya Allah… ” do’aku pada Sang Pencipta. Cinta pada seorang perempuan telah membutakan hati pak Usman, bahkan ia terlarut dengan cintanya yang telah meninggalkannya sendirian. Terdiam, termenung dan terpaku menatapinya, perempuan yang diharapkan takkan pernah kembali lagi.
Hari yang cerah mengawali langkahku menuju ke sekolah, setelah sebelumnya aku libur panjang. Waktu telah merubah usiaku menjadi 15 tahun. Aku naik ke kelas IX. Hati yang senang dan pikiran yang segar terlihat di wajahku, saat bersalaman dengan guru-guru yang telah berdiri di gang sekolah.” Teng…teng….teng…! lonceng sekolah berbunyi, menandakan masuk kelas. “Alhamdulillah, ternyata aku masuk lokal IX.1” kataku setelah melihat papan pengumuman di kantor majelis guru. Teman baru yang lebih pintar dan hebat menambah motivasi belajarku. “Hello…!” kata pak Im, guru matematika menyapa kami. “Hai…!” jawab kami serentak. Tanpa basa-basi lagi pak Im memulai pelajaran matematika. Setelah agak lama menerangkan, ia memberi kami soal-soal atau kuis. “Sebelum kita kuis, bapak akan bagi kalian menjadi 3 group, A, B,dan group C” kata Pak Im mengawali kuis. Aku berada di group C dengan 5 orang laki-laki dan 2 orang teman perempuanku. Pak Im membuat soalnya di papan tulis, “Kerjakan dalam waktu 2 menit!” kata bapak memulai soal pertama.
Kamipun bergegas membuatnya. Aku mendapatkannya, “Saya pak!” seruku sambil mengacungkan tangan. “ Ya...group C, berapa hasilnya?” tanya pak Im. Tiba-tiba seorang perempuan dari kelompokku menjawabnya, ia memotongku dengan menyebutkan hasil yang ia dapatkan sendiri. Aku jadi kaget, tapi aku berpresangka baik dengan jawabannya yang berbeda denganku. Ternyata jawabannya salah. “Karena kalian salah, pointnya dikurangi 100, menjadi -100 untuk group C” kata pak Im sambil menulis pointnya di papan tulis. Dengan rasa bersalah perempuan tadi berkata padaku,” Maafkan aku ya…, karena aku salah point kita menjadi minus. “ahh…nggak apa-apa kok!” jawabku padanya. “inikan baru permulaan, kita harus lebih kompak lagi ya…! Kita tunjukan pada group lain bahwa kita bisa menang!”tambahku lagi. “terima kasih ya…! kau telah percaya padaku.” Katanya dengan senyum yang bersahabat padaku.
Kemudian soal-soal terus diberikan pak Im, “Alhamdulillah” kami bisa menjawabnya dengan benar. Takku sangka ternyata perempuan teman se-group yang duduk di depanku itu memang pintar. Selain ia dapat menjawabnya, ia juga lebih cepat dariku. Akhirnya kami menjadi pemenangnya,”ha…ha…, kita berhasil !” kataku padanya. Pak Im memberikan hadiah makanan pada kami.”Oop…,dengan cepat makanan itu kami makan bersama, teman-teman yang kalahpun juga ikut menikmatinya. “Belajar, berusaha dan menikmati bersama…,Ha...haaaa…..!” “Selamat ya…! Kamu memang pintar “ kata perempuan itu padaku. “Kamu juga pintar dan…..cepat lagi ! Selamat juga ya…!” kataku padanya. Sejak itu aku jadi kenal dengannya. Disamping kenal aku juga dekat dengannya. Ivi Zakia, itulah namanya. Aku sering bercanda dengannya, segala kesukaan dan kedukaanya selalu diceritakannya padaku. Ia sering menasehatiku.
Saat aku ada berbuat salah padanya, ia tidak langsung marah padaku, tapi dengan pandangan mata yang lain padaku saja, aku telah mengerti maksud, tujuan dan apa yang mau ia katakan padaku. Begitu kedekatan kami untuk saling memahami satu sama lain. Kedekatanku dengannya membuat hari-hariku menjadi indah, semangat belajarku timbul dengan sendirinya. Aku tidak tahu kenapa! . Yang jelas, aku merasa ada kekuatan baru yang datang, membuat aku jadi tegar dan bersemangat untuk belajar. Sejak aku dekat dengannya.
Saat Ivi tidak datang ke sekolah, tah kenapa aku merasa yang kurang saja, aku jadi tak bersemangat lagi. Sehari saja ia tidak masuk sekolah, aku merasa sudah sebulan tidak bertemu dengannya. Begitu kedekatan hatiku dengannya. Suatu hari Ivi tidak masuk sekolah, “Kenapa kamu kelihatan tidak bergairah dan bersemangat hari ini?” tanya teman-teman padaku. “Oh… iya, sahabatnya kan lagi sakit hari ini”ejek Ferry padaku. Aku hanya diam tak memberi komentar. Tapi setelah ku pikir-pikir. “Iya juga ya…!” kataku dalam hati.
Orang baik adalah orang yang dapat bersabar dalam menghadapi masalah yang menimpanya. Kemudian dengan iseng-isengnya, aku ingin menguji kesabaran Ivi. Aku membuat suatu masalah untuk membuat ia marah padaku. Tapi aku sengaja membalikkan fakta dan membikin suasana, ia yang menjadi bersalah . Dan aku seolah-olah meminta ia untuk minta maaf kepadaku. Tetapi apa yang kudapatkan!, memang ia anak yang baik berhati sabar, ia mengulurkan tangannya untuk meminta maaf padaku. Aku tak menyangka hal itu, aku pikir ia akan menjauh dariku, tapi ia malah berusaha untuk mendapatkan kata maaf dariku.
Aku merasa belum puas dengan kesabarannya sampai disitu, aku belum memaafkannya. Penasaranku bertambah-tambah, dengan ketulusan hatinya. Aku masih berpura – pura diam. Tapi ia selalu berusaha membuat agar hatiku senang dengannya ia melakukan berbagai cara, agar mendapatkan maaf dariku, hingga 3 kali ia mengulurkan tangan untuk meminta maaf padaku. “Ya… rasanya aku sudah kelewatan dengannya. Akhirnya aku memaafkannya, dan menjawab jabatan tangannya. Disana aku menilai baik padanya, ia mau minta maaf, walau tahu ia tidak bersalah. “kau memang anak yang mulia Ivi” kataku padanya. Tapi ia tidak menjawabnya, ia hanya mengulurkan senyum yang bersahabat padaku..
Pagi itu cuaca mendung, “Bu ayah Ivi meninggal kata mirna yang ngos – ngosan berlarian, “Kapan?” Tanya Bu Eni. “Tadi pagi pukul 04.00 WIB”. Seluruh warga sekolah resah dan bersiap untuk pergi menjenguk, aku tidak dapat berkata apa – apa, yang terpikir olehku sekarang hanyalah Ivi,”Bagaimana dengan Ivi, ia pasti sangat sedih dengan semua ini, air matanya pasti berlinang, “Ya Allah berikanlah ketabahan baginya dalam menghadapi cobaan ini “. Dengan langkah kaku aku ikut dengan teman – teman menuju rumah Ivi, saat berjalan dengan mobil pak Yusri, aku heran, “Ini kan jalan ke rumahku” setahuku rumah Ivi tidak lewat sini, “oh… ternyata Ivi sudah memiliki rumah sendiri.” Aku baru tahu dari pak Emi yang menunjukkan jalan menuju ke rumah Ivi pada pak Yusri. Ternyata rumahnya memang dekat dengan rumahku, hanya dibatasi pematangan sawah yang sekarang lagi panen. Mbak Ani pasti lagi sibuk mengurus padinya bersama warga-warga Sparting. Pasti banyak penghasilannya nih! ”Ahh… kok aku jadi ngelantur begini.!”
Setelah sampai dirumah Ivi, aku melihat plastik hitam yang menandakan ada kemalangan di depan rumahnya. Mobil – mobil berjejeran di depan rumahnya, membuat jalan jadi macet. Aku terus masuk ke dalam rumahnya, bersama guru – guru dan teman – teman yang lain. Setibanya di dalam, aku melihat Ivi dengan ketabahan dan kesabarannya menerima cobaan ini. Kakak dan adiknya terus menangisi kepergian ayahnya. Ibunya berusaha menenangkan kakak dan adiknya yang terus menangis histeris. Tapi Ivi dengan tabahnya membacakan Yasin untuk ayahnya.
