Sabtu, 30 Oktober 2010

Persiapan UH II Kelas XI.IA

1.Sebuah benda bermassa 2 kg terletak pada bidang datar yang kasar (µs = 0,2 ; µk = 0,1). Jika benda ditarik dengan gaya 10 N dengan sudut elevasi 37o hitunglah besar gaya gesek dan percepatan benda!
2.Tiga buah planet bermassa sama yaitu 6 x 1020 kg membentuk segitiga samasisi. Jika jarak satu sama lainnya adalah 2000000 km hitunglah besar gaya gravitasi masing-masing planet!
3.Planet X dan Y memiliki massa sama dan jejari planet X empat kali lebih besar daripada planet Y. Jika berat sebuah batu di planet X adalah 100 N, berapakah berat batu itu di planet Y?
4.Jika percepatan gravitasi dipermukaan bumi adalah 9,9 m/s2. Berapakah percepatan gravitasi satelit yang berada pada ketinggian 2 R dari permukaan bumi?( R = jejari bumi)
5.Planet X dan Y bermassa masing-masing 4.1020 kg dan 9.1020 kg yang berjarak 5.106 m. Dimanakah letak titik yang memiliki kuat gravitasi nol akibat kedua panet?
6.Beban bermassa 2 kg digantung pada sebuah pegas yang panjang awalnya 60 cm. Jika konstanta pegas 200 N/m maka panjang pegas menjadi…..
7.Sebuah pegas panjang awalnya adalah lo. Jika pegas ditarik dengan gaya 10 N maka panjang pegas menjadi 10 cm. Jika pegas ditarik dengan gaya 20 N maka panjang pegas menjadi 12 cm. Berapakah panjang pegas jika ditarik dengan gaya 30 N?
8.Sebuah pegas panjang awalnya adalah lo. Jika pegas ditarik dengan energi 40 J maka panjang pegas menjadi 10 cm. Jika pegas ditarik dengan energi 90 J maka panjang pegas menjadi 20 cm. Berapakah nilai lo?
9.Sebuah benda bermassa 100 gram digantungkan pada sebuah pegas P sehingga panjang pegas bertambah sebesar 8 cm. Jika 2 pegas P dipasang seri, berapakah konstanta total pegas?
10.Pegas A dan B masing-masing memiliki konstanta 300 N/m dan 600 N/m. Perbandingan nilai konstanta pegas jika dipasang seri dengan dipasang parallel adalah ….

Kamis, 21 Oktober 2010

Tidak Perlu Berteman Dengan Stress dan Depresi

Tidak Perlu Berteman Dengan Stress dan Depresi
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Banyak orang mengungkapkan kata “stress” saat mengekspresikan perasaan tertekan yang ia alami. Namun orang jarang menggunakan kata “depressi” saat ia mengalami perasaan murung atau melankoliknya. Kadangkala saat murung mereka juga mengungkapkan bahwa mereka lagi stress. Stress dan depressi bisa menjangkiti pribadi siapa saja. Untuk itu kita perlu mengenalnya namun tidak perlu berteman dengan stress dan depressi tersebut.

1. Stress
Stress ternyata telah ada sejak usia kecil- sejak kanak-kanak. Banyak orang dewasa yang beranggapan stress itu hanya milik remaja dan orang dewasa. Sementara anak-anak mungkin jauh dari stress karena mereka selalu hidup riang dan gembira. Mereka belum punya beban fikiran. Dalam kenyataan bahwa anak-anak juga punya masalah dan punya stress. Itu diawali oleh perasaan khawatir dan cemas- sebagai penyebab stress. Stress merupakan perasaan tertekan dalam diri seseorang. Stress sendiri tentu punya sumber.

Jennifer Shroff (2008) mengatakan bahwa sumber stress yang melanda setiap orang dan termasuk anak-anak bisa berasal dari keluarga, teman dan sekolah atau tempat kerja. Namun stress juga bisa bersumber dari dalam diri sendiri. Rasa tertekan yang ada dalam diri terjadi karena adanya kesenjangan (ketidak sesuaian) antara apa yang diharapkan- apa yang difikirkan- dengan realita yang ada.

Seperti dinyatakan di atas bahwa stress bisa menjangkiti siapa saja. Anak kecil, dalam usia pra sekolah, juga bisa mengalami stress atau cemas, misal kalau ditinggalkan oleh orang tua. Kemudian saat anak berusia lebih besar, di usia remaja, maka sumber stress mereka bisa berasal dari faktor akademik dan tekanan sosial. Stress karena faktor akademik bisa terjadi karena dibebani oleh segudang tugas dan kegiatan sekolah. Problem akademis itu sendiri terjadi karena sang anak tidak bisa mengelola dan memanfaatkan waktu dengan baik.

Ada pribahasa sebagai berikut “little pitcher has big ear”- kendi yang kecil punya telinga besar. Ini berarti bahwa anak-anak (anak kecil) selalu memasang kuping untuk mendengar pembicaraan orang yang ada di sekitar mereka. Misal pembicaraan dari orang tua, kakak dan anggota famili yang lain. Anak kecil memang punya rasa ingin tahu yang besar. Mereka selalu memasang kuping untuk menangkap pembicaraan orang lain. Maka apabila orang tua sering berbicara tentang susahnya hidup, di rumah atau di tempat kerja. Ini pun juga membuat anak turut peduli dan ikut merasa cemas. Anak ikut cemas melihat pertengkaran ayah- ibu. Begitu pula dengan berita penyakit dan kematian orang yang mereka cintai. Ini juga penyebab stress atau cemas bagi anak.

Berita media massa, misal tentang dunia yang seram, tentang penculikan, berita kriminal dan berita tentang bencana alam, perang juga tentang terorisme mencemaskan tentang keselamatan diri sendiri dan orang yang mereka cintai. Berita tentang penyakit, kematian orang yang dicintai dan juga perceraian orang yang mereka cintai membuat mereka cemas dan stress.

Stress mempunyai tanda-tanda atau gejala. Namun tidak mudah bagi kita untuk mengenal kapan anak kita sedang dilanda stress. Perubahan suasana hati (mood) bisa jadi isyarat bahwa anak sedang dalam keadaan stress. Isyarat lain adalah seperti perubahan pola tidur, berkeringat dingin, dan salah tingkah. Kemudian juga perasaan sakit kepala, sakit perut, gangguan dalam kosentrasi dan gangguan dalam penyelesaikan pekerjaan rumah, sampai pada prilaku suka menyendiri. Karakter negative seperti suka berbohong, menggertak (bulying), menentang otoriter orangtua dan guru, mimpi buruk, respon yang berlebihan atas masalah kecil hingga merosotnya prestasi kerja atau prestasi belajar juga merupakan isyarat bahwa seseorang lagi stress.

Stress harus diatasi, paling kurang dikurangi. Stress dapat dikurangi lewat inisiatif sendiri dan juga lewat bantuan orang lain. Orang tua dapat menguarangi stress anak-anaknya. Anak sendiri perlu untuk memperoleh nutrisi dan istirahat yang cukup. Karena kekurangan gizi membuat badan akan terasa kurtang nyaman. Badan juga terasa kurang nyaman kalau kurang istirahat/ kurang tidur. Dimana rasa stress mudah datang.