Aku jadi iba melihatnya, walau aku tak mengenal ayahnya, tapi aku yakin ia adalah seorang buya yang baik dan sangat peduli terhadap orang lain, melihat banyaknya orang yang hadir waktu pemakamannya. “Ya Allah, terimalah ia disisiMu, dan tempatkanlah ia di SyurgaMu…! Berikanlah ketabahan bagi orang-orang yang ditinggalkannya” Do’aku dalam hati. “Ssss…,mulailah membaca yasin!” kata pak Emi padaku “A’uzubiIllahiminassyaithanirrajim” kemudian teman – teman mengikuti aku, kamipun membaca yasin sampai selesai. Pak Emi menutupnya dengan do’a. setelah selesai kamipun keluar menunggu untuk pelaksanaan pemakaman. Aku sangat iba dengan Ivi ia harus ditinggalkan ayahnya, ketika usianya baru setahun jagung. jujur, aku sangat tidak bisa melihat ia sedih. Setelah lama menunggu, pemakamanpun dilakukan.
Saat penimbunan jenazah, Ivi dan keluarganya tampak sudah mengikhlaskan kepergian ayahnya. Ia melihat jenazah ayahnya yang ditimbun dengan tanah – tanah dan bebatuan di makam pekuburan. Sekarang Ivi tinggal bersama ibu, adik dan kakak perempuannya, ‘keluarga shalehah’. Ibunya sangat baik pada semua orang, ia seorang kepala sekolah yang memiliki pendirian yang teguh. Ia sangat tegar dan sangat dihargai di dunia pendidikan daerah. Keramahan dan kepeduliannya membuat ia disegani oleh para guru – guru lain. Aku yakin sikap ini yang turun pada anaknya, terutama pada Ivi.
Hari terus berganti, Ivi kembali bersekolah seperti bisaanya, tapi ia lebih suka diam dan melamun, ia tidak seceriah yang dulu. Kemudian aku menghampirinya, dengan berhati – hati, aku mulai bicara dengannya, “bagaimana kabarmu, Vi…?” tanyaku. “alhamdulillah, baik” jawabnya dengan sedikit senyuman. Aku bingung mau bicara apa lagi. Kemudian aku memberanikan diri membuat lelucon agar ia tertawa, tapi kayaknya ia kurang merespon, tapi lama kelamaan ia mulai tertawa. Akupun jadi senang, bisa melihat ia tertawa lagi. Kemudian tiba-tiba, ia menatap tajam mataku, tak bisaanya ia seperti ini.
Aku memalingkan tatapanku darinya, aku melihat ujung sepatuku yang runcing. ” Ah…ah… kenapa aku jadi gerogian kayak gini!”. Pikirku. Aku kembali melihatnya, tetapi ia masih menatapku dengan pandangan yang berbeda, aku semakin bingung. “apakah aku bicara salah?atau ada yang salah denganku ya…!? Bisikku dalam hati. Lalu ia mulai bicara,” maukah kamu menjadi sahabatku? Sahabat yang amanah?” Tanya dia lagi padaku. Aku terkejut mendengarnya. Dengan agak ragu aku menjawab,” Ma…mau kok!” “kenapa kamu ragu begitu menjawabnya? Kamu nggak mau ya…?” tanya ia lagi dengan nada lemah. “Bukan begitu, aku ragu begini karena aku terkejut mendengarnya. Tapi aku juga ingin kok…, malah sangat senang bisa menjadi sahabatmu.
Belum pernah aku menemukan orang yang baik dan memiliki akhlak yang mulia seperti dirimu. Aku merasa beruntung sekali memiliki seorang sahabat seperti dirimu” jawabku padanya. “Insya Allah, aku mau!” jawabku lagi padanya. Ia mengulurkan tangannya padaku. Dan aku menjawab jabatannya dengan ramah, kamipun bersalaman “tos…salam…peace!” salam kami akrab. Aku kasihan dengannya ia harus tinggal tanpa ayah sekarang. Didalam tahajjud aku berdo’a.
“ya… Allah, selama aku menganggapnya sebagai sahabat, izinkanlah aku untuk membuatnya untuk selalu tersenyum, “Lindungilah dia ya Allah…!” “bukankah anak yatim adalah anak yang mulia…!”. Membuatnya tersenyum…itulah yang menjadi dasar persahabatan aku dengan Ivi.
Semakin hari keakraban persahabatan kami terus berkembang, banyak teman – teman yang merasa iri pada kami. Ditambah pada saat kami home stay ke Minang Village. Aku selalu berada dekat Ivi, tapi kami tetap saling menjaga kehormatan dan menjunjung tinggi rambu-rambu pergaulan menurut ajaran dan syari’at islam. Pergaulan kami tetap dalam batas kewajaran. “Kamu enak ya, kamu ada cewek yang selalu dekat denganmu! Sedangkan aku … teman saja nggak punya, apalagi pacar” kata Doni kelihatan lemas dan tampak putus asa. “Don, bukan begitu, aku dan Ivi hanya bersahabat kok, dan aku yakin… kamu akan menemukan itu semua, jika kamu sudah dapat memahami diri orang lain, tanpa melihat status dan bentuk luarnya saja.” “Seandainya aku bisa seperti kamu …? dan mendapatkan pacar seperti Ivi. Ia cantik, pintar, baik hati lagi..., pasti aku menjadi bintang yang terkenal dan popular di sekolah” hayal Doni.
“Upp… Don, jangan berhayalan seperti itu, jangan pernah kau menggantungkan hidupmu pada orang lain, karena tidak jarang orang itu malah mengabaikanmu dan membuat hidupmu jadi berantakan. Dan jangan pernah kau berharap pada orang lain, karena tak jarang orang yang kau harap mengkhianatimu. Jika kamu ingin menggantungkan hidupmu dan ingin mengharapkan sesuatu, mintalah pada Allah yang Maha Pemberi Rahmat, merengek dan memohonlah pada-Nya, Insya Allah Ia akan mengabulkan do’a orang-orang yang bersungguh-sungguh pada-Nya” jelasku pada Doni.
Di malam yang sunyi di Minang Village, aku terjaga dari tidurku, aku melihat teman – teman sudah pada tidur di rumah Gadang yang beralaskan papan tua. Aku berjalan keluar dan menghirup udara malam yang dingin, didepannya aku melihat pernak – pernik lampu – lampu yang berkedip-kedip di sepanjang jalan utama “Subhanallah, … Indahnya malam ini…!” kataku seraya melihat bintang – bintang yang bersinar terang di langit, ia tampak memberi semangat pada bulan untuk bersinar indah, seperti dirinya. Wow…kumpulan bintang itu tampak tersenyum padaku” kataku yang terkejut melihat keindahan itu. “Sungguh Maha Indahnya ciptaan engkau ya Allah” kataku kagum padaNya. “Hai … ngapain kamu” kata Doni mengagetkanku. “Astagfirullahhal’azim kamu mengejutkan aku. Untung jantungku tidak sampai copot dibuatnya”. “Maaf – maaf” kata Doni terburu – buru padaku. “Tapi ngapain kamu disini?” Tanya Doni lagi padaku “ mataku tidak mau tidur, aku ingin melihat keagungan Allah pada malam yang indah ini!” jawabku sambil melihat bintang yang berkedip terang. Donipun melihat keatas. “Subhanallah, Maha Suci Allah” kata Doni yang terkagum melihat indahnya malam itu. “Seumur – umur baru sekali ini aku melihat indahnya dunia malam seperti ini !” aku terkejut melihat sikap Doni. “ternyata hatimu lembut juga ya Don !” kataku pada Doni. “siapa bilang hatiku keras, teman – teman saja yang bilang aku jahat. Tapi sebenarnya aku anak yang baik kok” katanya membela diri. “Ya…ya!” kataku untuk membenarkannya.
“Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu” tanya Doni padaku. “”boleh, apa itu?” tanyaku balik. “Menurutmu apakah boleh kita mencintai seorang perempuan? Dan bagaimana wujud dari Cinta itu? Apakah seperti yang dilakukan oleh para remaja sekarang ini, yang berpacaran, berdua-duaan di tempat yang sepi, di tepi pantai, dan di tempat rekreasi lainnya, apakah itu wujud dari cinta yang sebenarnya? “ tanya Doni. “Aku pernah mendengar Ustadz berceramah, ia berkata, ”Dalam Al-Qur’an Allah mengatakan : “Cintailah oleh mu apa yang ada di langit dan di bumi, harta benda, kekayaan,pangkat dan jabatan, wanita dan lain-lainnya. Asalkan tidak melebihi cintamu pada Allah” jadi kita diperbolehkan untuk mencintai wanita atau perempuan. Sebagaimana fitrahnya Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan. Itu suatu yang wajar kok, dan itulah cinta yang semestinya. Tapi tergantung kita dalam menanggapi dan mewujudkannya. Tapi kesalahan para remaja sekarang, ia merasa kalau sudah sama-sama suka, mereka dapat berbuat apa yang diinginkannya tanpa menghiraukan aturan dan batas-batas dalam pergaulan, menurut adat dan agama.
Pacaran menurut Islam itu tidaklah pernah ditemukan, pacaran itu mendekatkan kita pada perbuatan zina, berpelukan, berciuman dan bedua-duan. Tanpa adanya hubungan yang mensyahkannya. Kalau menurutku wujud dari cinta yang sebenarnya itu adalah kasih sayang, peduli, dan saling perhatian. Pacaran itu sangat membahayakan bagi remaja, yang belum memasuki usia perkawinan. Karena pacaran itu sangat menyesatkan dan membuat hamba lupa diri, bahwa cinta yang hakiki itu hanya pada Allah”.jelasku pada Doni. “Lalu, bagaimana kata orang yang meyebutkan bercinta itu dapat membangkitkan semangat? Apa betul itu? tanya Doni lagi. “Apakah kamu tidak pernah merasakannya?” tanyaku balik pada Doni. “ Be…belum!” jawabnya lemah. “Betul Don, Cinta itu adalah kekuatan. Yang di dalamnya bersemayam keberanian, kelembutan, keperkasaan, dan kenyataan.
Cinta menggerakkan hati setiap orang yang merasakan kehadirannya. Jika kita mencintai yang namanya ‘Cinta’, maka ia akan datang membuat kebahagian bagi kita. Namun sebaliknya ketika kita menyakiti yang namanya ‘Cinta’, maka ia akan membalik menyakiti kita. Ia bagaikan sebuah pedang tajam, yang dapat melukakan. Namun sebaliknya, ia akan menjadi air jernih yang mengalir deras, yang membawa kebahagiaan dan kedamaian, ketika kita dapat menjaganya.. Seorang pujangga kecil berkata, “Cinta itu lampu yang terang, yang mampu menyinari dunia… Cinta itu awan hitam yang gelap, dengan tangisannya mampu merenggut nyawa seseorang. Hati-hatilah dengan yang namanya ‘Cinta’. Untuk itu, carilah cinta sejati.
Cinta yang semata-mata hanya karena Allah. Bercinta karena Allah, berpisahpun juga karena Allah….! “Oh…begitu ya…!” kata Doni mengerti. “Tapi bagaimana tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta itu?” tanya Doni padaku. “mudah kok, Don! Orang yang sedang jatuh cinta itu, ketika mereka bertemu dan bertatap muka, akan timbul rasa gerogian.Dan tak jarang mereka salah tingkah. Dia rela berkorban demi sang kekasih yang ia sayangi. Ketika salah seorang diantara mereka sakit, maka yang lainnya juga ikut merasakannya. Sejelek apapun ciptaannya, akan kelihatan indah, jika cinta melanda kita. Sehingga dalam syair-syair lagu mengatakan, ‘Hidup takkan terasa indah, tanpa diiringi dengan cinta’ . “Kayaknya…, semua yang kamu katakan tadi, rasanya pernah kamu lakukan deh…!” kata Doni sambil menatapku.
Kelihatannya Doni memikirkan sesuatu. “Oh iya…ini sama dengan yang kamu lakukan” kata Doni mengejutkanku. Disaat tugas kesenian, teman-teman mencela hasil kerajinan tangan Ivi, satu-satunya orang yang memuji Ivi, kan Cuma kamu. Tugasnya jelek seperti itu, kamu malah memujinya. Kamu jatuh cinta ya pada Ivi…!” kata Doni mengejek. Aku jadi diam terpaku, mendengar perkataan Doni padaku.
“Disaat teman-teman mengejek hubungan kalian berdua, aku melihat mukamu jadi merah, bahkan kepalamu yang terkena sikutku tak terasa bagimu, pada saat kamu menghindari teman-teman yang mengejekmu. Aku yakin itu sakitkan, kamu kelihatan sangat gerogian, kamu salah tingkah ya…!”
“Yang lainnya ikut merasakan sakit…, iya…ya! Ketika Ivi sakit, kenapa kamu tampak tidak bersemangat sekali, tidak seperti bisaanya, sepertinya kamu kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu. Kamu mencintainya ya…!” tanya Doni padaku. Aku jadi ragu dan bimbang menjawabnya. “Jadi dari tadi, apa yang kamu katakan padaku, merupakan ungkapan hatimu yang sesungguhnya ya…!” tanya Doni lagi padaku. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. “A…aaaku tidak tahu, Don!” jawabku ragu. “Menurutmu bagaimana Don?” tanyaku balik. “Semua yang telah kamu lakukan sesuai dengan tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta seperti katamu tadi, jadi….aku yakin kamu sedang jatuh cinta pada Ivi.”. “Hah…Aku sedang jatuh cinta?…pada Ivi…?“ Aku terkejut mendengarnya, tak pernah terpikir bagiku untuk jatuh cinta pada Ivi. Aku terdiam memikirkannya.
“U…uu….uuuuught” Ayam penjaga telah berkokok, menandakan hari hampir subuh. Tak sadar aku dan Doni bicara sepanjang malam. Setelah subuh datang, kamipun shalat berjama’ah bersama guru-guru pendamping. Selesai shalat subuh, aku dan Doni segera tidur. Mataku dan Doni jadi mengantuk. Kami tidur sampai matahari menyapa. “Oh…kita ketinggalan, Don!” kataku ketika melihat Doni yang baru bangun. “Uuuhhh…!” nguap Doni. “Ketinggalan apa?, mana teman-teman yang lain?” tanya Doni. “itulah kita ditinggal, mereka sudah memulai kegiatan, aku ketiduran juga Don!” “Nggak apa-apa” kata Doni sambil berbaring, melanjutkan tidurnya lagi. “Don…Ahh, dasar!”
Setelah acara home stay selesai, akupun kembali bersekolah seperti bisaanya. Kedekatanku dengan Ivi terus berjalan. Aku juga berfikir,”Apakah benar aku mencintai Ivi?” Pertanyaan itu aku pendam sendiri. Hanya tuhan yang mengetahuinya. “Dalam shalat Aku berdo’a, ” Ya Allah…kalau benar aku mencintai Ivi, bukakanlah hatinya untukku, ridhoilah kedekatanku dengannya, Aamiin!” Pertanyaan itu semakin hari semakin menampakkan jawaban. Ketika seorang perempuan, yang merupakan teman dekatnya, menanyakan kepadaku tentang perasaanku pada Ivi. Aku yakin Ivi juga merasakan hal yang sama denganku. Sekarang aku telah menemui jawaban dari pertanyaanku selama ini. Aku benar mencintainya. Tapi aku tidak ingin Ivi tahu secepat itu. Aku belum sanggup untuk jauh, apalagi harus kehilangan Ivi nantinya. Untuk itu aku memendam perasaan itu. Memang sulit memendam perasaan itu. Tapi aku sadar, dengan niat yang pernah kuikrarkan di awal pertemuan aku dengan Ivi. “Selama aku menganggapmu sebagai sahabat aku akan membuatmu untuk selalu tersenyum” niat itu selalu terngiang dalam pikiranku. “Kalau telah berniat, maka lakukanlah...!” Pesan pertama dari Ivi kepadaku.