Orang tua seharusnya melowongkan waktu buat anak agar bisa bermain dan ngobrol bareng. Tentu saja bukan ngobrol yang bersifat mendikte dan banyak mengeritik. Orang tua perlu mengungkapkan perasaan positif pada anak- menyatakan bahwa keberadaan mereka sangat penting. Pernyataan yang demikian agar membuat hidup sang anak menjadi berarti. “Papa merasa senang karena kamu bisa bekerja dengan papa di kebun ini,…..mama bahagia sekali bisa ngobrol tentang pelajaran dengan mu”.

Orang tua dan anak juga perlu ngobrol tentang teman mereka, tentang sekolah, guru atau hobi mereka. Anak dan remaja juga perlu bahwa perasaan marah, khawatir, cemas, takut adalah perasaan yang normal pada setiap orang. Stress bisa melanda siapa saja. Lebih ideal bila rasa yang demikian untuk dibagi dengan orang yang mampu mendengar- yakni mendengar suara hati mereka.

2. Depressi

Depressi juga merupakan masalah mental yang juga umum terjadi. Depressi bisa melanda siapa saja dan semua tingkat umur. Ciri-ciri awal dari gejala depressi adalah adanya gejala bad mood, melankolik atau murung, merasa down atau sedih. Suasana begini juga bisa terjadi pada anak-anak. Namun jumlah penderita depressi pada usia remaja dan dewasa bisa lebih banyak. Bila seseorang dalam keadaan murung, bad mood dan merasa sedih yang berkepanjangan dalam waktu lama hingga berminggu minggu atau berbulan-bulan maka inilah yang disebut dengan depresi.

Michele New (2008) mengatakan bahwa depressi juga ada penyebabnya. Depressi tidak disebabkan oleh suatu peristiwa atau oleh seseorang, tetapi hasil dari beberapa faktor. Penyebab depresi juga bervariasi untuk setiap orang. Orang yang punya keluarga depressi kemungkinan juga bisa mengalami depressi- factor genetik. Peristiwa hebat atau trauma yang pernah terjadi dalam hidup seperti kematian orang yang dicintai, terjadinya perceraian, pindah ke daerah baru, dan putus hubungan dengan kekasih yang begitu mendalam bisa menimbulkan gejala depressi.

Stress yang berkepanjangan juga bisa sebagai faktor penyebab timbulnya depressi. Selanjutnya bahwa penyakit kronis juga bisa membuat orang jadi putus asa dan depressi. “Aduhai lebih baik aku mati saja dari pada susah berjalan begini terus…!”. Kemudian bahwa dalam usia remaja, gejolak emosi dan gejolak sosial gampang terjadi, sehingga segala sesuatu menjadi sulit. Tentu saja emosi mereka jadi kacau, melankolik dan bad mood, hingga akhirnya menjadi depressi.

Orang yang dilanda depressi sering merasa kehilangan harapan atau perasaan tidak berguna. Sekali lagi bahwa orang yang lagi depressi sering bersifat pesimis, “Aduh mak, hidup ku tidak berguna, lebih aku meninggal dunia saja….”. Kita perlu memahami karakter anak/ famili atau kerabat yang lagi depressi. Yaitu mereka merasa bersedih tanpa beralasan, kehilangan tenaga/ semangat, tidak mampu merasakan indahnya dunia atau hidup ini, tidak bersemangat untukl berteman, merasa marah, cemas dan juga tidak mampu berkosentrasi. Tidak berselera makan sehingga berat badan menurun. Begitu pula adanya gangguan dalam pola tidur, merasa sakit pada seluruh tubuh, tidak peduli tentang masa depan dan sering berfikir untuk bunuh diri atau mati saja.

Bila anak atau keluarga kita menunjukan gejala depresi, maka kita perlu untuk melakukan tindakan. Kita perlu ngobrol dengan anak dan juga minta bantuan dokter jiwa. Mengatasi masalah keluarga secara pribadi juga tepat. Dalam masa anak-anak sebenarnya ada periode “storm and stress- masa badai dan stress” atau masa-masa sulit. Namun dalam masa sulit ini banyak problem anak dan remaja yang tidak diselesaikan. Tentu saja orang tua merasa bertanggung jawab atas masalah yang terjadi pada anak, namun orang tua bukanlah penyebab depresi itu.

Anak anak atau remaja yang sedang depresi tentu butuh banyak didengar (dipahami). Mereka kadang-kadang merasa tidak berguna. Orang yang lagi dilanda depresi melihat dunia ini dengan negative, ini terbentuk karena perasaan depresinya. Anggota keluarga yang dilanda depressi perlu dirawat melalui psikoterapi- yaitu kombinasi terapi dan obat. Psikiater memberi resep obat untuk membuatnya rilek. Psikoterapi akan fokus pada penyebab depresi itu sendiri.

Stress dan depressi adalah masalah mental. Kita perlu mengenalnya tetapi kalau boleh tidak perlu berteman dengannya. Oleh sebab itu stress dan depressi perlu dikurangi atau dicegah.

Perasaan khawatir dan cemas bisa menjadi penyebab stress. Anak perlu dilatih/ dibisaakan agar bisa mengelola dan memanfaatkan waktu dengan baik. Kita tidak perlu membenani fikiran anak dengan beban fikiran yang belum mampu mereka fikirkan. Kita juga perlu meluangkan waktu untuk melakukan kebersamaan – ngobrol dan bermain dengan anak. Kemudian bahwa stress dalam waktu yang lama bisa menyebabkan depressi. Orang tua perlu mengungkapkan bahwa kehadiran anak adalah penting, ini agar anak merasa hidupnya berguna. Namun bila ada anggota keluarga yang dilanda depressi maka kita harus mencari bantuan ahli (dokter dan psikiater) sedini mungkin http://penulisbatusangkar.blogspot.com

Note: 1) Michele New (2008) Understanding Depression.(http://kidshealth.org), 2) Jennifer Shroff (2008) Reducing Kid’s Stress .(http://kidshealth.org)

Sabtu, 16 Oktober 2010

Mengapa Kecerdasan Kita Menciut

Mengapa Kecerdasan Kita Menciut
Oleh : Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Hidup ini sering terasa unik, khusus yang berhubungan dengan kisah-kisah belajar di sekolah. Ada yang mengatakan bahwa saat belajar di SMP, SMA dan di Perguruan Tinggi termasuk orang yang cerdas. Natanya setelah dewasa menjadi orang biasa-biasa saja. Ada pula yang mengakui bahwa ketika belajar di SD dan SMP termasuk anak yang nakal, namun berubah jadi baik saat belajar di SMA dan di Perguruan Tinggi sehingga potensi dirinya bisa jadi melejit. Sementara itu ada pula yang mengaku termasauk orang yang kurang beruntung saat belajar di SMP dan SMA, malah kuliah di Perguruan Tinggin terancam D.O (Drop Out), namu setelah dewasa bisa sukses dalam berbagai lini kehidupan.

“Dulu ketika aku sekolah di SMA, aku tergolong pintar, tetapi sekarang ya biasa- biasa saja. Teman ku ketika di SMA termasuk bandel sering berurusan dengan guru, sering kena hukum, namun sekarang mereka semua menjadi orang gede”. Ternyata untuk berhasil kelak dalam kehidupan tidak ditentukan semata-mata oleh kepintaran otak , tetapi juga ditentukan oleh kepintaran yang lain- yaitu kepintaran emosional, kepintsaran sosial dan kepintaran spiritual. Pernyataan seperti ini sering terdengar dalam percakapan antar teman setiap hari. Dan inilah realita kehidupan kita.

Tulisan ini tidak berbicara tentang sukses atau tidak sukses secara umum, tetapi berbicara tentang prilaku akademik kita. Salah seorang teman saat bersekolah di SMA dan Perguruan Tinggi termasuk orang yang gemar membaca dan menulis, namun di usia dewasa kebiasaan belajarnya menjadi menurun. Teman yang lain mengatakan bahwa saat ia belajar di SD, SMP danSMA selalu menjadi bintang kelas, malah kuliahnya bisa selesai sesuai target. Namun di usia 40-an ia merasa sebagai orang yang bodoh, menjadi gatek- gagap teknologi. Tidak tahu dan tidak berani dalam mengoperasikan barang-barang elektronika. Ia kemudian merasakan kecerdasannya menjadi menciut.

Memang banyak orang kita yang merasakan bahwa dengan bertambahnya umur maka kecerdasan terasa menciut- menurun dratis. Padahal sebagian ada yang tamatan dari Perguruan. Tinggi- Kim Kyung (2010) mengakui tentang fenomena ini. Ia sendiri telah menulis artikel dengan judul “Berjalan mencegah otak menciut di hari tua”. Judul artikelnya terasa tepat dengan kenyataan yang dirasakan sebagian orang. Bila kita hubungkan dengan kebiasaan orang Eropa, seperti yang diceritakan dalam buku pertualangan, yang memang senang berjalan kaki- hiking atau menjelajah. Ternyata mereka diakui lebih cerdas.

Tidak merendahkan diri bahwa kita kadangkala malas berjalan kaki, terlalu memanjakan diri. Menempuh jarak setengah kilometer saja kita cenderung pakai sepeda motor atau buru-buru mencari ojek. “Ojek…sini dong antarkan aku ke persimpangan…!” Akhirnya tubuh kita kurang bergerak. Kita kurang keringatan, akibatnya suplai oksigen yang dibawa aliran darah ke otak kurang lancar. Maka lambat laun otak kita menjadi tidak fit and fresh (segar dan bugar). Itulah termasuk penyebab kalau akhirnya fikiran kita jadi mandeg.

Berjalan kaki sampai badan kita jadi keringatan setiap hari, mungkin berjalan untuk 2 atau 3 km, adalah salah satu cara paling mudah untuk mencegah otak cepat menyusut/ menciut di hari tua. Untuk melakukan hal ini kita tidak perlu menghabiskan banyak uang. Penyusutan ukuran otak pada orang lanjut usia dapat menyebabkan masalah memori pada otak mereka akibatnya mereka mudah lupa. Maka kebiasaan berjalan kaki dapat mencegah kepikunan.

Kita tidak perlu mencari contoh terlalu jauh. Mari kita amati orang tua yang ada di seputar kita. Mereka yang segera memutuskan untuk pensiun dalam usia yang belum terlalu tua. Apalagi kemudian mereka juga tidak melakukan aktivitas fisik, berpotensi akan cepat jadi pelupa dan pikun. Sementara mereka yang masih aktif hingga tua dan suka beraktivitas, mereka terlihat masih segar bugar hingga usia 70 dan 80 tahun (Dengan catatan bahwa mereka punya gaya hidup yang cukup istirahat dan cukup mengkonsumsi makan yang sehat).

Tidak bermaksud berlebih lebihan bahwa kakek dan nenek penulis dahulu yang tinggal di pedesaan Lubuk Alung , hidup bertani dan pola hidup sederhana: banyak melahap makanan yang serba alami, memiliki umur hingga 80 dan 90 tahun. Sementara kerabat penulis yang lain, berada di perkotaan- kurang banyak bergerak, kurang keringatan dan banyak mengkonsumsi fast food- akibatnya sering sakit sakitan di usia 60-an.

Selain kebiasaan berjalan kaki , kebiasaan mengkonsumsi makanan yang alami juga bisa mencegah merosotnya kecerdasan kita. Anna Heart (2009) juga menulis artikel tentang “makan versus vitamin untuk mencegah penyusutan otak atau alzeimers”. Dikatakan bahwa mengkonsumsi vitamin dan bahan makanan yang banyak mengandung bahan kimia, apakah itu atas nama supplement, bisa membahayan kesehatan. Mengkonsumsi vitamin dan bahan makan yang banyak mengandung zat kimia tentu tidak sebagus vitamin yang langsung dikonsumsi dari bahan alami, seperti buah buahan dan biji bijian. Sekali lagi bahwa Mengkonsumsi vitamin dari bahan makanan yang mengandung bahan kimia- penyedap dan pewarna yang terlalu berlebihan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, seperti gangguan pada ginjal, hati dan jantung.

Mengkonsumsi vitamin D (vitamin yang hanya larut dalam lemak) akan bisa menjadi racun bagi tubuh dan menyebabkan gangguan ginjal. Sebaliknya, kekurangan vitamin D dalam tubuh bisa mengganggu kesehatan tulang dan otak, sehingga lambat laut kesegaran otak juga akan terganggu. Sebagaimana vitamin D banyak terkantung dalam susu, maka mengkonsumsi susu untuk kesehatan dan kecerdasan otak, tereutama selama masa anak-anak dan masa remaja, sangat dianjurksa. Kalau boleh kebiasaan minum susu berlanjut hingga usia dewasa.

Kemudian bagaimana pola makan kita ? kemiskinan membuat kita dan banyak orang tidak bisa menyediakan hidangan yang ideal buat keluargsa. Ungkapan tentang kebiasaan makan yang sehat yaitu empat sehat lima sempurna sering menjadi ungkapan sekedar pajangan saja.

Hidangan empat sehat lima sempurna sering sulit untuk kita penuhi. Alasan klasik adalah karena kesulitan finansial. Bukankah banyak famili dan tetangga kita yang sulit memenuhi kebutuhan pangan, tidak mampu membeli lauk pauk dan susu. Ada yang makan nasi, tetapi lauk pauknya terbuat dari jengkol kerupuk jengkol atau kerupuk singkong . Bagaimana kebutuhan gizi dan vitamin akan terpenuhi. Bagaimana asupan gizi untuk otak akan mencukupi. Inilah alasan mengapa otak kita menjadi kurang segar dalam berfikir.

Hal yang kontra bahwa ada yang memiliki kelebihan finansial, namun kurang mengenal gaya hidup sehat. Mereka mengkonsumsi fast food dan makanan kaya kolesterol hingga mengganggu kesehatan otak dan jantung. Ya, mana mungkin orang yang kesehatannya kurang prima bisa berfikir dengan segar dan bugar. Ini pun termasuk penyebab mengapa kecerdasan cepat menciut.

Kognitif kita akan cepat mengkerut/ menciut, ini bisa terjadi karena otak itu sendiri jarang dipakai atau jarang diasah. Bagaimana cara menggunakan atau mengaktifkan otak ? secara umum bahwa otak atau fikiran banyak dipakai dalam bentuk kegiatan membaca, menulis, bertukar fikiran. Malas membaca dan menulis adalah fenomena negatif di kalangan kita.