.Perjalanan Menuju Cinta

Setelah lulus SMP, aku terus memendam perasaan Cintaku pada Ivi. Teman-teman mengetahui tentang kedekatan hubungan aku dan Ivi. Bahkan mereka tahu bahwa aku memang mencintai Ivi. Sehingga mereka selalu mengejek aku dan Ivi, saat kami lagi bicara berdua. Mereka seolah-olah selalu menjodohkan kami. Tapi aku dan Ivi menanggapinya dengan senyuman. Walau sebenarnya aku merasa senang, tapi aku menutupi semua itu. Kami hanya menanggapi itu dengan senyuman. Aku melanjutkan sekolah di SMA yang sama dengan Ivi. Aku tetap dapat bertemu dengan Ivi, dan teman-teman lain yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan kami. Suatu malam aku datang ke rumah Ivi, untuk mengembalikan bukunya yang telah aku pinjam. “Assalamu’alaikum” kataku sambil mengetuk pintu rumah Ivi. “Wa’alaikum salam” jawab seorang ibu, yang ternyata ibunya Ivi.
“Ivi nya ada, Ma?” tanyaku.
“Oo, Ivi belum pulang, ia masih di rumah maminya” jawab ibu Ivi. Maminya Ivi merupakan panggilan Ivi pada kakak ibunya, yang tinggal di dekat sekolahnya. Ibu Ivi kenal dekat denganku, karena aku sering berkunjung ke rumahnya. Dan sebelumnya aku juga sudah dikenalkan oleh Ivi pada ibunya. Di malam yang terang itu, aku menunggu kedatangan Ivi. Sambil menunggunya datang aku mengobrol dengan ibunya. Ibunya kelihatan sangat ramah saat bicara denganku. Panjang lebar kami bicara malam itu, baik tentang sekolah, karena ibunya seorang kepala sekolah. Bahkan ibunya banyak cerita kepadaku tentang kepribadian Ivi di keluarganya. Aku sangat terharu saat ibunya bercerita tentang Ivi. Saat ibunya tidak masak, ia tidak pernah marah, bahkan ia berkata,” Alhamdulillah, kita puasa aja sekarang ma!” katanya dengan ikhlas. Selain itu, di sekolah Ivi jarang sekali berbelanja di kantin. Akupun menanyakan hal itu pada ibunya. “Astagfirullah” aku terkejut mendengar jawaban dari ibunya. Ternyata Ivi tidak berbelanja di kantin karena ia tidak punya uang. Ibunya tidak punya uang lagi, gajinya sudah habis untuk keperluan sehari-hari. Uang belanja Ivi, kakak dan adiknya diambil dari gaji pensiunan ayahnya, tapi itu juga dibagi dengan anak ayahnya yang lain. Ingin berlinang air mataku rasanya, mendengar semua cerita ibunya, tentang ketabahan Ivi dan saudaranya dalam menjalani cobaan demi cobaan yang menimpanya. Tapi aku berusaha menahan air mata yang telah memerahkan mataku. “Asalkan kamu tahu Nak, rumah ini bukanlah rumah kami awalnya, ini adalah pemberian dari saudara ayah Ivi, yang kasihan pada kami yang belum memiliki rumah…!, Alhamdulillah, sekarang kami telah memiliki rumah sendiri, ditambah rumahnya sangat bagus” kata ibu sambil meneteskan air matanya. Aku terharu, aku tersipu. Dan aku juga bangga dengannya. Tak ada alasan lagi untukku menahan air mata ini. Tetesan air mataku membasahi buku yang ku pegang.
“ Ya…Allah, terima kasih kau telah mempertemukan aku dengan orang yang tabah dalam setiap cobaanmu, seperti Ivi dan keluarganya, berikanlah perlindungan bagi mereka Ya Allah…!” Do’aku dalam hati. Disaat aku terus menunggu kedatangan Ivi, ibunya berpesan padaku, yang intinya ia menyatakan, “Setiap Kejujuran pasti berakhir dengan kebaikan”. Kata-kata itu dengan cepat melekat di hatiku, dengan suara rendah aku terus mengulang-ulang kata itu. “setiap kejujuran……! .
Tak lama setelah itu, terdengar suara motor metiks yang menuju pekarangan rumah, disambut langsung oleh pagar istana presiden, candaku pada Ivi. Karena pagar rumahnya Ivi sangat tinggi, jika dibandingkan dengan pemiliknya yang rata-rata pendek. Setelah aku bertemu Ivi, langsungku berikan buku Ivi yang kupinjam. Aku tidak menceritakan pada Ivi apa yang aku bicarakan dengan ibunya, sewaktu ia pergi. Hanya sebentar aku berngobrol dengan Ivi. Karena jam telah menunjukkan jam 9.00 WIB, menurut adabnya kan tidak boleh bertamu sampai larut malam di rumah teman perempuan. Kemudian aku langsung berpamitan untuk pulang. “Vi, aku pulang dulu ya…!, Ma…aku pulang dulu ya, Ma !” kataku sambil menyapa ibu Ivi yang telah berada di dalam rumah.
Di sekolah baru, tentu kita akan mendapatkan teman baru, dan guru-guru yang baru juga. Aku berharap aku masih tetap satu lokal dengan Ivi, karena kau ingin mengenalnya lebih dekat lagi, aku merasa ia telah menjadi inspirasi hidupku. Ia telah membawa, menampakkan dan mengisi hidupku dalam mengenal arti dari indahnya kebersamaan. Tapi apa kata…, aku tidak se lokal dengan Ivi. Tentu saja itu membuat hubungan aku dan Ivi agak menjauh. Bukan itu saja, tampaknya perlakuan Ivi padaku juga berubah. Sangat berubah….! Tapi kami masih sering sapaan dan ketemuan. Ivi masih sering memberiku nasehat-nasehatnya. Walau kami masing-masing memiliki kesibukan yang berbeda.
Setiap remaja akan beransur-ansur menuju kedewasaannya, baik cara berpikir, pandangan, kematangan emosional dan kematangan seksual. Terkadang dalam pencapaian itu sangat mengandung resiko. Maklum anak remaja…! Emosi yang meledak-ledak, pengaruh dunia luar sangat cepat merambat pada dirinya yang akan merubah kepribadian, baik kearah yang positif, maupun ke arah yang negative. Kepada remaja…, siapa sih? Yang tidak kenal dengan namanya cinta?
Cinta….cinta….lagi-lagi Cinta…! Itulah yang selalu melayang-layang di pikiran para remaja, khususnya yang sedang kasmaran. Hal itu juga aku rasakan, perasaan itu tak dapat lagi rasanya aku bendung, tak bisa lagi aku pendam sendirian. First Love selalu terngiang dalam pikiranku. Ketika aku belajar, aku melihat senyumnya terlukis indah di papan tulis. Ketika aku bekerja, teringat kata-kata pujian yang keluar dari mulutnya, yang secara tak sadar menambah semangat kerja. Bahkan saat aku tidur, aku selalu bermimpi bertemu dengannya, sangat indah berada di dekatnya..
Dia…dia…dan dia !!! yang selalu hadir dalam setiap langkah dan pikiranku. Membuat aku lupa segalanya, bahkan shalatku pun menjadi lalai dibuatnya. Perasaan yang tumbuh berkembang itu, mulai merubah diriku. Membuat aku terlena, lalai dan malas untuk berkembang. Dia…dia…itu membuat aku lemah dalam berprestasi, yang terfikir bagiku hanya untuk menyenangi hatinya, menarik perhatiannya dan untuk mencari waktu untuk berada di dekatnya. Bahkan hanya untuk mencari muka di hadapannya. Semua itu baru aku sadari, aku rasakan setelah aku disapa Tuhan dengan caranya. Aku tidak lulus dalam seleksi kafilah MTQ tingkat provinsi untuk mewakili daerahku sendiri, Tanah Datar,Sumbar. Sudah 2 kali aku menjadi juara di tingkat kabupaten, tapi pada seleksi di tingkat kabupaten, untuk mengikuti MTQ tingkat Sumbar, aku malah tidak lolos. Tapi alhamdulillah juga, Allah masih mengizinkanku untuk mengikuti MTQ tingkat Sumbar, walaupun utusan dari kabupaten lain. Hatiku sangat sedih, sudah selangkah lagi tinggal rasanya perjuanganku. Tapi Allah berkehendak lain. Semua jerih payah dan pengorbananku harus kandas di tengah jalan, karena aku sakit, pada saat seleksi tahap terakhir, sebelum penentuan kelulusan. Aku sungguh terpukul. Cita-citaku dari kecil menjadi Qari Tanah Datar, belum juga aku raih. Berlinang air mataku, tanda mengungkapkan kekecewaan. Bukan itu saja… ! Allah juga menguji aku dalam prestasi di sekolah, aku yang bisaanya masuk ranking 5 besar, sekarang aku mendapatkan ranking 14 di kelas. Belum kekecewaanku hilang, sekarang aku harus menerima kenyataan prestasi belajarku yang menurun. Penceramahan dari orang tua pun aku dapatkan. Sungguh terenyuh hatiku, hidupku menjadi hampa. Kegelapan terpancar dari wajahku. Aku berfikir, berkumpul dengan teman- teman akan menambah cerah hatiku. Tapi apa yang aku dapatkan, hanya sekedar perkataan-perkataan kotor yang sering terucap dari mulut teman-teman kemalaman. Aku mulai terayu oleh cinta yang merugikan. Hal itu terasa saat aku teringat dengan peristiwa yang dialami oleh Pak Usman. Cintanya telah menjerumuskan ia sendiri, sehingga ia harus pulang ke kampung dengan rasa malu, tanpa gelar sarjana di pundaknya. Kebanggaan orang tuanya harus lenyap, ketika anaknya yang merupakan mahasiswa undangan, dengan beasiswa yang ia dapatkan. Sekarang harus di DO (Drop Out) dari kampusnya, karena skripsinya tak juga selesai, setelah 7 tahun berkuliah. Tapi aku yakin cintaku telah tumbuh karena Allah.