Ayat pertama yang diturunkan Allah Swt adalah tentang Iqra’ atau membaca. Ini memberi isyarat bahwa kita (pemeluk Islam) harus senantiasa membaca dan menjadikan membaca sebagai bagian dari hidup. Ini memberi isyarat bahwa dalam masyarakat, mulai dari rumah, hingga sekolah dan di tempat pendidikan lain musti ada perpustakaan. Namun kenyataannya belum demikian. Bahwa yang mudah ditemukan pada banyak rumah adalah rak atau lemari sekedar memajang keramik, boneka, fasilitas hiburan atau home theatre. Ini tidak salah, namun porsi untuk sarana bacaan keluarga belum berimbang dengan fasilitas lain. Kemudian di berbagai sekolah, terutama di Sekolah Dasar, begitu banyak perpustakaan yang ditutup dan terlihat cuma sebagai gudang buku. Sehingga murid murid belum merasakan betapa indahnya membaca itu. Kebiasaan tidak suka membaca berlanjut hingga pendidikan selanjutnya sehingga bagaimana kita mau cerdas dan bagaimana otak akan berfungsi otminal.

Kebiasaan menulis juga belum jadi budaya kita. Kita lebih terbiasa dengan budaya oral atau lisan yaitu kebanyakan ngobrol dan ngerumpi. Manakala kita tidak terbiasa dalam menulis, maka menulis menjadi suatu hal yang berat. Begitu kita duduk di perguruan tinggi, harus menulis proposal, laporan penelitian untuk skripsi, tesis dan disertasi. Ini menjadi satu hal yang sulit. Kalau begini caranya maka D.O (Drop Out) dari Perguruan Tinggi akan menjadi fenomena yang jelek bagi sebagian mahasiswa.

Menciutnya kecerdasan kognitif atau kecerdasan otak perlu kita atasi. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah membiasakan diri untuk banyak berjalan- kalau perlu hingga badan jadi keringatan, aliran darah dan aliran oksigen dalam tubuh begitu lancar. Otak akan jadi segar. Kemudian kita perlu menghindari gaya hidup yang berlebihan mengkonsumsi kurang sehat- fast food, makanan berkolesterol, banyak zat pewarna dan penyedap mrasa. Untuk asupan vitamin D buat otak, segelas susu hangat sangat baik untuk dikonsumsi. Last but not least (akhir kata) bahwa kita perlu membudayakan gemar membaca, menulis dan gemar bertukar fikiran (http://penulisbatusangkar.blogspot.com).

(Note: 1) Kim Kyung-Hoon (2010). Berjalan Mencegah Otak Menciut di Hari Tua. London : reuters (http://www.tempointeraktif.com), 2) Anna Heart (2009). Makanan Versus Vitamin Untuk Mencegah Penyusutan Otak dan Alzeimers. Sacramento : UCLA)

Kamis, 14 Oktober 2010

Perasaan Ditolak Yang Melukai Harga Diri

Perasaan Ditolak Yang Melukai Harga Diri
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Mencari perhatian atau butuh perhatian merupakan ciri khas manusia. Sekaligus ciri khas ini membedakan manusia dengan makhluk lain. Perasaan itu ada dalam hati. Bentuk perasaan itu cukup bervariasi seperti: adanya rasa senang, susah, sedih, marah, dan lain-lain. Tergantung pada “mood” atau suasana hati. Ada orang yang mengatakan bahwa dia dalam keadaan good mood atau bad mood. Seseorang menjadi good mood kalau suasana hatinya lagi bahagia dan ceria. Sebaliknya bahwa seseorang dalam keadaan bad mood kalau hatinya lagi kurang enak, gelisah, murung, berduka, dan lain-lain.
Faktor keadaan bad mood bisa terjadi oleh kondisi diri sendiri, misalnya, harapan dan target hidup atau kegiatan kita yang belum tercapai. Juga bisa disebabkan oleh faktor luar, seperti karena perbedaan pendapat dengan orang lain yang menyakitkan hati. “Aduh mak…kenapa ia memandang sepele terus padaku”. Atau karena kehadiran diri kita yang kurang diterima oleh teman dan lingkungan.
Pujian dan pengakuan dari seseorang bisa menjadi indikasi bahwa keberadaan kita diterima atau ditolak orang lain. Rasa diterima dan keinginan untuk dipuji adalah kebutuhan emosional kita sejak kecil hingga dewasa, bahkan hingga tua. Memuji dan menerima kehadiran anak apa adanya bisa menjadi prasyarat agar anak bisa tumbuh menjadi cerdas dan sehat secara jasmani dan rohani.
Sangat ideal kalau orang tua tidak pilih-pilih kasih pada anak. Apakah anak cantik/ ganteng atau tidak, apakah anak pintar atau bodoh, aktif atau pasif, berani atau pemalu/ penakut, baik atau nakal. Mereka adalah anak kita, dan belahan hati kita. Membeda bedakan mereka (pilih kasih pada anak) merupakan awal dari malapetaka bagi kehidupan mereka, karena hal tersebut bisa menghancurkan harga diri dan perkembangan anak di masa depan.
Anak-anak balita (usia sekitar lima tahun) mereka berada dalam masa egosentris. Pusat kehidupan dalam pandangan mereka berada pada diri mereka. Dalam usia ini mereka memaksa semua orang mengakui bahwa apa saja yang ada di sekitarnya adalah milik dirinya. “Ini papaku, ini mamaku, ini mobilku, ini pohonku…, itu bulanku, itu lautku, itu sungaiku..!” Semua benda yang ia sebut berakhiran dengan kata “ku” sebagai kata posesif- sebagai kepunyaanya.
Semua orang dewasa, orang tua dan guru taman kanak-kanak (walau dengan berpura-pura) memberi pengakuan untuk menyenangkan dan menentramkan hatinya. “Iya benar, Ini papa dedek, ini mama dedek, ini mobil dedek, ini pohon dedek …, itu bulan dedek, itu laut dedek dan itu sungai dedek ..!”. Ungkapan itu pun diekspresikan dengan lembut.
Sungguh sang balita merasa riang gembira karena memperoleh pengakuan. Sebaliknya anak akan merasa terluka bila mendengar respon orang dewasa yang kurang memahami perkembangan jiwa balita tersebut. “Wah enak saja ya mengaku semuanya milik mu…!”. Tidak apa-apa karena egosentris pada balita akan berkurang dan menghilang dengan bertambahnya umur dan betambah pula penrgaulan/ pengalaman hidup mereka. Begitu anak masuk ke sekolah dasar dan SMP, maka egosentrisnya segera melebur.
Rasa diterima dan rasa pengakuan juga jadi kebutuhan remaja dan orang dewasa. Khususnya anak anak usia SD, SMP dan SLTA, mereka sangat butuh rasa diterima dan penghargaan. Oleh sebab itu rasa diterima dan dihargai perlu tumbuh dan membudaya sejak di rumah, terus di sekolah, dalam organisasi dan dalam lingkungan masyarakat. Rasa diterima dan pengakuan ini selanjutnya akan mempengaruhi harga diri, percaya diri, motivasi dan semangat hidup mereka dalam belajar dan beraktivitas (bekerja).
Problema terbesar dalam hidup sekarang adalah rendahnya kualitas pendidikan kita. Penyebabnya ada sejak dari rumah. Pemerintah cukup peduli tentang hal ini. Pemerintah menghabiskan dana milyaran rupiah untuk melatih dan menatar guru, seharusnya juga para orang tua agar juga tahu tentang ilmu mendidik, atau paling kurang orang tua melakukan otodidak agar menjadi orang tua ideal- tahu cara memotivasi anak- sehingga anak memiliki motivasi dan rasa percaya diri.
Sekali lagi, bahwa penyebab awal kehilangan motivasi, semangat belajar dan percaya diri pada seseorang ada sejak dari rumah- juga mungkin dari sekolah itu sendiri. Karena kita, para orang tua, sering kikir dalam memberikan perhatian dan pujian pada anak. Andaikata anak telah melakukan aktivitas positif seperti mencat pagar, menyapu halaman, mencuci motor, membuat pekerjaan rumah, membaca buku, maka kita berfikir hal itu sebagai hal yang biasa. Anak tidak perlu dipuji lagi. Namun kalau anak melakukan kesalahan kesalahan kecil- tidak mau cuci piring, menyapu rumah, membuat PR, apalagi kalau melakukan kesalahan besar (memecahkan piring, menumpahkan susu) maka kita jadi meledak dan malah bisa naik pitam. “Pakai matamu…pakai hati mu….dasar dungu…kerja mu merusak terus!”.
Mengapa bangsa Barat bisa lebih maju dalam hal kualitas hidup/ kualitas pendidikan ? Penyebabnya adalah karena mereka merasa enteng memuji dan minta terima kasih pada siapa saja, terutama pada anggota keluarga. “Oh ..it is very good,…you are great,…how can you do it,…thank you…!”. Sekali lagi bahwa ungkapan terima kasih dan pujian sudah membudaya dalam kehidupan mereka.
Penulis sendiri mempunyai seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas empat SD. Biasanya dia amat rajin beraktivitas di rumah seperti melipat pakaian, merapikan kamarnya, dan menyapu lantai rumah. Kebiasaan positive tersebut menghilang. Namun tiba tiba penulis menemui anak penulis tersebut berlaku sangat manis di rumah tetangga. Di sana ia menyapu teras, membersihkan debu jendela dengan duster, “Ada apa gerangan…?” Ternyata anak penulis telah memperoleh perhatian, pujian dan penghargaan dari tetangga- sehingga kehadirannya merasa berarti, “Duh…pintar sekali anak ibu…bisa menyapu teras…!”. Akhirnya penulis introspeksi diri dan kembali mememberikan kebutuhan emosinya - memberi pujian, perhatian dan penghargaan.
Selanjutnya bahwa mengapa banyak remaja yang tidak betah berada di rumah sendiri, pada hal rumahnya cukup megah dan nyaman. Begitu pula, mengapa ada siswa yang enggan pergi ke dalam kelas/ ke sekolah, enggan menemui guru. Atau mengapa ada karyawan enggan pergi bekerja, para buruh enggan menemui boss atau sang kepala. Tentu saja banyak faktor penyebabnya. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak ada perasaan diterima, alias mereka merasa ditolak.
Edo, bukan nama sebenarnya, akhir akhir ini tidak merasa betah lagi berada di rumah. Ia merasa tidak diterima oleh mamanya sendiri. “Wah Edo,…kamu asal di rumah bercanda kayak kuda terus,…menganggu adikmu terus,…lebih baik kamu pergi jauh ke luar rumah ini”. Apa lagi hardikan dan bentakan ibu diikuti dengan wajah serius/ wajah kesal. Itulah alasan yang membuat Edo bahwa kini tempat yang paling damai adalah berada bersama teman teman meskipun berkumpul di emperan warung orang. Untuk selanjutnya sang remaja akan menutup diri terhadap orang tuanya sendiri. Kemudian sang orang tua pun akan kehilangan kharismatik di mata anak.
Banyak remaja/ siswa yang tiba-tiba jadi enggan pergi ke sekolah, malas mengikuti proses pembelajaran. Mereka memilih untuk kongkow-kongkow (bermalas-malas) di halte bus, di persimpangan jalan. Mengapa ini terjadi ? Banyak penyebabnya dan salah satu penyebab adalah merasa ditolak oleh guru atau bisa jadi oleh teman dalam kelas. “Edo…., kalau kamu dalam kelas matamu melek melulu…, atau ngobrol melulu,…..atau mencontek melulu” Itu artinya bahwa Edo lebih baik minggat saja dari ruang kelas dan kelas akan menjadi aman.
Rasa ditolak memang menyakitkan. Ada siswa baru yang belum bisa beradaptasi dengan suasana kelas yang baru. Bila ia mendekat pada teman, temannya menghindar- pokoknya ia merasa tidak diterima. Akhirnya ia mengeluh di rumah. “Papa …aku tidak mau sekolah di sini, aku mau pindah ke sekolah yang lama saja…!” Ada kalanya seseorang merasa mules atau sakit perut itu gara-gara ia merasa kurang di terima oleh teman se kerja atau oleh atasan. “Wah aku jadi migrain (sakit kepala sebelah) setiap kali terbayang teman yang bersikap sinis padaku”.
Dalam pekerjaan atau kehidupan di sektor informal, seperti di pasar,di rumah, di pelabuhan, di pabrik, dan di perkebunan, bahwa perasaan tidak diterima/ ditolak juga sangat menyakitkan. Malah bisa berakibat fatal. Dalam sebuah berita televisi swasta dikabarkan bahwa ada pengunjung kafe yang membakar kursi, sehingga menjalar membakar seluruh gedung. Penyebabya cukup sepele yaitu gara-gara tidak diterima oleh pelayan kafe. Tawuran antar pelajar atau tawuran antar mahasiswa bisa terjadi oleh gara gara sepele- merasa dilecehkan alias tidak dihargai atau kurang diterima oleh kelompok lain. Seorang remaja pria sengaja ngebut dan menabrakan sepeda motornya di depan rumah kekasih yang telah menolak cintanya. Sungguh begitu dahsyat dan berbahaya efek dari perasaan ditolak. Banyak pria atau wanita menjadi lajang sampai tua, salah satu penyebabnya karena pernah ditolak kehadirannya dan dikecewakan oleh mantan idamannya.
Perasaan diterima atau ditolak ada dimana-mana dalam pergaulan sosial. Perasaan ditolak memang sangat fenomena, bukan berarti tidak boleh ada (penolakan). Bagi yang lagi memegang kartu truff (penentu) untuk menolak, seperti dari orang tua terhadap anak, guru terhadap siswa, boss terhadap karyawan, dan dalam pergaulan antar teman dan antar yang saling mencintai, Kalau mau menolak tolaklah dengan cara bijak dan cara sehalus mungkin. “Mama tidak senang kamu mengganggu…lebih baik kamu belajar di kamarmu sendiri”. Atau pedagang berkata “Wah mas kasihan kalau begitu…nanti saya bisa rugi”. Atau calon kekasih berkata “saya senang bersahabat dengan kamu….baiknya kita berteman saja”. Dan tentu ada jutaan ungkapan penolakan halus yang perlu kita budayakan. Namun yang perlu dijaga dalam menolak adalah menolak dengan ekspressi yang kurang bersahabat sehingga melukai harga diri orang lain.