*****




Tiga Pertanyaan Buat Ivi Zakia
Di suatu malam yang indah, diterangi bintang-bintang yang bersinar terang, telah melukis tempat jatuhnya pandanganku, saat aku datang menemui Ivi. Dengan maksud mengakiri penderitaan yang selama ini telah mengiris hatiku secara pelan-pelan. Tak bisa lagi rasanya Cinta ini dipendam sendiri, ‘air sudah melimpah dibendungan’. Tapi tak tahu kenapa pikiranku jadi tak tahu arah dan tujuan, sangat kacau, takut salah, gerogian dan takut kehilangan, sudah bercampur jadi satu.
” Tapi ini harus aku sampaikan” kataku dalam hati. “Ivi, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?” tanyaku memulai pembicaraan. “Tentu, apa itu?” tanya Ivi penasaran. Dengan perlahan aku mulai bicara,
” Menurutmu, Salahkah jika seorang laki-laki mencintai seorang perempuan?”. “Tentu tidak, itulah fitrah dan yang seharusnya terjadi.” Jawab Ivi dengan mudahnya.
“Salahkah jikalau aku yang merasakan Cinta itu?” tanyaku lagi. “Ya…tidak lah! Itukan suatu yang wajar, kamu kan juga laki-laki?, jadi boleh donk mencintai dan dicintai oleh seorang perempuan! Atau kamu….!” jawab Ivi dengan bercanda. Sebenarnya aku agak kesal dengan tingkah Ivi, disaat aku bicara serius, ia malah menanggapinya dengan bercanda. Alasannya ia tidak bisa bicara serius, kayak gitu…!
“Dan pertanyaan terakhir. Salahkah Jika perempuan yang aku cintai itu adalah kamu?” kataku dengan geroginya. Ivi terkejut dan ia terdiam sejenak.
Lalu ia tersenyum. “Kamu tidak salah kok! Itu ya…terserah sama kamu, itu hakmu unutk mencintai seseorang.” jawabnya.
” Tapi bagaimana dengan kamu, apakah kamu merasakan hal yang sama, dengan apa yang aku rasakan?” tanyaku penasaran.
“ Maaf, aku belum mengetahui 100% bagaimana perasaanku yang sesungguhnya padamu. Kayaknya aku juga memiliki perasaan khusus padamu?” jawab Ivi yang membuat aku menjadi bingung dengan jawabannya. “Maksudnya, Ketika dibilang aku tidak menyukaimu, tapi aku merasa nyaman bila dekat denganmu, namun kalau aku bilang suka padamu, tapi kadang-kadang aku cuek padamu. Untuk itu lebih baik kita jalani aja dulu, entar klo memang kita cocok, rasa itu akan nyatu dengan sendirinya, tanpa diberi label.” Jawab Ivi lagi sambil tersenyum padaku. Aku terdiam dengan jawabnya. Sambil menunggu lanjutan jawaban darinya. Tapi sudah ku tunggu-tunggu, ia tak kunjung bersuara. Karena itu aku putuskan untuk mengakhiri pertemuan aku dengannya malam itu. Namun tiba-tiba ia berkata lagi. Aku berharap ia menjawabnya, “Menolak atau menerimaku”. “Tapi aku yakin aku pasti diterima. “kataku dalam hati.
“ Cintailah aku karena Allah !!!” katanya dengan singkat.
Setelah bicara dengannya, aku kembali berjalan pulang dengan perasaan bimbang dan kecewa. Sebelumnya, aku sangat yakin bahwa ia juga mencintaiku, tapi apa jawabnya. “Cintailah aku karena Allah…!”katanya. “Jadi selama ini aku mengenalmu dan mendekatimu karena siapa? “ tanyaku sendiri dengan kesal. Setelah sampai di rumah, tentu pikiranku agak terganggu. Aku melampiaskan kekecewaanku pada meja kecil di kamar tidurku. “Traaaaaakhh!” bunyi meja yang patah, yang membuat tanganku berdarah memukulnya..
Keesokan shubuhnya, aku terbangun dari tidurku karena panggilan Sang IIllahi, dengan suara azannya yang berkumandang begitu merdu. Di tengah keheningan shubuh, dimana orang-orang pada terbaring kaku dengan selimut tebalnya. Aku melangkahkan kaki ke kamar kecil untuk membasuh muka dan berwudhu’. Memang hari ini sangat dingin sekali, karena sekarang lagi musim hujan. Tapi dengan kekuatan batin yang menggetarkan hatiku, melupakan semua itu. Dengan langkah yang diikuti wudhu’, aku berjalan menuju mesjid dimana azan dikumandangkan. Aku juga bertanya-tanya,”siapa yang azan itu ya…?” Bagus sekali azannya….!” tanyaku penasaran. Setelah aku sampai, shalatpun segera dilaksanakan dengan hikmat.
Setelah shalat selesai, orang-orang pada pulang, tapi aku duduk bersandar pada tiang mesjid yang besar untuk menikmati hawa shubuh dan ceramah agama dari ustadz. Tapi ternyata hari itu tidak ada pengajian. Akupun bangkit dan segera berjalan menuju pintu keluar untuk pulang. Namun sebelum sampai diluar, aku melihat dua orang anak yang sedang tidur-tiduran di shaf belakang. Aku menyimak perkataan mereka. “Bang, panggilan siapa yang abang jawab duluan, ketika ayah dan ibu sama-sama memanggil kita.” tanya salah seorang dari mereka yang lebih kecil. “Tentu, ibu Dik” kata yang satu lagi. “Kalau antara panggilan Tuhan dengan ibu, Bang?” tanya ia lagi. “Haruslah Allah kita sahut duluan” jawab kakaknya lagi. “Tapi kenapa banyak, khususnya remaja yang mendahulukan kepentingan manusia daripada kepentingan Allah? ” “contohnya bagaimana?”tanya kakaknya. “Ketika azan berkumandang, telpon dari ceweknyapun berbunyi, panggilan manakah yang didahulukan…?”
Mendengar pertanyaan itu, aku merasa tersindir. Aku berjalan keluar meninggalkan anak itu, dan terus berjalan pulang. Namun pertanyaan itu, mengingatkanku saat aku pernah membatalkan shalatku, karena mengangkat telpon dari Ivi. Aku jadi merasa bersalah. “Ya…Allah, maafkan aku…! Sekarang aku merasa jauh dariMu, curahkanlah hidayah imanmu padaku ya Allah…” Setelah sampai di rumah, aku ingat dengan perkataan Ivi,” Cintailah aku karena Allah” . Dengan berpikir sendiri aku ingin mencoba menjawabnya dengan membandingkan dengan apa yang telah aku lakukan. Setelah aku ingat-ingat lagi,” Astagfirullah, sungguh aku sudah bersikap aniaya pada diriku. Aku merasa apa yang telah aku perbuat sudah karena Allah, mencintai Ivi sudah karena Allah. Tapi apa buktinya. Aku sadar, dengan perkataan anak tadi. Aku telah berbuat sesuatu yang salah. Ingin bercinta karena Allah, tapi malah lupa denganNya. Cinta pada makhluknya telah membuat aku hanyut dan terombang-ambing dalam kenistaan dan kesia-siaan. Ibadahku jauh dari kekhusukan, pikiranku hanya membayangkan wajah Ivi yang kemerahan (Umairah), cantik dipandang dan menyejukkan hati, dengan jilbab putihnya yang terurai panjang, menutupi kehormatannya. Di setiap hamparan sajadah shalatku. Tapi apa jadinya? Hatiku dibuatnya kecewa dengan jawaban yang membingungkan. Aku sangat menghayati perjalanan cinta pada Ivi. Tapi ia hanya membalasnya dengan jawaban singkat, yang tampak Usngan mudah dan sepelenya ia ucapkan.” Mungkin aku juga merasakan hal itu” jawabnya. Aku salah….! Terlalu cinta padanya. Dan membuat aku tak sanggup bila kehilangannya.
Dalam hati yang resah dan pikiran yang labil, malam itu, aku melangkah ke mesjid dengan tujuan berbagi cerita dengan ustadz mesjid, yang tidak jauh dari rumah. Aku dan Ustadz itu telah lama kenal, walau ia lebih tua dariku 2 tahun, tapi kami kelihatan sama besar, karena badannya yang tidak terlalu besar. Itu tidak menjadi penghalang bagi kami, untuk saling bercerita masalah pribadi remaja. Kami sudah sangat akrab berteman, ia sering menceritakan masalah pribadi yang ia alami padaku. Mulai dari ia jatuh cinta, sampai kehidupan di keluarganya. Itu membuat hubungan kami menjadi akrab dan saling keterbukaan. Aku menceritakan masalahku padanya, bahwa aku telah mencintai seorang perempuan dengan sepenuhnya, tapi perempuan itu, hanya menganggap itu sesuatu yang bisaa, dan menanggapinya dengan santai dan sepele. Membuat aku kecewa dengannya. Ingin rasanya aku melupakannya. Tapi apa kata, aku telah terlanjur mencintainya. Aku merasa tak sanggup bila kehilangannya.
“Pikiranku kacaaaaaaauuuu!” teriakku. Lalu ia berkata,” Hai sobat…!” tegurnya padaku.
“Masih ingatkah kamu pada Allah?” tanya ia padaku. Aku bingung dengan pertanyaannya, “Maksud, mu apa?” tanyaku balik. “Maaf , bukan maksudku menyinggungmu, jika kamu ingat pada Allah, tentu Allah lebih ingat pada Allah. Ketika Allah ingat padamu, maka hatimu akan tenang dalam menghadapi masalah. Tapi menurut penilaianku sekarang kamu tidak ingat pada Allah, kamu telah lupa dengan Allah, menyebabkan pikiranmu kacau”
“Jika kamu benar-benar memiliki rasa cinta, siapakah yang kamu pilih. Ketika kamu harus menjawab cinta dari mereka berdua, ‘ Allah…………? atau perempuan itu?’ “ tanya ia padaku. Aku hanya diam merenung.
“Bukankah cinta yang hakiki itu hanya pada Allah !” katanya padaku lagi. “Kamu memang salah sobat…! , Kau telah menyia-nyiakan CintaNya padamu. Ia telah memberikan prestasi yang cukup membanggakan padamu, tapi kau malah menduakan cinta dariNya. Bahkan ketika itu, Dengan kemurahannya Ia masih mengizinkanmu untuk terus berprestasi. Ia menerima kamu apa adanya, tak pernah ia menuntut lebih darimu. Ia tak pernah memandang dari rupamu, tak peduli dari mana keluargamu. Ia bahkan tak mengharapkan balasan materi darimu. Yang Ia inginkan darimu hanyalah Cinta yang Hakiki darimu.“
“Tapi kenapa sekarang, dengan mudahnya kamu melupakanNya, setelah apa yang telah diberikannya padamu?” “Padahal perempuan itu hanya membuat kamu bermimpi. Namun setelah kamu bangun. Kamu baru menyadari bahwa kamu telah jatuh dari tempat tidurmu.” Jelasnya lagi.
Tanpa kusadari air mataku telah membasahi pipiku. Aku baru menyadari hal itu. Keheningan malam menambah haru suasana hatiku. Namun aku teringat dengan tulisan seorang penulis senior di dalam bukunya,’Kasidah-kasidah Cinta’, Ia berkata,”Cinta itu bagaikan api tungku, Hati sebagai tungkunya, jiwa adalah perapiannya dan kata-kata cinta adalah apinya yang bergejolak” maksudnya, Orang yang sedang jatuh cinta akan terenyuh dengan kata-kata dan rayuan cinta, yang membuat mereka berlaku dan berbuat, yang kadang-kadang melebihi batas kemampuannya sendiri, seperti mendapatkan sebuah kekuatan extra, yang luar bisaa, yang diibaratkan dengan sebuah kobaran api. Dan setiap kata-kata cinta yang mereka lontarkan, akan terus menyala-nyala, membuat kobaran api yang dapat membakar hati mereka. Sehingga mereka lupa dengan siapa mereka yang sebenarnya. Itulah besarnya kekuatan cinta yang melebihi keganasan raja hutan sekalipun.
Dalam tahajjud aku berdo’a dan seraya bertaubat, “Ya Allah, sungguh aku telah menduakan CintaMu. Aku baru sadar cinta itu ada, hanya karenaMu, Cinta yang hakiki. Hari ini aku baru mengerti maksud dari permintaan Ivi, “Cintailah aku hanya karena Allah”
Setelah beberapa hari kemudian. Beransur-ansur aku mulai merasakan indahnya cinta itu kembali. Walaupun ucapan itu belum aku dapatkan dari Ivi. Kebersamaan dan kasih sayang, kembali kami rasakan, satu sama lain. Sekarang aku kembali bangkit melangkah menuju keberhasilan untuk mendapatkan prestasi lagi. Hidupku semakin terarah dan bertambah semangat dengan gelora cinta bersama Ivi. Pesan Ivi selaluku ingat, karena itu menjadi dasar kedekatan kami, “Cintailah aku karena Allah!!!”