NILAI MIDSEMESTER KELAS XII

Assalamu'alaikum...Halo ananda..apa kabar..Pusing ya..siap tes diagnostik...jgn pusing dooong...gampang itu...
Ade Y 84
Adelina PY 83
Adelita F 86
Alvin P 94
Chusnul C 90
Chyara Elisa 84
Debi AM 78
Dian NZ 92
Dwi Putri SD 89
Ferry F 83
Fitra A 90
Fitri H 86
Hafda PHW 84
Hafid R 87
Hamdani AA 82
Hanif G 87
Haris S 76
Ijran M 84
Indah MS 90
M Abi R 62
M Ridho W 84
M Yogie TP 79
Muthya H 91
Nurhabiba E 92
Nuzula M 78
Okky W 85
Primananda 77
Puti HK 87
Rahmi F 87
Rahmizakia R 69
Ramadanil 82
Ranti 88
Ridho F 67
Rika RF 84
Rindang A 81
Ringga RP 87
Rizki H 82
Rolita EP 72
Roni S 88
Ryando P 86
Satria JP 90
Sri Danti FM 96
Teguh FS 84
Ulfa N 90
Wahyu Ra 90
Wildan R 83
Ardi j 84

Rabu, 13 Oktober 2010

NILAI MID KELAS X

Assalamu'alaikum Ananda..
Gimana kabarnya...jantungan ya...ha..ha..komentari ya..dan jgn bosan mengunjung blog bapak..
Ega TM 93
Fadhila Anwar 99
Ferdhian A 90
Fidhiyah R 78
Fitrah F 86
Hafidh AP 87
Hanifatul H 92
Intan RD 85
M Fakhri 78
M Ifan A 95
Maritsa FG 85
Mentari TW 88
Raufa G 86
Reni R 88
Ria Evanti 89
Ridanofyola 96
Rizky F 72
Salmi Azizah 92
Winda M 83
Yunia PA 89
Satya T 70
Yofi PA 79
Rahmawati A 80
Hanagia 81
M Hafiz 75
Imam FA 95
M Sholeh 79
Meliza Y 87
Mutia AM 73
Wahyu M 86
Wahyu P 70
Popy DP 74
Dalias 57
Fajar E 79
Aulia R 69
Alrazi A 79
Fitri Y 87
Alfi RS 81
Agung L 77
Adrai S 73
Hermi E 73
Arief RP 93
Daniel FN 89
Hidayat 94
Aan Saputra 88
AdeK ChairunnisaK 88
Alfi Solehan 83
Alief Ikhwana 100
AtiKa 94
Dedet Darma Yanda 90
Dewi Khairani 88
Kasrizal 93
Lyra Ornila 92
M Aji Maulana 84
M Ridho 85
Marsya Rimadhona 94
Mifta Hurrahmi 85
Miftahu Rizqa 78
Mutiara S 85
Nola Sapriyelna A 97
RafKi Ismet Ghifari 83
Rista MuKhlis 88
RizKa Yolanda 81
Suci SF
SyuKron Rafi T 93
Tri Legina O 92
Winda Nur Mentari 91
Zahratul Aina 96
Deasi P 81

NILAI MIDsemester Ganjil

Assalamu'alaikum...Ananda....
Apa kabar...deg2an ya...he..he...
Selamat bagi yg bagus..dan jgn putus asa bagi yg belum berhasil..
Bunga Ayu Andini 69
Conny febiola
Dea Yolanda 81
Dzil 'Arifah Hasni 81
Endang Oktayani 78
Fitri Lestari 83
Fitria Rahmadani 89
Ichlas Muttaqin 77
Ivan Marino 69
M Ikhwan Wajdi 77
M ZiKrillah 79
Mita Roza 65
Monica Eka Yulianda 69
Nanda Putra 72
Putri Wulandari 77
Rahmadwitya Yulinast 72
RizKy Hidayat 78
Shindy Mawaddah 70
TaufiKah Rahmah 66
Welly Risa 70
Yogi Sagita Azwar 77
Yulia Rahmi 73
Yulisdiawati 68
Zelly BaKri 77
Elza HA 100
Afdhal 93
Enmufida 89
Fauzi 100
Hafizah Nur Haferi 90
Ira Rahayu 84
Irham Pratama Putra 76
Izzatul Muslimah 89
M RezKy 86
Mayang Berliana 89
Mutya Yuliandri 82
Nayomi Valenzia 84
Putri Nailurrahmah 88
Ranty Putri Adelysa 86
Rintan Permata Sari 80
Suci Nelsa 92
Sumri Utami 81
Syandi Mufti Putra 92
Tri Wahyu Legawa 93
Winna Anggraeni 78
Wiranti Dwi Rahmadini 89
Yufa Yulindra 85
Yuliarnis 72
Ismi O 100
Sitra 79

Selasa, 12 Oktober 2010

Mengejar Gaya Hidup dan Mengabaikan Kompetensi

Mengejar Gaya Hidup dan Mengabaikan Kompetensi
Oleh: Marjohan, M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Istilah competence dan performance sering muncul berdampingan. Competence atau kompetensi berarti kemampuan dan performance berarti penampilan. Kompetensi adalah prilaku yang tidak terlihat yang dimiliki oleh seseorang, kompetensi atau kemampuan merupakan energi penggerak bagi seseorang dalam melakukan aktifitas. Sementara itu, performance atau penampilan adalah prilaku seseorang yang bisa dilihat. Penampilan seseorang, kualitasnya tergantung pada gaya hidup seseorang.

Kesadaran dan kepedulian orang terhadap keberadaan kompetensi cukup tinggi. Hampir semua orang tua mendorong anak-anak mereka agar memiliki kompetensi yang tinggi. Sejak usia bayi, anak dilatih berbicara agar memiliki kompetensi berkomunikasi dengan anggota/ anggota keluarga masyarakat. Kemudian melatih mereka dalam berhitung dan begerak agar memiliki kompetensi numerical (angka-angka) dan kompetensi kinestetik (gerak). Selanjutnya orang tua menyerahkan pendididikan anak ke mushola dan mesjid agar mereka memiliki kompetensi relijius atau kompetensi spiritual.

Sebenarnya cakupan kompetensi itu cukup luas. Dahulu anak yang cerdas atau kompeten kalau ia memiliki IQ (intelligent quotient) yang tinggi. Kemudian anak yang kompeten adalah anak yang memiliki kecerdasan berganda. Selanjutnya anak yang kompeten menurut Bobbi De Porter (dalam Zamroni, 2000: 131) adalah kalau mereka memiliki kecerdasan berganda dengan delapan kompetensi (kecerdasan) yaitu: kecerdasan space (mengenal ruangan), kinestik (gerak), music, intrapersonal (mengenal/ memahami pribadi sendiri), interpersonal (memahami pribadi orang lain), logika/ matematik dan verbal atau bahasa.

Sejak kecil hingga dewasa atau sejak sekolah di bangku SD hingga bangku SLTA atau bangku Universitas, setiap orang mungkin telah melalui puluhan kali test (ujian), apakah itu namanya ulangan harian, ulangan semester, ulangan umum, kemudian ujian nasional, ujian masuk sekolah, dan ujian masuk Perguruan Tinggi. Ujian atau ulangan itu semua berguna untuk menguji dan mengukur kompetensi yang dimiliki seseorang atas mata pelajaran atau mata ujian tertentu. Ada banyak guna ujian dalam kehidupan, seperti ujian untuk memperoleh SIM (Surat Izin Mengemudi), ujian untuk memperoleh sertifikat, kemudian ujian dalam sekolah, ujian dalam organisasi dan dalam klub-klub sosial- misal ujian untuk seleksi pertukaran pelajar antar negara.

Saat berusia muda, banya orang yang peduli dengan eksistensi kompetensi atau kemampuan. Tamat dari SMP banyak siswa yang mencari sekolah lanjutan yang menjanjikan bisa meningkatkan kompetensi akademik mereka. Ayah dan ibu juga sangat peduli untuk memilihkan sekolah terbaik buat anak-anak mereka. Malah tidak itu saja, atas nama untuk meningkatkan kompetensi maka banyak siswa yang setelah pulang sekolah buru buru untuk mengikuti bimbel (bimbingan belajar) dan kursus mata pelajaran yang lain. Sekali lagi bahwa itu semua mereka lakukan agar memiliki kompetensi akademik yang bagus.

Seiring dengan kata kompetensi, sekali lagi, ada kata performance atau penampilan. Banyak orang yang sejak kecil juga sangat peduli dengan eksistensi performance. Cakupan performance itu sendiri juga banyak, tergantung kepada paparan seseorang. Gadis kecil kelas satu atau kelas dua sekolah dasar,sebagai contoh, merengek minta dibelikan tas berwarna pink, celana jean, boneka Barbie dan pita rambut. Ini semua adalah demi penampilan atau gaya hidup yang ia mimpikan. Sementara itu seorang anak laki-laki kecil mendesak sang ayah agar membelikan mainan pistol, sepatu boot, topi, jaket untuk bisa bermimpi dan meniru penampilan toko kartunnya.

Performance atau gaya hidup seseorang memang berbeda berdasarkan selera. Gaya hidup juga memang bisa berbeda sesuai dengan jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, latar belakang, kekuatan financial dan berdasarkan musim serta tempat tinggal. Gaya hidup dalam usia remaja tentu berbeda dari gaya hidup anak-anak dan orang dewasa. Remaja sangat sibuk memperhatikan penampilan fisiknya. Mereka, misalnya, sangat peduli dengan kondisi rambut, kulit dan kondisi tubuh. Mereka merasa sangat sedih dan risih kalau ternyata kondisi tubuh tidak ideal, misal merasa kegemukan, merasa kurus, merasa pendek, terlalu jangkung atau warna kulit beda dari teman.

Dalam usia ini mereka ingin terlihat serba ideal dan tidak ingin tampil terlalu berbeda dari kelompok mereka. Merasa merasa sedih kalau ternyata berbeda. “Mengapa papa ku miskin dan papa teman kaya, mengapa aku bodoh dan teman pintar, mengapa rumahku jelek dan rumah teman bagus, mengapa penampilan mamaku agak kampungan dan mama teman ceras dan cantik”.

Secara umum bahwa ada orang yang peduli dengan competence dan sekaligus dengan performance/ gaya hidup. Ada orang yang hanya peduli dengan competence dan ada yang hanya peduli dengan gaya hidup dan masa bodoh dengan urusan competence.

Salah seorang teman penulis, dua puluh lima tahun yang lalu, tergolong berotak encer. Hari hari diisi hanya dengan belajar melulu dan hampir masa bodoh dengan urusan gaya hidup. Teman-teman hanya mencari dan membutuhkannya saat menjelang ujian dan selepas itu seolah-olah ia dilupakan lagi. Ya itu karena ia kurang peduli dalam bergaya dan mengikuti trendy dalam bergaul.

Juga salah seorang (pria), yang tidak perlu disebut namanya, memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup luas. Ia sendiri telah menyelesaikan pendidikan post graduatenya di luar negeri namun ia tidak banyak peduli dengan persoalan gaya hidup atau penampilan. Sehingga saat diundang untuk berceramah dalam seminar dan ia datang dengan sepeda motor bebek. Ternyata peserta tidak banyak yang mendengar isi ceramahnya. Dan pada lain kesempatan ia pun diundang untuk berceramah ditempat lain, kali ini kebetulan ia datang/ diantar dengan mobil cadilac mengkilat. Ternyata peserta banyak yang memnyambutnya malah pengunjung membludak. Sungguh competence perlu diimbangi dengan penampilan/ gaya hidup.

Adalah suatu fenomena bahwa saat liburan panjang banyak orang yang mengadakan acara reuni. Begitu pula saat lebaran banyak orang mengadakan kegiatan halal bil halal. Mereka menyelenggarakan temu ramah, temu kangen atau silaturahmi dalam gedung atau tempat yang ditentukan. Ada teman teman penulis mengatakan bahwa ia mengurungkan niatnya untuk bergabung dengan acara reuni saat melangkah ke dalam lokasi acara. Karena ia melihat penampilan teman-teman yang “serba wah”. Istri cantik, anak anak lincah dan lucu. Ia sendiri merasa penampilannya biasa-biasa saja. Sementara itu ditempat parkiran telah berjejer mobil mobil mewah. Sang teman sendiri sampai ke tempat acara hanya dengan menyewa ojek. “Wah aku batal untuk ikut acara reuni, soalnya teman-teman lama saya tidak level dengan saya mereka semua datang pake mobil mewah dan saya takut kalau sangat berbeda dengan mereka”.

“Wah jangan berfikian begitu dulu, kawan. Satu dua dari mereka memang punya mobil mewah milik mereka sendiri. Namun yang lain tentu sama saja dengan kita, mereka kan juga pegawai kecil dan pedagang kecil. Jangan terpedaya dengan penampilan mobil mewah, karena bisa jadi mobil mereka adalah mobil kreditan jangka lama dan mencicil untuk memaksakan gaya hidup. Dan yang lain bisa jadi mobil mewah mereka adalah mobil pinjaman dan mobil rental”. Memang benar, ada telpon dari hape teman mengatakan bahwa ia harus memperpanjang rentalan mobil buat tiga hari lagi. Wah lagi-lagi gaya hidup bisa jadi pelipur kehidupan.

Kadang kadang kita terlalu menomorsatukan gaya hidup dan mengabaikan kualitas. Malah ada yang berpendapat bahwa biar hidup susah di rantau orang namun bila pulang kampung pantang untuk memperlihatkan penampilan hidup yang susah. Maka bila musim mudik lebaran tiba, mereka membenahi gaya hidup, pinjam sana- pinjam sini (maaf) ada yang memakai perhiasan pinjaman atau perhiasan imitasi sehingga orang kampung tetap berdecak kagum memandang mereka sebagai orang yang sukses di rantau “wah enak ya di rantau..!”.

Kompeten memang penting untuk dimiliki dan gaya hidup juga penting. Melalui gaya hidup orang bisa memperlihatkan jati dirinya. Sebagian ada yang tampil dengan busana keagamaan, memberi isyarat bahwa mereka mengamalkan ajaran agama yang sempurna (tentu sangat bagus). Ada yang berpenampilan bahwa mereka adalah pencinta group musik metalika atau penggemar olahraga tertentu. Lewat penampilan mereka juga ingin menunjukan bahwa mereka adalah orang elite dan orang yang eksklusif.