******





6.Syukur Dibalik Musibah
Pernikahan membuat banyak orang bahagia, begitu juga yang di rasakan pak Zaenal dengan istrinya bu Ilfi, yang baru saja menyelesaikan acara perhelakan mereka. “Mas…! Aku sangat senang sekali, mempunyai suami yang baik dan sukses, seperti dirimu, Mas…!” kata bu Ilfi pada pak Zaenal yang sekarang telah resmi menjadi suaminya. “ Aku juga bahagia mempunyai istri cantik dan shalehah, seperti kamu!” balas pak Zaenal dengan mesra.
Pak Zaenal adalah seorang pengusaha bangunan yang kaya dan sukses. Tapi kekayaan dan kesuksesannya itu tidak membuat ia lupa diri, apalagi lupa pada Sang Pencipta. Ia selalu beribadah kepada Allah, dan wujud syukurnya ia selalu membagi-bagikan sebagian rezkinya pada orang-orang yang membutuhkan, apalagi pada anak yatim. Jika kita lihat sepintas lalu, tak ada yang kurang lagi rasanya pada pak Zaenal. Wajahnya lumayan tampan, dengan kulit sawo matang, istrinya pun shalehah, harta bendanya cukup, bahkan ia terkenal orang kaya yang sukses di komplek perumahan tempat ia tinggal.
Saat mereka sedang menikmati pemandangan yang indah di rumah barunya, pak Zaenal berkata pada istrinya, “Wahai istriku yang tercinta…! Walaupun kita telah menjadi orang sukses, dengan kekayaan yang berlimpah, aku tak mau nantinya, kita akan menjadi orang yang sombong dan kikir. Kita harus selalu beribadah dan bersyukur pada Allah. Karena aku yakin ‘Bukan kesuksesan yang harus membuat kita bersyukur, tapi bersyukurlah yang akan membuat kita sukses’” “ istriku…!, aku ingin kau mencintaiku bukan karna harta bendaku, pangkat atau jabatanku. Tapi aku berharap kau selalu mencintaiku, ikhlas karena AllahliIllahi ta’ala.”
“Subhanallah, sungguh mulia hatimu, Mas!” kata bu Ilfi terkagum mendengar kata-kata suaminya. Insya Allah, aku akan selalu mencintaimu, bagai manapun keadaanmu. Dan aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan perhatian pada suami.” Jawab bu Ilfi dengan ramahnya.
“Mulai sekarang, kamu tidak usah panggil aku, Mas lagi ! kamu panggil saja aku bapak! Kan suatu saat nanti aku akan jadi bapak dari anak-anakmu” Kata pak Zaenal sambil bercanda”
“Baik, Mas…, ehh maaf, bapak…!”jawab istrinya dengan senang hati.
Banyak orang yang kagum pada pak Zaenal, walaupun ia orang kaya, tapi ia hidup dalam kesederhanaan, ia tidak memilki pembantu, semua pekerjaan rumah mereka lakukan berdua, dengan penuh kebahagiaan. Ia tidak pernah kikir, dan selalu bersyukur pada Allah.
Tapi…! dibalik kebahagiannya , pak Zaenal masih merasakan sesuatu yang kurang dalam hidupnya, terutama masalah kelangsungan keturunannya. Ia sangat mengharapkan tangisan bayi menyemaraki rumahnya.
Setiap hari mereka berdo’a pada Allah, agar dikaruniai seorang anak. Namun tanda-tanda kelahiran itu, tak kunjung dirasakan bu Ilfi. Ia belum juga merasakan mual-mual yang menandakan kehamilan baginya.
Waktu terus berjalan memasuki usia kelima dari awal pernikahan mereka berdua. Tapi mereka belum juga dikaruniai seorang anak pun. Tampaknya kesabaran mereka sedang diuji Sang Khaliq.
“Bu, kenapa ya.., sudah lima tahun kita berkeluarga, belum juga dikaruniai seorang anakpun? Apakah tuhan tidak sayang ya sama kita? Tanya pak Zaenal pada istrinya. “Usssh…, tak boleh bicara gitu, kita harus sabar pak…!”jawab ibu lembut.
“Sabar… sampai kapan, Bu? Sampai mati…!” tambah pak Zaenal dengan suara agak kesal. Mendengar keluhan itu, bu Ilfi merasa tersinggung. Ia merasa bersalah tak bisa mewujudkan keinginan suaminya untuk memiliki seorang anak. Begitu kodratnya wanita, sangat lembut hatinya, sehingga ia mudah tersinggung. Bu Ilfi tampak bersedih, tanpa terasa air matanya telah membasahi pipinya. Pak Zaenal tak kuasa, kalau harus melihat istrinya menangis, karena ia begitu menyayanginya. Pak Zaenal berusaha mendiami istrinya dan langsung meminta maaf .
“Maaf bu, bukan maksud bapak membuat ibu menangis, maafkan bapak bu!” kata pak Zaenal merasa bersalah.
“ Dulu, saat bapak mengejar-ngejar ibu, pernahkah bapak merasa capek dan mengeluh?” tanya bu Ilfi dengan lemah. “ Bahkan dulu bapak rela mempertaruhkan nyawa, untuk menyelamatkan ibu dari sambetan motor. Dan akhirnya pun bapak berhasil membuat hati ibu luluh, dan mendapatkan cinta dari ibu ! Tapi kenapa sekarang bapak mudah mengeluh? Mungkin ini adalah cobaan dari Allah untuk menguji cinta kita, padaNya, pak…! Kita harus selalu berusaha dan berdo’a padaNya, karena hanya Dialah yang dapat menolong kita!” jelas ibu.
“ Ya…Bu ! maafkan bapak.” Kata pak Zaenal sambil memeluk erat kekasih hatinya itu.
Di suatu malam yang sunyi, mereka bangun dari tidurnya. Mereka membasuh muka setelah dengan air wudhu’, untuk melakukan shalat sunat tahajjud.
Suasana malam yang mengharukan, tenang, sejuk dan penuh kedamaian, membuat air mata mereka pun tak dapat di tahan lagi, untuk berdo’a dan bermunajat kepada Allah SWT. Semua isi hati mereka curahkan.
Malam itu, seakan dunia ini hanya milik mereka berdua. Tak ada yang dapat menghalangi kedekatan dan kekhusukan mereka dengan Sang Pencipta. Dengan menengadahkan tangan, suara yang merendah dan air mata yang terus berlinang, mereka berdo’a, seraya memohon,”Ya Allah…! Karuniailah kami seorang anak yang shaleh dan shalehah” do’a itu terus diucapkan, tak henti-hentinya mereka memohon. Agar do’a mereka diijabah oleh Allah.
Subhanallah…!, memang Allah tak pernah menyia-nyiakan ketulusan do’a dari hamba-hambaNya yang bersungguh-sungguh meminta belas kasihan dariNya. Sebulan setelah malam itu, Allah memenuhi janjinya, untuk mengijabah do’a hamba-hamba yang beriman dan taat padaNya. Istri pak Zaenal mulai merasa mual-mual, yang menandakan kehamilan bagi kaum ibu, mengandung janin yang kelak akan tumbuh menjadi seorang bayi.
Pak Zaenal dan istrinya sangat senang dengan hal itu, keceriahan sangat tampak pada wajah mereka. Apalagi pak Zaenal, yang sakin senangnya, saat mendengar kabar dari istrinya, ia langsung loncat dari mobil truk pekerjanya, untuk segera menemui istrinya yang sudah menunggu di dalam rumah. Ia peluk istrinya dengan erat, dan ia langsung sujud syukur, menandakan ucapan terima kasih pada Allah.
Ibarat seseorang yang di beri air saat kehausan di tengah padang pasir! Tentu ia sangat gembira. Kegembiraan itu diwujudkan pak Zaenal dengan mengadakan syukuran di rumahnya, dengan mengundang keluarga, teman-teman dan karib kerabatnya.
Sejak kehamilan istrinya, pak Zaenal lebih banyak di rumah untuk menjaga istri, Ia tak lagi bekerja sampai pulang larut malam. Kecintaannya pada istri dan anak yang masih dalam kandungan membuat ia menghentikan proyek kerja di suatu perusahaan. Karena ia tidak mau meninggalkan istrinya sendirian di rumah, ia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Menjelang kelahiran buah hatinya, pak Zaenal selalu memperhatikan istrinya, hingga ia tak tidur demi menjaga istrinya. Sampai pada suatu malam , sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, saat pak Zaenal sedang membuat kopi di dapur, Ia terkejut saat mendengar suara istrinya yang merintih kesakitan. “Sa…kit, sa…kit, pak…!” rintih istrinya. Ia langsung berlari meninggalkan kompor yang sedang ia hidupkan untuk memasak air. Pak Zaenal tidak menyadari hal itu.
“ada apa, bu…?”tanya pak Zaenal pada istrinya yang terus merintih kesakitan. Istrinya tak menjawab, ia hanya bicara, “sa…kit, sa…kit, dan sakit!” Pak Zaenal menjadi panik melihat istrinya yang terus merintih kesakitan. Firasat pak Zaenal mengatakan bahwa istrinya akan melahirkan. Tanpa pikir panjang lagi, pak Zaenal langsung membawa istrinya ke rumah sakit, spesialis kandungan.
Tapi dibalik itu, pak Zaenal lupa bahwa api kompornya masih hidup di rumah. Karena kepanikannya, membuat ia lupa hal itu. Setelah tiba di rumah sakit, istrinya langsung masuk ke ruang persalinan. Pak Zaenal tidak boleh masuk, ia harus menunggu istrinya di ruang tunggu. Kecemasan terus datang menghantuinya, ia takut ada apa-apa dengan istrinya. Apalagi ini kali pertamanya ia merasakan hal ini, setelah lima tahun menunggu.
Kegelisahan terus mewarnai pak Zaenal. keringatnya bercucuran. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya. Karena tak ada yang dapat ia perbuat untuk menolong istri dan anaknya. Selain hanya duduk menunggu dan memanjatkan do’a untuk keselamatan anak dan istrinya. Dengan segenap tenaganya ia menelpon saudara dan keluarganya. Memberikan kabar kalau istrinya mau melahirkan.
Tak lama setelah itu satu persatu keluarganya datang, menemani pak Zaenal untuk menunggu proses persalinan. Tanpa terasa azan shubuh telah berkumandang di mesjid yang ada di rumah sakit. Pak Zaenal pun melangkahkan kakinya untuk segera melaksanakan shalat berjamaah di mesjid. Setelah shalat ia pun menengadahkan tangan seraya memohon pada Allah,” Ya…Allah, Demi nama-namaMu yang baik, berikanlah keselamatan bagi anak dan istriku. Berikanlah aku anak yang shaleh dan shalehah” Pak Zaenal pun menutup do’anya dengan sujud memohon pada Allah SWT.
Setelah sampai di ruang tunggu, mendapati dokter sudah keluar dari ruang persalinan. Ia bergegas menemuinya, “Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?” tanya pak Zaenal cemas. “alhamdulillah, anak dan istri bapak sehat dan persalinannya berjalan lancer, selamat ya pak…!” jawab dokter yang menanganinya. “Alhamdulillah”, pak Zaenal langsung menemui anak dan istrinya yang sudah tidur berdampingan. Ibu dokterpun ikut menemani pak Zaenal.
Tapi pak Zaenal bingung, melihat dua bayi yang terus menangis di samping istrinya. “Selamat ya pak, anak bapak kembar! Laki-laki dan perempuan” kata bu dokter lagi. Pak Zaenal langsung sujud syukur. Ternyata Allah tidak mengabaikan do’anya. Bahkan lebih dari apa yang ia minta, dua orang anak sekaligus.
Tangisan bayi yang diberi nama Faisah dan Faizal, membuat hati pak Zaenal jadi semarak dan merasa melayang di tengah ke bahagiaannya. Semua keluarganya juga ikut bahagia. Dan memberikan selamat pada pak Zaenal, yang sekarang telah menjadi ayah dan istrinya yang sekarang juga telah menjadi ibu untuk bayi kembarnya.
Namun kegembiraan itu berhenti sejenak, setelah pak Zaenal dan istrinya, melihat rumahnya yang telah hangus terbakar. Orang-orang berusaha menyelamatkan barang-barang pak Zaenal, tapi sayangnya, tak berapa yang dapat mereka selamat. Melihat rumahnya yang sekarang hanya tinggal puing-puing, pak Zaenal malah tersenyum. Sementara istri dan keluarga istrinya, sangat sedih menyayangi peristiwa itu. Para tetangga yang ikut berdatangan melihat puing-puing rumah pak Zaenal yang masih tersisa pun jadi heran dengan sikap pak Zaenal yang dapat tersenyum melihat rumah yang telah habis terbakar.
“Pak Zaenal, kenapa anda masih sempat tersenyum, seolah-olah kamu bersyukur atas rumah dan beserta kekayaanmu sudah ludes terbakar?” tanya seorang pak tua yang ikut datang melihat puing-puing rumah pak Zaenal. “Oh…pak!”kata pak Zaenal yang terkejut. Kemudian pak Zaenal berusaha menjawab, “Pak salahkah aku bersyukur, yang pertama, karena aku selamat dari kebakaran itu, dan masih bisa hidup lengkap beserta keluargaku. Yang kedua, aku bersyukur karena Allah telah sayang padaku” jawab pak Zaenal. Pak tua itu tambah bingung dengan jawaban pak Zaenal. “Sayang bagaimana maksudmu, nak?” tanya pak tua itu lagi. “Dengan kejadian ini, saya berpikir Allah sedang menguji saya, bukankah belum beriman seseorang sebelum Allah mengujinya? Kemudian saya berpikir, Allah sayang pada saya, karena Ia tidak mengizinkan saya untuk terbuai dan hanyut di tengah kekayaan menyesatkan! Saya sangat bersyukur pak…, sangat bersyukur!!!” Kata pak Zaenal sambil tersenyum.
Tapi pada saat ia menoleh ke arah pak tua itu lagi. Pak tua itu sudah tidak ada. Saat di tanya pada istrinya, ia tidak pernah melihat Pak Zaenal bersama orang lain sejak tadi. Mendengar itu, merinding bulu roma pak Zaenal, dan bertanya-tanya, yang tadi itu siapa?
Sekarang pak Zaenal dan keluarganya, sudah tidak ada rumah lagi, rumah beserta kekayaannya sudah terbakar. Dengan kebaikannya dulu kepada para pekerjanya, membuat pekerja itu ingin membalas kebaikan yang pernah ia dapatkan dari pak Zaenal. Sebut saja namanya pak Gani. Ia memberikan sebuah rumah yang sederhana, pada pak Zaenal dan keluarga, yang merupakan wujud dari terima kasihnya kepada pak Zaenal, yang telah menyelamatkan hidupnya dulu, saat mereka kesulitan. Sekarang pak Zaenal tinggal di itu.
Walau rumahnya sederhana, pak Zaenal tidak merasa malu, kalau harus tinggal di rumah kecil seperti itu. Malah ia sangat senang dan berterima kasih pada pak Gani dan keluarga yang sudah memberinya tempat tinggal. Di sanalah pak Zaenal dan istri membesarkan anak kembar mereka, Faisah dan Faizal. Mereka hidup bahagia dan penuh kasih sayang dalam kesederhanaan.