Banyak orang yang juga peduli dengan kualitas diri (kompetensi diri). Hari hari mereka diisi dengan aktivitas belajar. Bila pulang ke rumah ya selalu membawa tas yang berisi banyak buku. Namun bila masa belajar usai- buku buku dilempar dan kebiasaan belajar banyak yang terhenti secara total. Buku hampir tidak tersentuh lagi. Majalah dan korang yang dibaca juga dipinjaman dari kantor atau dari tetangga. Mereka tidak butuh buku dan bahan bacaan lagi, namun mereka lebih peduli untuk mengejar gaya hidup.

Kaum pria dan wanita sama saja, mereka juga butuh gaya hidup. Ada para pria yang setiap kali duduk sibuk membahas tentang merek mobil atau berencana untuk ganti mobil. Para wanita sibuk membahas pernak pernik tentang penampilan rumah agar terlihat mewah. Sering percakapan di tempat kerja berubah total, bukan membahas tentang bagaimana menjadi pekerja yang professional namun bagaimana untuk meningkatkan gaya hidup.

Sebahagian orang gara-gara sibuk membicarakan tentang gaya hidup dan penampilan, namun hampir hampir tidak punya waktu untuk mengurus keluarga. “Tugas ku adalah memikirkan kesejahteraan dan penampilan rumah dan urusan pendidikan anak kan bisa diserahkan ke sekolah dan ke guru les mereka”.

Pedulilah dengan gaya gaya hidup atau penampilan, karena penampilan kita menjadi pandangan pertama bagi orang lain dalam menyukai atau tidak menyukai kita. Gaya hidup perlu diimbangi dengan kompetensi hidup. Bukankah setiap orang ingin terlihat cantik luar dan dalam. Namun kalau kita mengutamakan gaya hidup dan mengabaikan kualitas diri, maka ini adalah kesenjangan dalam diri. apa lagi demi mengejar gaya yang penuh pelipur atau fatamorgana. Cantik di luar saja, yang ideal adalah, sekali lagi, cantik luar dalam. Maka kejarlah gaya hidup dan kejar pula kualitas diri untuk kehidupan ini.

(note: Zamroni (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta : Bigraf Publishing)

Kamis, 07 Oktober 2010

Nilai UH 1 kelas X.3

Assalamu'alaikum...
Apa kabar ananda...deg2an ya....
Selamat bagi yg nilainya bagus...dan terus semangat..jangan bersedih bagi yg belum bagus...jadikan ini sebagai motivasi utk UH selanjutnya...
Oh ya...remedi...perbaiki kesalahannya...OK..terus dikumpulkan ke bapak...
Arief RP 17 20 5 15 12 69
Mutia AM 9 15 17 15 10 66
deasi P 8 14 17 17 15 71
Hermi E 8 8 19 12 12 59
Fitri Y 15 15 19 17 20 86
Yofi PA 13 14 19 12 15 73
M Hafiz 4 10 19 12 12 57
Dalias 10 14 18 15 20 77
Adria S 6 16 20 15 17 74
Rahmawati A 8 10 19 16 20 73
Alfi RS 8 15 19 16 20 78
Aulia R 13 13 19 17 18 80
M Sholeh AP 8 11 19 12 11 61
Wahyu P 9 17 20 15 20 81
Agung L 5 12 19 15 18 69
Fajar E 10 10 18 17 20 75
Meliza Y 8 15 19 17 15 74
Alrazi A 5 6 19 15 10 55
Satya T 6 11 12 16 20 65
Wahyu M 14 20 17 17 19 87
Hanagia S 15 20 19 17 16 87
Imam FA 17 17 19 18 20 91
Hidayat 17 20 20 20 15 92
Popy DP 14 17 19 17 18 85

Senin, 04 Oktober 2010

NILAI UH 1 KELAS XII.IA

Assalamu'alikum...ananda...
deg..deg..an ya...tenaaang..sabaaar.
Jadikanlah nilai ini sebagai motivasi untuk berikutnya...yg nilainya rendah..jgn putus asa...
Silahkan dikomentari bolg bpk..trimakasih...
nama 1 2 3 4 5 nilai
Ade Y 19 20 20 20 20 99
Adelina PY 13 20 16 20 12 81
Adelita F 10 15 20 20 20 85
Alvin P 20 16 20 20 20 96
Chusnul C 14 17 16 17 16 80
Chyara Elisa 10 20 20 20 20 90
Debi AM 7 12 17 20 12 68
Dian NZ 14 20 20 20 20 94
Dwi Putri SD 18 20 20 20 17 95
Ferry F 18 20 18 20 20 96
Fitra A 15 17 17 20 13 82
Fitri H 16 17 18 20 16 87
Hafda PHW 16 17 17 20 15 85
Hafid R 13 15 17 20 16 81
Hamdani AA 19 17 16 20 20 92
Hanif G 12 17 17 20 14 80
Haris S 11 17 18 20 12 78
Ijran M 14 20 18 20 16 88
Indah MS 14 17 20 20 20 91
M Abi R 11 17 17 20 20 85
M Ridho W 13 19 20 20 15 87
M Yogie TP 16 14 17 20 20 87
Muthya H 12 17 20 20 20 89
Nurhabiba E 12 20 16 20 20 88
Nuzula M 9 17 15 17 13 71
Okky W 15 16 16 20 16 83
Primananda 9 16 16 20 12 73
Puti HK 18 20 20 20 20 98
Rahmi F 9 12 20 20 14 75
Rahmizakia R 14 18 17 20 16 85
Ramadanil 19 20 18 20 17 94
Ranti 15 17 20 20 15 87
Ridho F 15 16 15 18 16 80
Rika RF 19 17 15 20 16 87
Rindang A 8 17 16 18 10 69
Ringga RP 8 19 15 20 20 82
Rizki H 14 17 15 20 14 80
Rolita EP 10 16 15 20 15 76
Roni S 16 16 17 20 20 89
Ryando P 15 16 16 20 14 81
Satria JP 20 20 20 20 20 100
Sri Danti FM 15 16 20 20 20 91
Teguh FS 12 17 20 20 14 83
Ulfa N 17 17 17 20 15 86
Wahyu Ra 19 20 20 20 20 99
Wildan R 13 17 20 20 17 87

Jumat, 01 Oktober 2010

NILAI UH 1 X.2

Daniel AN 20 20 20 20 16 96
Ega TM 15 20 16 18 20 89
Fadhila Anwar 20 20 20 18 20 98
Ferdhian A 20 15 17 18 16 86
Fidhiyah R 15 20 20 20 20 95
Fitrah F 20 10 14 18 20 82
Hafidh AP 10 14 17 18 17 76
Hanifatul H 16 14 13 20 20 83
Intan RD 20 20 20 17 17 94
M Fakhri 15 20 14 18 19 86
M Ifan A 20 20 17 16 18 91
Maritsa FG 20 14 17 17 16 84
Mentari TW 20 12 14 18 20 84
Raufa G 8 17 14 14 17 70
Reni R 20 17 13 17 20 87
Ria Evanti 20 20 14 18 16 88
Ridanofyola 16 20 20 20 17 93
Rizky F 8 20 20 15 20 83
Salmi Azizah 20 15 20 16 17 88
Winda M 20 20 16 17 20 93
Yunia PA 12 12 13 17 20 74
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Welcome

Selamat datang ke BOX saya
singgahlah
lihat-lihat apa saja hidangan yang ada dalamnya
mana tahu TUAN dan PUAN berkenan
ya download lah
terima kasih
Febrianto Ichigawa