******






Faisah dan Faizal, Anak Kembar

Hari berganti hari, membuat Faisah dan Faizal tumbuh besar. Mereka memang kembar, tapi mereka terlihat sangat berbeda. Perbedaan antara sang kakak, dengan adiknya Faizal semakin terlihat saat mereka tumbuh remaja. Mulai dari warna kulit, wajah, rambut, dan penampilan lainnya mereka sangat berbeda. aizal lebih mewarisi roman ibu yang cantik. Kulitnya putih bersih, lesung pipit pada kedua pipinya menambah ketampanannya, alis mata yang tebal menantang dan rambutnya yang bergelombang selalu tertata rapi. Hidung yang mancung berpadu manis dengan bibirnya yang tipis, badan tinggi dan tegap menambah gagah penampilannya.
Itu sangat berbeda dengan Faisah, wajahnya mewarisi wajah ayahnya, pak Zaenal, yang memiliki kulit kehitaman, dan kasat seperti kulit para pekerja keras yang telah lekong karena terik matahari. Rambutnya yang keriting menjulang, sehingga banyak teman – temannya yang mengatakan rambutnya. “Sarleb” alias sarang lebah. Bukan itu saja rahang gigi yang maju beberapa senti, mengakibatkan mulutnya susah untuk dikatupkan, badan yang besar tidak didukung dengan badan yang tinggi, membuat teman – teman jeles bila dekat dengannya. Teman cowoknya tak mau dekat dengan, bahkan mereka sering mengejek Faisah, kalau ada sedikit saja yang aneh darinya.
Sejak kecil Faisah tidak senang dengan kehadiran adiknya, ia merasa kehadiran Faizal, telah merampas haknya apalagi haknya sebagai anak yang tua. Ia merasa Faizal bak mutiara yang berkilauan di tengah keluarga. Di usianya yang masih beranjak 10 tahun ia telah meraih beberapa prestasi, lomba melukis, lomba renang, seni kaligrafi dan peringkat satu di kelasnya.
Pernah pada saat penerimaan lapor, Faizah melihat nilai Faizal ditumpuki oleh angka 9, pujian – pujian pun diucapkan ayah, guru – guru dan teman Faizal. Hal itu membuat Faisah iri dengan adiknya. Ketika ayahnya berada di lokal Faisah yang ditemani Faizal. Keceriaan di wajah ayah berubah jadi malu dengan guru, wali kelas Faisah. Melihat tinta merah yang mendominasi nilai lapor dari Faisah. Dengan wajah cemberut ayah keluar dari lokal Faisah.
Saat di rumah ayah tidak memarahi Faisah, atau memukulnya. Tapi ayah malah memberi semangat padanya. ”Semangatlah belajar Faisah, kamu pasti bisa seperti adikmu, Faizal. Kalian kan saudara kembar.” Kata ayah memberi Faisah motivasi. Walau ayah memberi dukungan dan motivasi padanya, tapi Faisah merasakan kata – kata itu merupakan ejekkan untuknya.
Sejak menerima lapor dengan hasil yang tidak mamuaskan, karena dipenuhi angka merah yang mencerahkan lapornya. Faisah memilih untuk mengurung diri di kamarnya. Ia lebih suka melamun dan memandangi rerumputan yang merusak keindahan tanaman, terutama bunga – bunga kesukaan ibu di taman. Ia mendengar suara desikan jengkrik, siul kodok dan binatang lata lainnya, yang seakan-akan terus berbunyi mengejeknya. Membuat ia semakin kesal.
Di tengah kesendiriannya, Ia melihat kak Raka datang menghampirinya. Raka merupakan cowok yang paling populer di sekolah Faisah dan Faizal. Ia jago sekali bermain basket. Hati Faisah pun menjadi senang, ia mengira kak Raka datang untuk menghiburnya. Tapi ternyata…! ia malah mencari Faizal, untuk mengajaknya latihan basket. “Lagi-lagi Faizal…..!”kata Faisah marah.
Pada saat pulang sekolah, ayah menyuruh Faisah untuk pulang bersama Faizal. “Ini hanya karena ayah!” kata Faisah tidak mau dekat dengan adiknya.
“Siapa ini Faizal” tanya seorang teman Faizal ketika melihat Faisah di gerbang sekolah untuk menunggu Faizal.
“Oya. Kenalkan, ini kak Faisah saudara kembarku” jawab Faizal dengan ramah pada teman – teman yang sering pulang dengannya.
“Ah, kau pasti bercanda Faizal, kembar kok nggak sama…” ejek salah seorang temannya yang tidak percaya. “Betul, aku nggak bercanda, kok” jawab Faizal meyakinkan teman – temannya. “Aku tahu kok walaupun teman – teman Faizal mengangguk – angguk, tapi sebenarnya di hati mereka tidak mempercayai itu” kata Faisah dalam hati kesal.
“Lagian siapa yang percaya, Faizal yang gagah dan ganteng, memiliki saudara kembar , seperti aku ini, yang gemuk dan jelek”
“Semua ini salah Faisal. Kenapa ia harus ada, seandainya saja ia tidak ada, tentu hanya aku anak kesayangan ayah dan ibu, tidak ada teman – teman yang akan membandingkan aku lagi.
”Faizal, lebih baik…., kau tidak ada…!” teriak Faisah marah.
“Assalamu’alaikum. Kak!” sapa Faizal yang membuat Faisah menjadi terkejut. Faisah hanya diam, bahkan tak menjawab salam dari adiknya itu.
“Dari tadi aku perhatikan, kakak suka menyendiri dan merenung! Kenapa
kak? Apakah, kakak ada masalah?” tanya Faizal lagi. Faisah hanya diam dan melanjutkan renungannya. “Apakah yang dapat aku lakukan untuk kakak?” tanya Faizal lagi pada Faisah yang lagi-lagi tak menjawab.
“Tak ada yang perlu kau lakukan untukku!” kata Faisah marah. “Aku hanya minta kau mengembalikan kebahagianku yang kau rampas!” kata Faisah sambil menatap tajam pada Faizal. Faizal terkejut. “Apa maksud kakak?” tanya Faisal penasaran.
“Aku tahu kamu tampan, dikejar – kejar oleh banyak perempuan, kamu pintar, pokoknya yang baik – baik, kamu miliki, tapi kenapa kau masih mengambil hakku, perhatian ayah dan ibu, sehingga aku hanya menjadi sampah di tengah keluarga kita. Kau tak bisa merendahkanku begitu saja.
Kembalikan hak – hakku yang telah kau ambil!” ucap Faisah dengan nada tinggi dan penuh emosi.
Faizal terdiam dibuatnya, dia tak menyangka kakaknya bicara seperti itu.
“Maaf…. Maafkan Faizal, kak” kata Faizal takut dimarahi Faisah lagi. “Allah tak pernah menilai dan membedakan hambanya dari wajahnya, keturunannya, harta dan jabatannya, tapi ia hanya menilai hambanya dari keimanan dan ketaqwaan padaNya. Faizal tidak pernah malu mempunyai saudara seperti kakak, bagaimanapun bentuk kakak, kakak tetap saudara kembarku. Tidak ada orang yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata.”
“Ah, tak usah kau menceramahi aku, seperti ustadz” kata Faisah memotong pembicaran dari Faizal.
“Sekali lagi, maafkan aku kak! Assalamu’alaikum” kata Faisal sambil lari meninggalkan Faisah.
Semakin hari kebencian Faisah terus bertumpuk, kedengkian di dalam hati membuatnya jahat pada adik, saudara kembarnya sendiri. Saat adiknya sakitpun ia tidak peduli, kedendamannya telah meledak – ledak. Ia tidak menginginkan kehadiran adik kembarnya itu.
Di sekolah Faisah sering mendengar kabar bahwa adiknya sering pingsan. Tapi ia tidak peduli sama sekali. Bahkan Faisah pernah melihat sendiri adiknya pingsan, tapi ia malah meninggalkannya, seperti tidak ada kejadian apa-apa. Padahal teman-temannya sudah bergegas dan berlarian untuk membantunya. Tapi Faisah….! Kedendaman telah membutakan mata hatinya, walau itu pada adik kembarnya sendiri.
Kian hari Faizal kelihatan semakin kurus dan wajahnya yang putih bersih, sekarang telah memucat. Faizal sering mengeluh pada ayah dan ibunya, bahwa ia sering merasakan sesak napas, yang membuat lemah dirinya. Namun karena kesibukan ibu dan ayah, mereka menganggap itu hanya sakit yang biasa. Hanya cukup minum obat. Faizal pun juga tidak mau mengganggu ayah dan ibunya yang sedang dalam kesibukan mereka.
Faisah juga sering melihat keganjilan pada adiknya, ia sering melihat adiknya itu mengurung diri di kamarnya. Namun Faisah kembali tak peduli. Malah ia masih saja menyalahkan adiknya itu. Dan sering kufur atas nikmat yang diberikan Allah padanya. Di pikirannya, apa yang ada pada dirinya sekarang, tidaklah sebagus apa yang Allah berikan pada Faizal. ”Faizal hidup dalam kesempurnaan, sedangkan aku….!” “Kekurangan…Kekurangan…lagi lagi kekurangan untukku” kata Faisah kesal.


****

Tiba pada suatu sore, pada saat ayah dan ibu tidak ada di rumah. Faisah baru saja pulang sekolah, karena ia ada tambahan pelajaran di sekolah, sehingga ia harus pulang telat dari jam biasanya. Baru saja ia masuk ke dalam rumah, ia mendapati Faizal dalam keadaan merintih kesakitan sambil memegangi dadanya. “Tolong…Tolong, kak…!” pintanya. Faisah sangat iba dengan adiknya, ingin rasanya ia memeluk dan menolong adiknya. Namun ia telah terlanjur marah pada adiknya, membuat ia harus berpikir dua kali, menolong adiknya yang tampak bertambah parah. Akhirnya ia memutuskan untuk menolong adiknya. Namun nasi sudah jadi bubur. Faisah terlambat menolong adiknya. Ia terkejut saat mendengar kabar dari dokter yang mengatakan Faizal tidak dapat di tolong lagi. Dokter mengatakan penyakit kanker jantung yang di derita Faizal sudah sangat parah, sehingga ia harus kehilangan nyawanya. Ayah dan ibu juga terkejut mendengar itu. Selama ini ia tidak tahu, bahwa Faizal menderita penyakit yang sangat ganas itu. Ibu pingsan, saat melihat jenazah Faizal yang sudah terbujur kaku dengan kain putih yang menutupinya. Memang penyesalan terus datang terakhir. Faisah menyesali semua perbuatan yang ia lakukan pada Faizal. Karena kecemburuan dan kedengkiannya telah merenggut nyawa Faizal, adik saudara kembarnya sendiri.
“Maafkan aku juga ya Allah, yang telah kufur atas nikmat yang telah engkau berikan padaku, Aku sadar ternyata Faizal tidak sesempurna apa yang aku pikirkan dan bayangkan selama ini. Di balik keluhanku atas rupa yang tidak cantik, ternyata kau memberikan aku sesuatu yang paling berharga dari semuanya., yaitu Kesehatan” kata Faisah menyesali perbuatannya. Ibunya juga menyesal tidak mengindahkan keluhan Faizal saat ia merasakan sakit di dadanya.
Tak tahu kenapa, Faisah merasa wajahnya sudah basah oleh air. “Tapi…! Akukan tidak menangis” pikirnya bingung. Kokokan ayam jantan yang berisik, memecahkan pikirannya, yang membuat ia tersentak dan tiba-tiba,”duuuuughht!” ia jatuh dari tidurnya. Ternyata ia hanya mimpi. Dan wajahnya sudah basah karena tetesan air hujan dari atap rumahnya yang bocor. Maklum rumah lama, pemberian orang. “Alhamdulillah, ini tidak benar-benar terjadi” katanya sambil mengusap dadanya.. Saat ia keluar dari kamarnya, ia menemui ayah, ibu dan Faizal yang sedang makan bersama. Ia melihat Faizal dalam keadaan baik. “alhamdulillah, ternyata kamu masih hidup, Faizal !” kata Faisah yang membuat keluarganya jadi bingung, ayah, ibu, apalagi Faizal sendiri. Mereka tidak mengerti maksud Faisah. “Apakah kamu sudah bangun?” tanya ayah mengejek Faisah.
“Ha…ha….!” Serentak mereka menertawakan Faisah. Faisah tidak mau menceritakannya pada orang lain, ia malu untuk mengatakannya. Ia menyimpan semua kejadian yang ia alami sendiri. Dan menjadikan itu sebagai bahan pelajaran baginya. Agar selalu mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan Allah, karena apa yang Allah berikan, itulah yang sebenarnya terbaik bagi kita!
Sejak peristiwa itu, Faisah sering menasehati teman-temannya dengan kata-kata bijak yang ia rangkai sendiri,

“Kita Terkadang Terlalu Memikirkan Apa yang Belum Ada, Sehingga Kita lupa Mensyukuri Apa Yang Telah Ada! Yang Mengakibatkan Kita Hanya Memperoleh Sesuatu Yang Hampa, Yang Tak Lain Tak Bukan Hanya Untuk Kesia-siaan Belaka!!!”


******




Ada kesalahan di dalam gadget ini

Welcome

Selamat datang ke BOX saya
singgahlah
lihat-lihat apa saja hidangan yang ada dalamnya
mana tahu TUAN dan PUAN berkenan
ya download lah
terima kasih
Febrianto Ichigawa